SAYA hampir tak sabar ingin mengoleksi buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar (2025), karya terbaru Nukila Amal, saat flyer promosi melintasi laman media sosial. Penasaran, tentu saja, karena nama besar Nukila. Terlebih karena ia orang Maluku Utara, yang namanya menterang di kanca sastra Indonesia, bahkan dunia. Apalagi, setelah jeda hampir 10 tahun, Nukila baru muncul dengan karya terbarunya.

Saya memang tidak langsung memesan karya tersebut saat masih dalam edisi bertandatangan penulis. Selain bukan tipe yang gandrung mengejar buku berlabel tandatangan, saya menghitung biaya pengiriman ketika memesan langsung ke penerbit. Karena itu, saya perlu menunggu teman ke Jakarta, atau yang di Jakarta balik ke Ternate, agar bisa menitip buku sehingga terhindar dari biaya pengiriman.

Kebetulan, beberapa hari lalu ada teman yang ke Jakarta, saya memesan buku itu via online dan dititipkan kepadanya. Setelah tiba di Ternate, saya butuh waktu hampir seminggu menyelesaikan bacaan novel dengan ketebalan 229 halaman ini, di tengah-tengah kesibukan kerja. Saat membaca, saya masih terbawa dengan jejak narasi karya-karya Nukila sebelumnya, yang selalu menulis dengan latar Maluku Utara.

Setidaknya, lewat buku yang pernah saya baca, seperti Cala Ibi, yang telah diterjemahkan dalam empat bahasa asing. Juga kumpulan cerpen Laluba, yang telah membawa Nukila mendapat Penghargaan Sastra Badan Bahasa, Kemendikbud (2008) dan Buku Sastra Terbaik dari Majalah Tempo (2008). Ditambah buku cerpen Smokol, dengan latar cerita Manado, memperoleh cerpen terbaik Kompas (2008).

Namun di luar dugaan, dalam novel ini, Nukila bercerita seorang penulis bernama Juna. Ia tinggal di Jakarta. Juna punya ambisi besar menyelesaikan sebuah mahakarya tentang cerita Samaratungga, maha raja yang membangun Candi Borobudur di Jawa Tengah.

Buku Ikhtiar yang Tak Benar-Benar karya Nukila Amal. Diterbitkan oleh Gramedia pada Agustus 2025.

Delapan tahun Juna menghabiskan waktu, mengumpulkan bahan: datang ke perpustakaan, wawancara ahli, tapi buku tersebut tak pernah benar-benar terwujud. Kebiasaan menunda-nunda pekerjaan menjadi penyebab mimpi melahirkan karya terbaik tersebut tak pernah jadi kenyataan. Dari sinilah konflik menjalar, terutama di antara ia dan istrinya: Kin. Juna merasa Kin jadi penyebab kegagalan penulisan bukunya. Sementara, Kin merasa lelah dengan suami yang selalu menunda-nunda pekerjaan.

Setelah membaca novel ini, mungkin karena pengaruh dari karya-karya Nukila sebelumnya, membuat saya membayangkan tokoh Juna itu tinggal di Ternate, lalu punya ambisi besar menulis sebuah mahakarya tentang raja-raja di Maluku (Utara), sebut saja Babullah (1528-1583)–Sultan Ternate, sang penguasa 72 pulau itu. Atau, menulis tentang Nuku (1738-1805), Sultan Tidore, yang disebut-sebut sebagai pahlawan nasional yang tak pernah kalah melawan penjajah, itu.

Namun, cerita telah terlanjut berkisah raja Jawa yang lebih dulu besar dalam narasi sejarah Indonesia. Bahkan, kultur menulis yang jauh lebih maju di Jakarta, juga hidup dalam novel itu, ketimbang menghidupkan seorang tokoh cerita di Maluku Utara yang punya ambisi menulis mahakarya tersebut. Meski pada akhirnya, ambisi menulis raja Jawa itu tak benar-benar terwujud.

Sebuah harapan kemudian muncul, novel terbaru Nukila Amal ini bisa didiskusikan di Ternate. Sebab, selain menambah wawasan kesastraan, kehadiran Nukila menjadi inspirasi bagi banyak penulis muda di Maluku Utara. Apalagi, belakangan minat baca, termasuk diskusi karya sastra mulai sepi di Ternate, kehadiran Nukila Amal, akan menjadi oase di tengah kegersangan diskursus pengetahuan yang mulai sumpek dengan konten-konten pencitraan kepala daerah.


Penulis aktif di komunitas literasi di Ternate. Kini mengajar media dan jurnalisme di UnibrahÂ