PADA hari-hari menjelang peringatan hari bersejarah, orang-orang rIbut dipicu nama Soeharto. Mereka tidak rela bila Soeharto disahkan sebagai pahlawan oleh rezim Prabowo-Gibran. Pengumuman belum ada tapi masa lalu lekas meledak. Yang hidup pada masa Orde Baru merasakan “pengkhianatan” atas gerakan dan amanat 1998. Yang melek sejarah mengaku sangat marah. Apa yang bermasalah dengan Soeharto?
Babak sejarah bertahun 1998 itu “belum lama” bagi orang-orang yang ingin mengerti Indonesia. Pada saat kerancuan sejarah terus bergulir, usulan Soeharto menjadi pahlawan seperti petaka yang memicu orang susah tidur dan gagal makan. Kesakitan sejarah menjalar meski deretan argumentasi mudah ditampik oleh penguasa.
Situasi yang sulit. Kita mungkin kangen Gus Dur, Cak Nur, dan Cak Nun. Mereka sudah tiada tapi pengisahan mereka tentang Soeharto tetap bergejolak di Indonesia. Gus Dur yang dianggap “dimusuhi” Soeharto tetap saja “akrab” dan mencipta humor-humor yang menghasilkan tawa tanpa bisa dilarang oleh Soeharto.
Cak Nur yang kalem dalam penampilannya tapi “kukuh” dalam pemikiran-pemikirannya mampu mengisahkan Soeharto tanpa makian atau hujatan. Cak Nun, sosok yang berani melawan selama Orde Baru, berani menunjukkan kasih saat hadir dalam epilog Soeharto. Ia malah mengajak orang-orang berdoa saat Indonesia goncang dan Soeharto tamat dari kekuasaan. Apa yang membuat tiga tokoh itu mengantar kita mendekati dan mengenali Soeharto?
Kini, kita masih bersama Cak Nun (Emha Ainun Nadjib). Pada usia tua dan sakit, kita sebenarnya masih menantikan kata-katanya. Dulu, Cak Nun yang melimpahi Indonesia dengan tulisan-tulisan, disempurnakan omongan di pelbagai seminar dan kesibukan dalam pengajian-pengajian.
Cak Nun tidak bosan-bosannya mengisahkan dan menjelaskan Indonesia, yang bertokoh utama Soeharto. Namun, Cak Nun tidak dalam ketagihan (tema) Soeharto. Yang membaca tulisan-tulisanya menemukan Soeharto yang tampak atau penyembunyian agar Indonesia itu keutamaan.
Pada 1982, Cak Nun menulis puisi berjudul “Belajar Tidak”. Kita ingat rezim Orde Baru dibentuk dengan kepatuhan dan “membebek”. Orang-orang dininta menjawab “ya” atau mufakat atau menganggukan kepala atas semua kebijakan rezim Orde Baru. Yang memilih dan menjawab dengan “tidak” bisa dianggap melawan konstitusi, mengkhianati Pancasila, dan menodai GBHN.
Pada masa lalu, “tidak” itu menentukan pembesaran kekuasaan Soeharto dan ampuhnya Orde Baru.
Cak Nun menulis: Pemimpin kami amat pintar/ membendung segala tidak/ dari mulut kami/ yang dibilang pengkhianat. “Tidak” terdapat dalam kamus-kamus. Namun, “tidak” bila dituliskan dan diucapkan dalam geliat politik, petaka-petaka bisa berdatangan. Yang dibutuhkan Soeharto adalah kepatuhan. Soeharto tidak ingin ada bantahan, cengengesan, dan pengingkaran.
Orde Baru mengandug “tidak” tapi sering dikalahkan oleh persekutuan “ya”, yang merujuk segala omongan dan perintah Soeharto. Konon, paksaan “ya” agar Indonesia makmur, sejahtera, maju, mulia, dan lain-lain. “Tidak” adalah gangguan dan penghinaan.
Kita Kembali ke larik-larik buatan Cak Nun saat masih muda: Kiranya guru kami ialah/ kata tidak itu sendiri/ Tidak/ Beratus-ratus tidak/ Beribu-ribu tidak/ Berjuta-juta tidak/ Kami ucapkan tiap pagi/ siang, sore/ dan malam harinya/ sampai bersiap merdeka/ atau gila. Yang menjawab “tidak” dan percaya kebenaran sadar bakal gagal dan kalah. Penganut “tidak” pun mudah mendapat hukuman dan sirna tanpa wasiat-wasita.
