WAJAH Wiji Thukul dan deretan aktivis korban rezim Orde Baru terpampang di kain hitam di sebuah dinding bangunan. Malam itu, Rabu 28 Januari 2026, saya datang ke sekretariat LPM Mimbar Universitas Tanjunpura, bersama Lulu Van Salimah–teman saya di kelas kursus Jurnalisme Narasi XXVIII Pontianak. Kursus jurnalisme narasi adalah program rutin Yayasan Pantau sejak 2004 untuk meningkatkan mutu jurnalisme di Indonesia.
Lulu aktif di pers mahasiswa dan juga di Suar Asa Khatulistiwa (Saka), organisasi yang bergerak di isu kebhinekaan dan hak asasi manusia di Pontianak. Di luar itu, dia masih sibuk jadi mahasiswi tingkat akhir di Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak.
Beberapa menit saat kami tiba, suasana masih sepi. Hanya tampak caffe truck merah terparkir di depan. Perangkat sound system sudah berdiri, tapi orang-orang masih santai duduk lesehan di atas baliho bekas. Beberapa buku di atas meja, bacaan bagi siapa saja yang berkunjung. Malam itu akan ada “Malam Berpuisi” bersama Wahyu Susilo, adik kandung Wiji Thukul. Thukul adalah seorang aktivis sekaligus penyair yang cukup keras menentang rezim Orde Baru Soeharto.
Bagi Wahyu dan para aktivis di Pontianak, acana ini bukan sekadar baca puisi. Ini semacam napak tilas. Wiji Thukul di masa pelariannya dari kejaran Orde Baru, pernah bersembunyi di kota ini. Dalam buku Wiji Thukul: Teka-teki Orang Hilang (2013) menyebutkan ia tiba di Bandara Supadio pada akhir Agustus 1996. Ia sempat pulang ke Solo pada akhir Januari 1997, lalu kembali lagi ke Pontianak sebelum akhirnya menuju Jakarta pada akhir Maret 1997.
Saya sedang mengobrol dengan Andi Muhammad Muslim dari Yayasan Saka ketika orang-orang mulai ramai berdatangan. Wahyu muncul dengan topi hitam, kaos merah, dan celana cokelat muda. Awalnya ia duduk di kursi lipat hitam tepat di belakang penonton. Begitu namanya dipanggil, ia maju ke depan mengisi diskusi.
Wahyu bercerita tentang “Kang Mas”–panggilan untuk Wiji Thukul, yang sudah 28 tahun hilang entah di mana rimbanya. Pertemuan terakhir mereka terjadi pada Agustus 1997. Tak lama setelah itu, penculikan aktivis oleh Tim Mawar Kopassus terjadi. Dalam huru-hara menjelang keruntuhan Soeharto pada Mei 1998, Thukul turut lenyap.
Menurut Wahyu, kakaknya itu bukan cuma seorang penyair. Ia juga seorang penari, pernah di Sekolah Menengah Karawitan Indonesia (SMKI) jurusan tari, namun harus di-dropout pada tahun 1982. Setelahnya, Widji memutuskan untuk berjualan Koran hingga bekerja di sebuah perusahaan mebel antik sebagai tukang pelipur.
Wiji juga seorang humoris sekaligus lantang mengkritik rezim Soeharto. Di era 1980-an, Thukul sering beli perangko bergambar Soeharto yang paling murah supaya bisa kirim puisi ke banyak koran. Suatu hari ia mengajak Wahyu ke kantor pos dan bilang akan menunjukkan “seseorang yang berani pada Soeharto”. Wahyu, saat itu, masih SMA, mengira akan dikenalkan pada aktivis nekat. Ternyata yang dimaksud adalah tukang pos yang memukul stempel tepat di wajah Seoharto di perangko.
“Biar perangkonya berlaku, kan, harus memukuli gambar Soeharto. Jadi, dia [tukang pos] mukuli gambar Soeharto,” kata Thukul waktu itu, menurut Wahyu mengenang Kang Mas-nya. “Ini orang yang berani, kan? Orang yang masih berkuasa saja dia pukuli.”
Puisi-puisi Thukul lahir dari realitas sosial yang ia jalani sendiri. Ia memiliki nama lahir Widji Widodo yang lahir pada 26 Agustus 1963 di Kampung Sorogenen, Solo, Jawa Tengah. Wiji anak tertua dari tiga bersaudara. Ayahnya seorang tukang becak.
