INDONESIA ditegakkan dengan kata-kata. Kita meyakininya saat membuka lembaran-lembaran sejarah. Yang paling meriah adalah awal abad XX. Orang-orang membuat tulisan-tulisan, yang mengarah ke pembentukan, pemuliaan, pengisahan, dan pembayangan Indonesia. Beragam jenis tulisan dihasilkan orang-orang Indonesia yang terpelajar atau terpikat keaksaraan. Mereka dalam deru modernitas, yang menjadikan tulisan adalah “suara”, “pukulan”, “belaian”, “tendangan”, dan lain-lain.

Ada tulisan-tulisan yang masih terus terbaca sampai sekarang. Kita membaca silam melalui tulisan Tirto Adhi Soerjo, Marco Kartodikromo, A Rivai, HOS Tjokroaminoto, Tan Malaka, Abdoel Moeis, Hatta, Sjahrir, Roestam Effendi, Adinegoro, dan lain-lain. Mereka memberi beragam tulisan, yang dampaknya mengakar di Indonesia.

Tulisan-tulisan lama kadang tidak mudah dibaca. Tulisan yang berbahasa Belanda dan Melayu (Indonesia) memerlukan keterangan-keterangan sezaman agar pembaca tidak salah, meragu, dan tersesat. Segala keterangan berkaitan dengan biografi dan sejarah, yang pembaca menempatkannya sebagai latar.

Di majalah Tempo edisi 25 Mei 2008, redaksi memilih 100 teks yang merekam perjalanan Nusantara atau Indonesia. Redaksi dan para ahli menyeleksi ribuan teks, yang pernah terbit di Indonesia, sejak ratusan tahun yang lalu. Teks-teks itu terbaca dan “terpilih” dalam mengerti arus Indonesia.

Di nomor 7, 8, dan 9, kita mendapatkan tiga buku yang ditulis Tan Malaka: Massa Aksi, Madilog, dan Dari Pendjara ke Pendjara. Tan Malaka membuat banyak tulisan. Tiga itu yang dianggap membuktikan pengaruh dalam sejarah Indonesia. Tulisan-tulisan yang membawakan tanggapan atas kolonialisme dan kapitalisme.

Yang ditulis di Tempo menjadi pengantar: “Tan Malaka memang bermimpi tentang republik, suatu gagasan politik yang dibayangkannya muncul setelah kehancuran kolonialisme di Tanah Air. Lebih jauh, dia memimpikan Indonesia lewat bukunya Naar de Republiek Indonesia. Risalah itu sebetulnya dibuat sebagai pedoman aksi komunis…” Pada masa 1920-an, Tan Malaka dalam pergolakan dan dilema.

Tan Malaka bukan pemegang bedil atau senjata. Ia menggerakkan kata-kata, yang nantinya menimbulkan perlawanan-perlawanan di tanah jajahan. Sosok yang percaya kemanjuran kata-kata dan menghendaki perbuatan-perbuatan demi Indonesia.

Selanjutnya, kita meneruskan membaca penjelasan di majalah Tempo, yang mementingkan Tan Malaka dan kata: “Kendati kisah hidupnya menyimpan banyak misteri, tidak dengan karya intelektualnya. Sejak terjun ke dunia politik pada 1921 hingga kematiannya yang misterius pada 19 Februari 1949, sudah beberapa buku lahir dari tangannya, di antaranya Menuju Republik Indonesia (1925), Massa Actie (1926), Madilog (1943), dan Dari Pendjara ke Pendjara (1943).

Apakah buku-buku cetakan pertama masih ada dan tersimpan? Kita tidak tahu. Dugaan yang baik: buku-buku masih ada di Belanda, Amerika Serikat, Perancis, Australia, Inggris, atau Perpustakaan Nasional (Indonesia). Yang kita baca adalah cetak ulang oleh beragam penerbit. Mereka mengadakan edisi yang mengubah ejaan dan memberi catatan-catatan. Artinya, Tan Malaka tetap dan terus terbaca tapi dalam terbitan yang berbeda dengan citarasa masa kolonial.

