DESEMBER. Banjir akbar perlahan usai di Sumatra juga Aceh, meninggalkan garis-garis coklat di tembok rumah orang biasa. Bau tanah basah masih menempel, kayu-kayu gelondongan, suara tangis juga belum benar-benar reda. Di tengah itu, entah kenapa, saya teringat sebuah kalimat yang jatuh dari podium dari seorang pemimpin republik ini di bulan Desember tahun lalu “Jangan takut deforestasi.” Begitu katanya. Saya mendengar kalimat itu seperti mendengar perintah perang terhadap hutan.
Seolah pepohonan adalah pasukan yang bisa diperintah baris-berbaris; seolah bumi, dalam retaknya, hanya panggung komando. Padahal, siapa yang pernah menanam pohon akan tahu bahwa yang tumbuh bukan hanya sebuah batang dalam ruang, tapi juga sebentuk tanda dalam waktu—tentang kesabaran, penjagaan, tentang masa depan yang tidak ingin kita kuburkan.
Saya jadi ingat kisah tua dalam bagian akhir Mahabharata, bagian yang selalu membuat saya diam lebih lama dari biasanya: ketika Dretarastra—raja yang buta, yang hidupnya memantul antara kekuasaan dan kehilangan—pergi meninggalkan istananya. Ia berjalan ke hutan, ditemani Gandari yang menutup matanya sendiri demi merasakan pahit getir suaminya, dan Kunti yang sepanjang hidupnya memikul beban kesetiaan. Mereka ke hutan bukan untuk menaklukkan. Tapi datang untuk melepaskan, melepaskan diri—menanti usia, menanti takdir, menanti sebuah akhir.
Hutan, dalam cerita itu, tak hanya hamparan pohon; ia adalah ruang penghabisan, wilayah kegaiban yang tak dapat dipetakan. Tempat kekuasaan mereda, dan manusia kembali menjadi manusia. Tempat di mana yang fana berdamai dengan yang sunyi. Itulah mengapa raja-raja tua memilih hutan sebagai tempat pertapaan terakhir: bukan karena hutan dapat memberi mereka apa-apa, tapi justru karena hutan tidak minta apa-apa.
Tapi lihatlah. Hari ini, kita perlakukan hutan seperti sesuatu yang terus-menerus “diminta.” Setiap batang ditebang sebelum menua. Setiap teluk dan tanjung kita gunduli sebelum sempat mengenal akarnya sendiri. Air yang meluap di Aceh dan Sumatra itu, tentu, tidak mengenal kalender politik. Tidak tunggu pemilu, tidak dengar pidato, tidak menunggu siapa yang sedang berkuasa. Ia hanya tunggu satu hal: hilangnya pohonan.
Sebab di negeri ini, banjir tak lagi hanya bencana alam, tapi kabar buruk yang datang dari arah yang sama: bukit yang botak, sungai yang menanggung lumpur, dan hutan yang dipreteli dengan kesabaran yang tak pernah kita punya untuk menanamnya kembali. Kita memanen akibat dari sesuatu yang sudah lama kita lakukan, sambil berpura-pura terkejut setiap kali air naik ke dada kita, ke rumah-rumah kita.
Yang paling ironis, kita tetap menyebut hujan sebagai penyebab. Bukankah hujan hanya turun? Dan hanya itulah tugas pokoknya. Kita-lah yang mengubah tanah jadi licin, akar jadi abu, batang jadi komoditas. Setiap kali banjir datang, kita menggelar doa, mengumpulkan bantuan, memanggil simpati. Tapi jarang sekali ada yang menyebut bahwa bencana ini punya nama belakang: deforestasi.
Saat seorang pemimpin berkata “jangan takut deforestasi,” kalimat itu bukan hanya keliru, tetapi juga menampakkan cara pandang yang rapuh: bahwa pohon hanyalah angka produksi, bukan pengikat tanah; bahwa hutan hanya wilayah ekonomi, bukan rumah dari keseimbangan yang lebih tua dari republik ini.
Mengganti hutan dengan sawit lalu bilang keduanya “sama-sama pohon” ibarat mengganti keluarga dengan sekelompok patung etalase lalu bilang: rumah ini masih lengkap. Ada sesuatu yang tak bisa dibohongi dalam ekologi: hidup saling menopang, bukan saling menyerupai.
Kita tidak sedang membutuhkan lebih banyak pohon yang tegak di tabel produksi. Kita sedang membutuhkan hutan—yang hidup, yang bernapas, yang tak bisa direduksi menjadi baris dalam RAPBN. Tetapi hutan kita menipis; dan suara yang paling sering terdengar dari negara adalah suara yang memaklumi penipisan itu. Padahal sebuah bangsa yang kehilangan hutan adalah bangsa yang kehilangan ritus agamanya yang paling tua: hubungan sunyi manusia dan bumi.
Kita tahu, hutan adalah wilayah di mana Misteri belum dipetekan. Hari ini kita bukan hanya memetekan misterinya; kita merobek tubuhnya, menikam jantungnya, memasukannya ke dalam daftar komoditas ekspor, dan menyebut itu pembangunan. Kita lupa, hutan adalah cara bumi berdoa—pelan, panjang, dan tak ingin diganggu.
Pada akhirnya, kita kembali pada satu pertanyaan yang lebih sunyi: berapa lama lagi kita bisa menyebut banjir sebagai “musibah,” ketika sesungguhnya ia adalah pesan yang terus-menerus kita abaikan? Berapa lama kita bisa terus memperlakukan hutan sebagai ruang yang tak punya suara, sementara setiap batang yang tumbang sebenarnya sedang bersaksi?
Ah, saya ingin akhiri esai ini dengan satu kalimat dari Imam Ali—kalimat yang selalu mengantar saya pada rasa gentar yang jujur:
“Aku tidak pernah melihat nikmat yang melimpah kecuali di sisinya ada hak yang disia-siakan.” Dan mungkin, nikmat terbesar yang kita sia-siakan hari ini adalah hutan itu sendiri.[]

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.