Menurut Wahyu, tetangga mereka di kampung ada pekerja seks, buruh pabrik, dan juga banyak pengangguran. Itu yang membuat Wiji jadi penyair karena, “kemiskinan dialami sendiri.” Wiji sudah mulai menulis puisi ketika masih duduk di bangku sekolah dasar (SD) dan mulai tertarik pada dunia teater ketika di sekolah menengah pertama (SMP).
Pada 17 Agustus 1982, saat orang-orang membaca puisi heroik seperti Chairil Anwar, Thukul malah membacakan puisi spontan berjudul “Kemerdekaan”, isinya: Kemerdekaan adalah nasi, dimakan jadi tahi. Suasana langsung panas.
“Dari membaca puisi itu kemudian langsung digelandang dan diinterogasi. Karena menyamakan kemerdekaan dengan tahi itu, kan, kurangajar. Itulah seingat saya awal mula Thukul berurusan dengan aparat,” cerita Wahyu.
Tahun-tahun berikutnya, Thukul ikut mengorganisir buruh pabrik Sritex, perusahaan tekstil dan garmen di Sukoharjo. Ia salah satu tokoh penting yang terlibat dalam aksi demonstrasi buruh Sritex pada 11 Desember 1995. Ketika itu, Thukul bersama Dita Indasari dan Budiman Sujatmiko, yang diorganisir oleh Persatuan Rakyat Demokratik (PRD), Solidaritas Mahasiswa untuk Demokrasi, dan Pusat Perjuangan Buruh Indonesia (PPBI).
Aksi itu melibatkan sekitar 14 ribu hingga 15 ribu buruh yang menuntut kenaikan upah, cuti haid bagi buruh perempuan, perbaikan kondisi kerja, serta penghapusan sanksi gaji bagi yang tidak masuk kerja tanpa alasan.
Demonstrasi besar itu tak dihiraukan pemerintah. Pentolan aktivis ketika itu Ketua PRD Budiman Sujatmiko dan Ketua PPBI Dita Indasari ditangkap. Wiji Thukul, Ketua Jaringan Kerja Kesenian Rakyat (JAKKER), disiksa aparat. Ia dipukuli dengan popor senjata tentara hingga mata kanannya hampir buta. Setelah peristiwa itu, Thukul harus bolak-balik berobat di RS Mata Dr. Yap di Yogyakarta.
“Di masa Orba, demonstrasi adalah sesuatu yang tabu. Kita waktu itu, mungkin hampir sekitar 25 orang pemuda yang pernah ditangkapi,” kata Wahyu.
Wahyu cerita, protes menetang rezim Soeharto terus dilakukan, termasuk di kampung. Ketika kampung mereka terpilih sebagai salah satu finalis lomba, tembok-tembok yang dianjurkan bersih dan dicat putih, pemuda kampung berkeliling malam hari dan mencoret-coret tembok. Sampah dihambur-hamburkan di jalanan.
“Tapi kemudian kami juga punya takut gitu yah. Pagi-pagi kami sembunyi. Itu yang kemudian juga bikin heboh,” ucapnya.
Sebelum melanjutkan cerita, Wahyu membacakan puisi Thukul berjudul Kenangan Anak-anak Seragam. Puisi ini menggambarkan mengenai wacana reformasi dalam dunia pendidikan. Begini penggalan puisi itu: pada masa kanak-kanakku/aku jadi seragam/buku pelajaran sangat kejam/aku tidak boleh menguap di kelas/aku harus duduk menghadap papan di depan/sebelum bel tidak boleh mengantuk/tapi/hari ini/setiap orang boleh memberi pelajaran/dan aku boleh mengantuk.
“Dia makin berisik dan kemudian punya nuansa pemberontakan ketika berinteraksi dengan teman-teman buruh, serikat buruh, mahasiswa, seniman antarkota,” terang Wahyu usai membaca puisi ini.
Wahyu berkata, setelah peristiwa 27 Juli 1996 atau dikenal Kudatuli, hidup Thukul berubah total. Para aktivis PRD diburu, termasuk seniman ini. Mereka jadi sasaran operasi Orde Baru karena dianggap pendukung PDI Megawati. Thukul berpindah dari satu kota ke kota lainnya: Wonogiri, Yogjakarta, Salatiga, Jakarta, Bogor, Tangerang, Bandung, lalu akhirnya ke Pontianak.