“Ya” itu jawaban baku di ruang-ruang kekuasaan. Mereka yang memilih “ya” berarti mengetahui keselamatan dan peruntungan selama Soeharto berkuasa.
Di pihak berbeda, orang-orang yang memilih “tidak” demi keanggunan demokrasi, penghancuran korupsi, kebenaran sejarah, dan khayal masa depan, menyadari nasib tidak untung. “Tidak” artinya berbeda dari kamus-kamus. Yang mengatakan “tidak” di depan penguasa itu musuh atau pengkhianat saat Indonesia bermimpi pembangunan nasional.
Kini, kita belajar lagi tentang kekuasaan dan waktu. Dulu, Soeharto dibenci dan dimusuhi. 1998 menjadi tahun terpenting atas nasib penguasa yang durasinya terlalu lama di Indonesia. Kebencian terus membesar meski para pemuja dan pembela Soeharto tetap bertahan. Yang berada di kubu Soeharto mengerti bahwa semuanya bakal ditentukan oleh waktu, bukan buku-buku sejarah, kumpulan berita, atau hasil seminar.
Waktu yang dinantikan itu datang setelah pergantian presiden-presiden. Waktu memang jawaban tapi “benar” dan “salah” tetap harus dirumuskan bersama lewat debat, demonstrasi, petisi, atau doa bersama. Apakah “waktu” memang untuk Soeharto mumpung Prabowo Subianto berkuasa?
Pada 1993, Cak Nun menggubah puisi berjudul “Waktu”. Ia menceritakan banyak hal tapi kekuasaan tetap menjadi perhatian. Cak Nun mungkin mau membuat definisi: “Soeharto adalah waktu”. Di puisi, kita membaca: Waktu bersikap amat mengalah kepada sejarah, kepada/ para penguasa yang kehilangan rasa bosan atas/ kekuasaannya karena sesudah seribu penguasa luluh/ menjadi tanah busuk. Waktu tak berkurang suatu apa/ Ilmu pengetahuan manusia mulai diejeknya dengan bahasa/ yang sangat bisu dan sabar, meskipun kesombongan/ peradabanmu sudah sangat memuakkannya.
Pada masa penuh ancaman dan larangan, Cak Nun tetap sanggup memberi puisi-puisi yang terbaca sebagai geliat zaman setelah tahun-tahun berlalu dan Orde Baru adalah nostalgia.
Kangen kita kepada Cak Nun belum rampung saat hari-hari yang mendebarkan sudah dekat. Kita bakal menjadi saksi dari ledakan sejarah atau redup yang tiba-tiba. Soeharto masih tema yang besar, yang tidak bisa hanya diladeni jawaban “ya” atau “tidak”.
Kita akhiri dengan kutipan berasal dari “Ibu, Tamparlah Mulut Anak-Anakmu” yang ditulis Cak Nun pada 1985. Ia menguak diri di hadapan ibu. Yang ditulisnya adalah ibu yang melahirkan dan mengasuh. Yang disebutnya ibu adalah Indonesia. Pada masa Orde Baru, ia menginsafi kekalahan-kekalahan yang ditanggungkan kaum sibuk bersastra dan berilmu, yang sempat punya keberanian mengatakan “tidak”.
Cak Nun sambat dan berharap: Syair tidak bertanya kepada penyairnya/ Ilmu tidak menguak ilmiawannya/ Pembicaraan tidak menuntut/ pembicaranya. Tulisan tidak meminta/ bukti hidup penulisnya. Ide tidak/ kembali kepada para pelontarnya.
Pada babak yang melelahkan dan akhiran, Cak Nun menulis dengan kerelaan: Ibu yang duduk di hadapanku, ini/ adalah kritik anak-anakmu sendiri… Ibu, tamparlah mulut anak-anakmu. Tamparan ibu adalah kasih sekaligus peringatan yang mengandung hukuman. Tamparan yang memberi petunjuk dan cerah demi Indonesia.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.