Limbah sisa daging sapi di Pasar Higienis Bahari Berkesan, Ternate Tengah, Kota Ternate, terlihat mengendap di dasar laut, pada Selasa, 9 September 2025. Meski dikhawatirkan terjadi pencemaran, tetapi praktik ini sudah berlangsung selama puluhan tahun tanpa disediakan tempat pengolahan limbah.
“Ini sudah sejak dari dulu [buang limbah ke laut], sekitar tahun 1990-an. Kalau disediakan pengelolaan limbah pasti kita ikut, tapi selama ini belum ada. Ini juga kan cuma tulang saja, buang ke pantai juga tida mengganggu,” kata AJ, seorang pedagang dading sapi kepada Kadera.
Dulu, katanya, tulang sapi masih bisa dijual, namun kini tidak lagi laku. Menurutnya, kalau ada tempat pengelolaan yang disediakan oleh pemerintah, pedagang setempat pasti ikuti. “Kalau dihitung limbah tulang sapi itu sudah mencapai berton-ton. Meski begitu, bagus kalau jadi terumbu karang. Itu kan bukan plastik, itu tulang,” tambahnya.
Muhammad Syafe’i, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Ternate, menegaskan praktik itu tidak dapat dibenarkan. Limbah apapun yang dibuang ke laut, kata dia, termasuk ikan atau tulang sapi, tetap mencemari ekosistem perairan.
“Secara teknis, limbah apa saja yang dibuang di pesisir laut, termasuk di dalamnya limbah ikan, dan limbah tulang sapi yang tidak berbau laut akan mencemari ekosistem pesisir,” jelas Syafe’i di ruang kerjanya.
Ia menjelaskan, pencemaran bisa diukur dari bau busuk dan penurunan kenyamanan lingkungan. Apalagi tidak ada sistem pengolahan limbah. Pengelolaan pasar berada di bawah tanggung jawab Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperidang) Ternate, DLH hanya berperan mengawasi secara umum.
“Kalau pasar, sifatnya ada pengelolaannya, yaitu Disperindag. Kalau ada pengaduan kita akan undang dan pertanyakan pengelolaan sampahnya seperti apa. Karena kita juga sudah siapkan kontainer di sana,” ungkapnya.
Ia menyarankan agar praktik pembuangan limbah tulang sapi ke laut segera dihentikan. Menurutnya, tulang bisa diolah menjadi pakan ternak atau kerajinan tangan. “Di Bali, tulang sapi dijadikan kerajinan. Ini harusnya Disperindag yang membina usaha kerajinan dari tulang itu,” kata Syafe’i.
Kadera mengirimkan pesan singkat kepada Nursida Dj Mahmud, Kepala Disperindag Ternate. Pesan itu tidak terbalas hingga berita ini diterbitkan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.