***
DI PONTIANAK, Thukul memakai nama samaran: Paulus, atau Paul. Ia datang bersama Boy Frido dan dijemput Stepanus Djueng yang saat itu sebagai Direktur Lembaga Bela Benua Talino (LBBT) menggunakan mobil Daihatsu Taft hijau. Ia sempat menginap di beberapa rumah: Djueng, Darlip (alumnus Untan), Thomas Daliman, lalu cukup lama di rumah Martin Siregar di Sungai Raya Dalam, Kabupaten Kubu Raya. Di rumah terakhir itu, Paul merasa lebih tenang. Rasa curiganya berangsur-angsur mereda.
“Sepertinya di sini merasa nyaman. Bang Paul tak ada tanda-tanda masih paranoid,” kata Idawaty, istri Martin Siregar, dikutip dalam buku Wiji Thukul: Teka-teki Orang Hilang (2013).
Meski bersembunyi, ia terus menulis. Banyak puisi lahir pada periode Pontianak. Dalam Nyanyian Akar Rumput: Kumpulan Lengkap Puisi Wiji Thukul (2014), misalnya, “Merontokkan Pidato”, “Buron”, “Momok Hiyong”, “Terus Terang Saja”, hingga “Malam di Kota Khatulistiwa” yang ditulis September-Desember 1996. Dan puisi “Kemarau”, Rumput Ilalang”, hingga “Puisi Menolak Patuh” ditulis pada bulan Januari 1997. Ini rentang waktu saat masa ia tinggal di Kota Khatulistiwa itu.
Wahyu kini mencoba menelusuri lagi jejak-jejak itu. Mei 2025 lalu, ia sampai ke Singkawang dan menyisir pelabuhan kecil di sekitar Sambas. Ia menduga dari sanalah Thukul pernah menumpang kapal barang ke Jakarta tanpa lewat pelabuhan yang ramai.
“Enggak berani saya dari pelabuhan yang banyak orangnya,” begitu kata Thukul kepadanya dulu.
Beberapa saksi sudah wafat. Tapi Wahyu masih mencoba menghubungi yang tersisa, termasuk Thomas Daliman. “Saya dapat nomor teleponnya. Saya WhatsApp dia, tapi ponsel dipegang oleh anaknya. Saya baru bisa berkomunikasi langsung dengan dia nanti di hari Jumat,” tuturnya.
Warisan perlawanan Thukul pada generasi muda Pontianak
Bagi orang-orang muda Pontianak hari ini, nama Wiji Thukul akan selalu hidup. Regi Hervianto dari Yayasan Saka bilang, diskusi seperti ini penting untuk merawat ingatan dan keberanian. Apalagi, katanya, hari-hari ini aktivis lagi-lagi menghadapi tekanan: diburu dan menjadi tahanan politik.
“Sebuah refleksi dari narsum kita hari ini bahwa jangan pernah takut dalam dunia yang isinya tempat-tempat berdiskusi,” jelas Regi.
Selepas bercerita, Wahyu beberapa kali berdiri membaca puisi. Salah satunya “Apa yang Berharga dari Puisiku”. Ia juga cerita bagaimana Thukul dulu akrab dengan pers mahasiswa. Puisinya jarang dimuat media besar, tapi sering terbit di pers mahasiswa. Bahkan ia pernah disembunyikan mahasiswa Universitas Sebelas Maret setelah puisinya memelesetkan “Indonesia Emas” jadi “Indonesia Cemas”.
Di Untan sendiri beredar cerita lama, Thukul pernah singgah di sekretariat LPM Mimbar Untan. Tidak ada bukti pasti, tapi kisah itu hidup sebagai cerita turun-temurun. Sejarah pers mahasiswa Untan memang panjang, dari media bentukan rektor sampai akhirnya benar-benar dikelola mahasiswa pada 1990-an. Semangat melawan lewat tulisan terasa sejalan dengan jejak Thukul.
“Kayak joks internal: sekret kita itu pernah kedatangan Wiji Thukul. Biasa karena nafasnya sama melawan dengan tulisan. Memang di sekitar tahun 2016, majalah kita pernah ada yang menuliskan soal perjalanan Wiji Thukul,” kata Dedek Putri Mufartoha, alumni LPM Mimbar Untan.
Malam semakin larut saat saya dan Lulu pulang naik motor ke arah kawasan Gajah Mada, Pontianak Selatan. Jalanan sudah sepi. Saya sempat tanya lagi soal cerita Thukul di sekretariat LPM.
“Sekretariatnya sudah pernah pindah,” kata Lulu. “Enggak tahu sekretariat yang mana.”
Jejak itu mungkin tak pernah benar-benar utuh, tapi potongan ceritanya masih beredar, di puisi, di ingatan, dan di obrolan malam seperti ini.[]

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.