Pada 2023, Kakatua menerbitkan lagi Tan Malaka: Menuju Republik Indonesia. Yang membaca seperti kembali ke sejarah. Buku yang ada di tangan adalah buku berkemasan baru, yang mengingatkan bahwa tulisan Tan Malaka sudah berumur 100 tahun. Tulisan yang umurnya tua ketimbang Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada masa lalu, Tan Malaka menyampaikan: “Kelahiran suatu pikiran sering menyamai kelahiran seorang anak. Ia didahului dengan penderitaan-penderitaan pembawaan kelahirannya.” Dua kalimat yang mengesankan Tan Malaka sangat memulikan perempuan, yang hamil dan melahirkan.

Risalah yang dicetak seabad lalu itu memiliki kekurangan-kekurangan, yang sudah diakui Tan Malaka: “Percetakan mereka mempunyai persediaan huruf Latin yang sangat sedikit.” Ia memahami bahwa peredaran bacaan memerlukan kesaktian mesin cetak. Namun, ia mengerti keterbatasan mesin cetak, yang diharapkan membuat pikiran-pikirannya bisa bergerak jauh.

Buku berhasil diterbitkan dengan segala kekurangan. Buku yang diminati banyak orang, yang mengakibatkan cetak ulang. Keterangan dari Tan Malaka: “Kami merasa khawatir, ketika kami mengirimkan buku yang dicetak di Canton kepada pemesan-pemesan Indonesia. Kami takut bahwa buku yang tampaknya tak indah itu akan melukai rasa seni sastra intelektual-intelektual kita yang biasa membaca buku berbahasa Belanda. Tetapi itu adalah baik bagi kesadaran politik saudara-saudara kita yang lebih muda, agar mereka tidak kecil hati menghadapi barang sesuatu yang hanya indah tampaknya saja. Permintaan-permintaan akan buku ini yang makin banyak jumlahnya yang dikirimkan kepada kami, memberi bukti nyata bahwa kami telah dapat menawan hatinya. Inilah yang mendorong kami untuk mencetak lagi…”

Kita diajak mengingat masalah mencetak buku. Tan Malaka yang sudah membuat pertimbangan saat buku ada di tangan atau pangkuan pembaca. Ia tidak muluk-muluk untuk dapat menghasilkan buku dengan hasil cetak yang bagus. Ia malah melakukan “kritik” atas hasrat buku yang indah.

Tan Malaka sebagai pembaca banyak buku pasti paham buku-buku yang bermutu. Ia terpaksa berpikiran tentang wujud saat mengetahui ada keterbatasan dan kekurangan. Buku yang tampilannya tidak indah tetap saja diharapkan peara pembaca. Buku yang terbukti berpengaruh dalam arus pembentukan Indonesia.

Kita mengutip sedikit isi dari buku, yang menampilkan angan mulia tentang Indonesia yang beradab. Tan Malaka mengusulkan: “Wajib belajar bagi anak-anak semua warga negara Indonesia dengan cuma-cuma sampai umur 17 tahun dengan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar dan Bahasa Inggris sebagai bahasa asing yang terutama.” Yang diinginkan Tan Malaka itu sulit terwujud di Indonesia meski kebijakan-kebijakan pelbagai rezim menghendaki “wajib belajar” dan berseru “pendidikan gratis”. Seratus tahun yang lalu, Tan Malaka terlalu serius memikirkan pendidikan. Hal yang niscaya gara-gara ia memang guru untuk rakyat.

Pada 2025, kita tidak memiliki kewajiban membuat peringatan seabad Menuju Republik Indonesia. Kita sedang disusahkan dengan banyak hari peringatan dan masalah-masalah yang terus bermunculan di Indonesia. Kita membuat peringatan dalam angan saja sambil memikirkan “gratis”. Apakah “gratis” dalam urusan makanan oleh pemerintah pernah terpikirkan oleh Tan Malaka?

Dulu, tokoh itu memikirkan pendidikan gratis. Ia belum kepikiran bahwa urusan makan bergizi gratis bakal mengurasi keuangan negara atas nama pendidikan. Yang masih (mau) membaca buku berjudul Menuju Republik Indonesia mungkin kecewa mengetahui hal-hal setelah Indonesia merdeka dan rezim-rezim berganti tanpa perwujudan yang indah-indah.


Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia