Oleh: Juliyanti Umabaihi
Uang sering disebut sebagai raja dunia. Mungkin karena uang memiliki kekuasaan besar dalam kehidupan manusia, dan setiap saat tidak bisa dilepas-pisahkan, mulai dari ketika mata terbuka sampai tertutup, uang yang selalu dipikirkan. Begitupun saat orang bekerja dari pelbagai macam profesi, tetap tujuannya untuk mendapat upah, yaitu uang.
Mau bersekolah, makan, mempunyai pakaian, jalan-jalan dari satu tempat ke tempat yang lain, dan masih banyak aktivitas lainnya, tetap membutuhkan uang. Bahkan, sekarang buang hajat sekalipun, membutuhkan uang. Jadi, uang memiliki berjuta manfaat.
Di kampung saya, Desa Kou, Kepulauan Sula, selain menggunakan sebagai alat tukar, mereka juga menggunakan uang sebagai obat yang diusap pada bayi maupun anak-anak. Tak heran, anak usia 5-6 tahun, di kampung dominannya sudah bersentuhan langsung dengan uang. Apalagi saat musim cengkeh, mereka berlomba-lomba mencari uang untuk membeli handphone, pakaian, peralatan sekolah dan sebagainya.
Saya pertama kali mengenal uang di usia tujuh tahun. Saat itu, ketika saya disuruh oleh papa untuk mengambil rokok di kios kami. Ketika saat mengambilnya di rak yang terletak di pojok kios, saya tidak sengaja melihat lemabran-lembaran kertas bermacam warna yang terletak di atas meja. Kemudian saya tanya kepada papa, “Apa itu?”
“Uang,” jawab papa saya kala itu.
Mendengar jawaban tersebut, saya semakin gencar menghujani blio dengan pelbagai macam pertanyaan. Saat itu, papa juga memberi tahu saya tentang jenis dan fungsi dari uang.
Setelah mengetahui hal tersebut, saya selalu minta upah kepada papa dan mama ketika mereka sering menyuruh saya menjaga kios, atau mengerjakan sesuatu. Saya sering diberi uang seribu, dua ribu hingga sepuluh ribu. Namun, setelah mengetahui uang seratus ribu yang nominalnya lebih besar, saya tidak lagi pernah mengambil uang pemberian mereka, selain uang seratus ribu.
Saya terlahir sebagai anak bungsu dalam keluarga. Banyak orang yang bilang bahwa anak bungsu biasanya dimanjakan. Mungkin karena mereka beranggapan bahwa perhatian dan kasih sayang lebih tercurahkan kepada anak bungsu sebagai anak penutup kasih sayang.
Hal itu mungkin saja benar, karena sebagai anak bungsu, saya termasuk mengalaminya. Sewaktu kecil, saya selalu dimanjakan dengan uang dan diberikan perhatian lebih oleh papa. Kehidupan keluarga kami memiliki ekonominya yang kecukupan. Papa saya memiliki pekerjaan ganda, yaitu petani kebun, tukang bikin rumah, berbisnis hasil rempah dan juragang bodi (pemilik sekaligus motoris longboat).
Meskipun tidak berprofesi sebagai PNS, saya tetap bangga kepada papa yang bekerja keras untuk membiayai saya dan kakak-kakak. Juga kendati kami memiliki rumah sederhana, sempit, yang hanya berlantai ‘semen’, berjendela kayu dan dinding-dindingnya belum diplester, tapi tidak pernah keinginan kami yang tidak terpenuhi.
Papa dan Celengan Bocor
Suatu hari di akhir Agustus 2007, cuaca begitu gelap dan angin berhembus begitu kencang. Saya meminta papa dan mama untuk membeli celengan sama seperti milik teman, ketika mereka sedang pergi ke Sanana (ibu kota kabupaten). Permintaan itu langsung digubris, tapi dengan syarat saya tidak boleh ikut dengan mereka ke Sanana.
Dengan celengan itu, setiap hari saya selalu memasukkan uang jajan dan uang upah dari hasil mengerjakan atau mengambil sesuatu yang mereka suruh. Dalam celengan itu, saya isi dengan uang lima ratus koin, seribuan hingga lima ribuan di kios yang saya minta kepada mereka. Sebab, saya tidak pernah berani mengambil uang tanpa sepengetahuan mama dan papa yang ada di kios: atas meja maupun lemari.
