Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Ternate, Musli Mohammad, mengatakan pihaknya terus mengawasi dan mendampingi pengelolaan sampah organik di sejumlah Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) serta pelaku usaha di Kota Ternate. Langkah ini dilakukan untuk mengurangi beban Tempat Pemrosesan Akhir (TPA).

Menurut Musli, setiap SPPG maupun tempat usaha dapat menghasilkan ratusan kilogram sampah organik dan non-organik. Salah satu contohnya yakni SPPG yang dikelola Yayasan Tunas Cahaya Trilestari di Kelurahan Marikurubu, Kecamatan Ternate Tengah. Pada April 2026, SPPG tersebut tercatat memproduksi sampah sebanyak 697,35 kilogram.

Dari jumlah itu, sampah organik mendominasi dengan total 609,35 kilogram, termasuk 568,9 kilogram sisa makanan. Sementara sampah non-organik tercatat sebanyak 88 kilogram selama April 2026.

Musli mengatakan, SPPG lainnya juga terus didampingi dan dibina agar mampu mengelola sampah secara mandiri serta melaporkan produksinya setiap bulan. Namun, data sampah dari sejumlah SPPG lain masih dalam tahap validasi.

“Jadi, sisa makanan itu tidak hanya di pasar. Di Ternate ini banyak SPPG yang dalam satu hari bisa menghasilkan cukup banyak sisa makanan. Karena itu kami melakukan pendampingan dan pembinaan terkait pengelolaan sampah,” kata Musli kepada reporter Kadera.id, Senin, 25 Mei 2026.

Ia menilai, pendampingan dan pembinaan bagi pihak SPPG, pelaku usaha, maupun masyarakat sangat penting dalam pengelolaan sampah, mulai dari memilah, mengurangi, hingga mendaur ulang sampah agar tidak menambah beban TPA.

Selain pengelolaan sampah, DLH juga memberikan edukasi terkait pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (LB3).

“Ini untuk mengedukasi bagaimana pengelolaan limbah cair, pembuatan izin pembuangan limbah cair (IPLC), hingga proses pengurusan izin TPS LB3,” ujarnya.