DI SETIAP zaman, selalu ada suara yang berbisik dari reruntuhan Bastille: bahwa kekuasaan tanpa nurani akan menua dalam kebusukan, dan keadilan yang dibungkam akan menemukan jalannya sendiri. Suara itu tidak hanya bergema di abad ke-18 Prancis, tetapi juga terasa nyata di negeri ini — dalam bentuk keheningan panjang yang diselimuti oleh kepura-puraan. 

Kita hidup di masa di mana kekuasaan semakin lihai menyusun citra, sementara rakyat semakin mahir memendam kecewa. Para penguasa menulis sejarah dengan tinta prestasi, tapi melupakan lembaran yang berisi penderitaan warganya. Di ruang publik, mereka berbicara tentang pembangunan dan kemajuan, namun di balik meja rapat, mereka berunding tentang bagaimana kekuasaan bisa diwariskan dengan aman dan mulus. 

Seperti Prancis menjelang revolusi, bangsa ini berdiri di antara harapan dan kelaparan moral. Rakyat terus diminta bersabar, seolah kesabaran adalah satu-satunya modal untuk bertahan hidup di tengah kesenjangan yang kian menganga. Padahal, sabar yang terlalu lama bisa berubah menjadi perlawanan yang sunyi — dan dari kesunyian itulah revolusi kerap lahir. Revolusi sejatinya bukan ledakan kebencian, melainkan puncak dari cinta yang terlalu lama dikhianati. 

Ketika cinta pada negeri, pada keadilan, dan pada kebenaran terus diinjak oleh kerakusan, maka kesetiaan rakyat berubah menjadi bara yang siap menyala. Setiap ketidakadilan adalah percikan api kecil, dan ketika bara-bara itu bersatu, sejarah tak lagi berjalan pelan — ia berlari, membawa gilotin bernama kesadaran. Ironisnya, banyak penguasa modern lupa membaca sejarah. 

Mereka menyangka kekuasaan bisa selamanya kokoh selama rakyat dibuat sibuk dengan kebutuhan dasar dan hiburan digital. Padahal, sejarah mengajarkan bahwa kekuasaan tumbang bukan karena lemahnya struktur, melainkan karena rapuhnya legitimasi moral. 

Ketika rakyat mulai berpikir, kekuasaan mulai goyah. Dalam konteks hari ini, “revolusi” tidak harus dimaknai secara fisik atau berdarah. Revolusi bisa dimulai dari ruang kecil: dari kesadaran untuk membaca, menulis, dan berpikir kritis. 

Dari keberanian untuk mempertanyakan kebijakan yang timpang, hingga menolak narasi tunggal yang meninabobokan logika publik. Sebab, musuh terbesar demokrasi bukan tirani, melainkan ketidaktahuan yang dipelihara oleh kekuasaan. Kita sedang hidup di masa di mana kebenaran bisa diperdagangkan, dan opini bisa dibungkam dengan buzzer. 

Namun, sekuat apapun kekuasaan mencoba menutupi kenyataan, ia tak akan mampu mengubur akal sehat selamanya. Akan datang saat di mana rakyat tak lagi percaya pada slogan, karena mereka mulai menuntut makna. Kini, tugas kita bukan menunggu revolusi, melainkan menyalakan kesadaran di tengah gelapnya kepura-puraan. Sebab bangsa yang berhenti berpikir, bukan hanya kehilangan masa depan, tapi juga kehilangan dirinya sendiri. 

Edward J. Lowell, dalam karyanya The Eve of the French Revolution, menggambarkan bagaimana kesenjangan, kemunafikan elite, dan matinya nurani penguasa menjadi bara yang melahirkan revolusi besar. Nilai-nilai itu tetap relevan hari ini: ketika kekuasaan menjadi panggung citra dan rakyat dijadikan latar, maka sejarah sedang bersiap untuk menulis ulang babak perlawanan berikutnya.[]

ARL. Kamarullah, seorang penulis independen dan pemerhati isu sosial-politik.