Di samping menabung, saya juga sering membocorkan bagian bawah celengan untuk mengambil mengambil beberapa lembaran uang guna membeli anapencana (permainan yang berbentuk gambar barbie, boneka ataupun orang yang dibuat dari kertas).
Keesokan harinya, papa membelikan lagi celengan baru yang terbuat dari besi. Alasannya, agar tikus besar tidak membocorkan lagi, kata papa waktu itu, menatap saya sambil tertawa. Sebelum membeli celengan barunya, sempat saya memberitahukan kepadanya bahwa celengan saya bocor karena dimakan tikus dan memintanya untuk membeli baru.
Mengetahui hal itu, papa langsung menertawakan saya. Blio tahu kalau itu hanya alibi saya semata, supaya dibelikan celengan baru. Sebab, tanpa sepengetahuan saya, blio telah ketahui kalau saya yang membocorkan. “Tikus besar yang kasih bocor?” Tanya papa bercanda. Mendengar pertanyaan itu, saya langsung menangis tersedu-sedu, sampai blio memberikan saya uang seratus ribu, baru saya berhenti menangis.
Kemudian saya tidak lagi menaruh uang di celengan. Hingga pada 2010, ketika kelas tiga SD, saya kembali menabung dari hasil uang yang sengaja saya selipkan dari membantu mama menjual roti. Namun, kebiasaan sering membocorkan celengan tidak pernah lagi terjadi. Tapi, pada suatu hari, saya terpaksa membocorkan kembali untuk membeli buku-buku cerita.
Kejadian itu berawal dari melihat buku-buku cerita yang menarik yang dijual oleh seorang kakek-kakek di sekolah. Saya kemudian langsung meminta izin kepada guru piket untuk pulang ke rumah mengambil uang.
Setibanya di dalam kamar, saya segera mengambil celengan dan membocorkan sedikit lagi di lubangnya yang biasa memasukkan uang. Lalu, dengan hati-hati, saya mengambilnya menggunakan lidi, dan air mata yang bercucuran membasahi kedua pipi saya sembari berguman kata maaf kepada papa. Sebab, celengan itu merupakan pemberian terakhir papa, sebelum pergi merantau, dan pergi untuk selamnya.
Di Rantau
Setelah lulus SMP, saya berkeinginan melanjutkan SMA di kabupaten. Saat mendaftar di SMA Negeri 1 Sanana, ibu tidak mengizinkan untuk masuk di sekolah negeri tersebut. Dan, meminta saya mendaftar di Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Sebab, bersekolah di SMA 1 Sanana, kata mama, membutuhkan banyak uang. Sementara, beberapa tahun sebelumnya, keluarga saya mengalami kekurangan uang. Apalagi mama harus membiayai kakak-kakak saya yang sedang menempuh pendidikan di bangku perkuliahan.
Hidup di rantau yang jauh dari orang tua, membuat saya lebih hemat dalam mengeluarkan uang. Dalam sebulan sekali, mama selalu rutin mengirim saya uang untuk keperluan sekolah. Hal itu hanya terjadi ketika saya masih kelas sepuluh semester pertama. Karena ketika beranjak semester dua, saya meminta mama untuk sering-sering saja mengirim uang. Sebab, saya sudah memiliki uang sendiri dari hasil tabungan mengikuti kegiatan-kegiatan organisasi di luar, lomba-lomba di sekolah, dan mengerjakan tugas-tugas teman di sekolah, meskipun tidak terlalu banyak.
Itu semua saya lakukan karena merasa kasihan dengan mama yang tidak pernah istirahat. Malamnya mama begadang membuat roti untuk menghasilkan uang agar kirim kepada saya dan kakak, dan siangnya pergi ke kebun menanam sayur, ubi, dan pisang, yang sebagiannya dijual dan dikirim kepada kami.
Karena itu, walaupun kehabisan uang transport ke sekolah, saya merasa malu untuk meminta kepada mama. Dan, saya juga lebih memilih berjalan kaki, meskipun kadang kehujanan maupun kepanasan. Meski begitu, saya tidak pernah pasrah, seperti air hujan yang jatuh ke bumi. Pun semangat saya tidak pernah pudar, seperti embun yang pudar setelah pagi. []

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.