Gedung dua lantai Musdalifa Asrama Haji di Kelurahan Ngade, Ternate Selatan, ludes terbakar pada Selasa, 18 November 2025, sekitar pukul 10.30 WIT.

Sebanyak delapan kamar di lantai dua gedung tersebut diketahui menjadi penginapan sementara bagi peserta dari Halmahera Barat (Halbar) dan Halmahera Selatan (Halsel) yang mengikuti Open Tournament dan Festival Student Karate Championship se-Maluku Utara.

Berdasarkan informasi di lokasi kejadian, kebakaran diduga dipicu oleh korsleting listrik. Beruntung, saat insiden terjadi tidak ada peserta yang berada di lantai dua karena seluruhnya sedang menyaksikan pertandingan di gedung lain.

Ani, salah satu pedagang di Asrama Haji, mengatakan, saat kejadian ia berada di tempat jualannya yang berada tepat di belakang Gedung Musdalifa. Ia mengaku kaget ketika melihat api menyala dari lantai dua dan langsung berteriak meminta bantuan.

“Saya sementara berjualan. Lihat api langsung berteriak ke satpam. Untung tidak ada korban,” ujarnya di lokasi kejadian.

Sementara itu, Junaidi, petugas keamanan Asrama Haji, mengaku langsung menuju lantai dua setelah mendengar teriakan kebakaran. Namun, ia dan rekannya kesulitan membuka kamar yang sedang terkunci. Ia sempat mengintip melalui celah pintu dan melihat api masih kecil di salah satu kamar.

“Api hanya dari colokan dan kasur. Tapi pintu kamar tidak bisa dibuka,” katanya.

Petugas keamanan sempat mencoba memadamkan api dengan alat pemadam api ringan (APAR), namun upaya itu gagal karena api semakin membesar. Mereka kemudian menunggu kedatangan tim pemadam kebakaran Kota Ternate yang tiba beberapa menit kemudian.

Naim Syafar, Kepala Damkar Kota Ternate, mengatakan pihaknya menerima laporan sekitar pukul 11.00 WIT. Sebanyak 40 personel dan empat unit mobil pemadam dikerahkan ke lokasi.

“Alhamdulillah, api bisa kami kuasai dalam sekitar 30 menit. Kebetulan sumber api di lantai dua, jadi kami antisipasi agar tidak merembet ke lantai satu,” ujarnya setelah proses pemadaman selesai.

Pelatih Karate kontingen Halbar, Ben Oni Dola, mengaku tidak mengetahui peristiwa tersebut karena saat itu masih mendampingi atlet di arena pertandingan. Ia mengatakan pihaknya mengalami kerugian karena sejumlah pakaian harian, perlengkapan karate, dompet, dan ATM milik peserta tidak sempat diselamatkan.

“Secara rinci ada tiga baju Arawaza atau pakaian karate yang tidak bisa diselamatkan, harganya sekitar Rp1,5 juta. Itu baru pakaian karate, belum yang lain. Pakaian karate anak-anak saja paling kecil Rp500 ribu. Dari Halbar total 19 orang—17 atlet dan dua pendamping. Kalau Halsel saya tidak tahu,” jelasnya.

Ia mengaku memahami, kejadian tersebut merupakan musibah, namun berharap adanya kebijakan dari pengelola Asrama Haji maupun panitia pelaksana agar atlet dan pendamping dari Halbar dapat segera kembali ke daerah asal.

“Kami hanya berharap ada pengertian yang baik dari pengelola dan penyelenggara sehingga anak-anak bisa pulang,” ujarnya.