ADA hal-hal kecil yang diam-diam membentuk cara kita memahami dunia. Ia tidak berteriak, tidak memaksa untuk diperhatikan, tetapi setia hadir dalam keseharian. Di atas meja makan, ia terlipat rapi, kadang digantung dan dibiarkan begitu saja di sudut, menunggu disentuh tanpa pernah memanggil. Ia adalah sapu tangan.
Dalam diamnya, ia seperti aliran yang pelan – mengikuti ritme makan, percakapan, bahkan keheningan yang menggantung di antara orang-orang yang duduk bersama. Di antara sendok, piring, dan gelas, sapu tangan menjadi saksi yang tidak bersuara – ia ada dalam setiap jeda, setiap gerakan tangan yang kerap kita anggap sepele.
Dulu, dalam ruang keluarga, serbat atau sapu tangan sebagaimana ia disebut di kampung – bukan sekadar benda yang hadir di atas meja makan. Ia adalah perpanjangan dari tangan manusia pasca makan dan minum. Tangan yang hitam atau putih, kasar atau lembut, kurus atau gemuk – semuanya berjumpa dalam satu kain yang sama. Tidak ada hirarki di sana. Tidak ada batas antara laki-laki dan perempuan, antara tua dan muda, antara yang dihormati dan yang biasa saja. Semua tangan menyentuh sapu tangan dengan cara yang sama: sebagai kebutuhan, sekaligus kebiasaan.
Di situlah, tanpa kita sadari, sapu tangan bekerja sebagai jembatan sosial. Ia tidak memilih siapa yang berhak menggunakannya. Ia tidak menolak tangan yang kotor, tidak juga memuliakan tangan yang bersih. Ia menerima semuanya. Dalam diam, ia mengajarkan bahwa kehidupan tidak selalu tentang pemisahan, tetapi tentang pertemuan.
Seiring waktu, dan modernitas datang dengan cara yang lebih rapi, praktis, sekaligus lebih dingin. Sapu tangan perlahan digantikan oleh tisu. Tisu hadir dengan berbagai bentuk dan fungsi: untuk wajah, untuk dapur, untuk toilet, untuk membersihkan luka.
Ia sekali pakai, cepat dibuang, dan tidak pernah kembali. Tidak seperti sapu tangan yang dicuci, dikeringkan, lalu digunakan lagi – tisu hidup dalam logika instan: pakai, buang, lupakan. Yang mula-mula, tisu berbahan dasar dari kayu dijadikan kertas di mulai dari kebudayaan China. Lalu tahun 1857, Joseph Gayetty yang pertama kali menemukan tisu toilet berbentuk gulungan, dengan mengenalkan produk “medicated paper”.
Hingga abad ke-20, perusahan seperti Kimberly-Clark kembangkan tisu wajah.
Perubahan ini tampak sederhana, tetapi menyimpan pergeseran yang lebih dalam. Jika sapu tangan mengajarkan keterhubungan, maka tisu cenderung mengajarkan keterpisahan. Setiap orang memiliki tisunya sendiri. Tidak ada lagi kain yang dipakai bersama, tidak ada lagi benda yang menyimpan jejak banyak tangan. Yang ada hanyalah konsumsi individual, yang selesai dalam satu kali sentuhan.
Di titik ini, benda itu berubah menjadi cermin zaman. Tak hanya itu. Ingatan tentang “dulang” membawa kita lebih jauh ke dalam ruang keluarga yang dulu. Sebuah tempat makan sederhana, yang berukuran sedang dan berkaki pendek, menjadi ruang tersendiri bagi anak-anak yang belum menunaikan kewajiban tertentu. Di sana, makan bukan sekadar aktivitas biologis, kebalikanya bagian dari disiplin sosial. Anak-anak belajar tentang batas, tentang aturan, tentang posisi mereka dalam keluarga.
Dulang bukan hanya tempat orang duduk dan makan, juga bahan-bahan dari hasil kebun yang ditempatkan di atasnya. Ia sebagai simbol. Ia mengajarkan bahwa kehidupan memiliki ritme, memiliki struktur, dan setiap orang, pada waktunya, akan bergerak dari satu ruang ke ruang lain. Dari dulang menuju meja makan utama. Dari pinggiran menuju pusat.
Kini, dulang menghilang, sebagaimana sapu tangan perlahan tergeser. Meja makan menjadi seragam di mana-mana, dan di atasnya, tisu telah menggantikannya. Namun di Wayatim, sapu tangan masih bertahan. Ia jadi sisa dari ingatan kolektif yang belum sepenuhnya larut dalam arus modernitas. Di situlah sapu tangan menemukan maknanya yang paling dalam: sebagai penanda bahwa tidak semua hal harus berubah.
Lebih dari sekadar benda, sapu tangan juga membuka cara kita memahami manusia. Ia mengajarkan sesuatu yang sederhana namun sering kita abaikan: bahwa bersih dan kotor bukanlah keadaan yang tetap. Sapu tangan yang awalnya bersih akan menjadi kotor setelah digunakan. Namun ia tidak berhenti di situ. Ia bisa dicuci, dikeringkan, dan kembali menjadi bersih.
Begitu pula manusia. Kita sering terjebak dalam cara pandang yang kaku – menganggap seseorang bersih atau kotor, baik atau buruk, layak atau tidak layak. Padahal, seperti sapu tangan, manusia sebagai makhluk yang selalu berada dalam proses. Ia bisa menjadi kotor oleh pengalaman, oleh pilihan, oleh keadaan. Tetapi ia juga memiliki kemungkinan untuk kembali bersih – untuk berubah, untuk memperbaiki diri, untuk memulai kembali.
Di sisi lain, sapu tangan juga memperlihatkan hubungan antara objek dan subjek. Ia merupakan benda yang digunakan, sekaligus ia memberi makna pada yang menggunakannya. Ia tampak pasif, tetapi kehadirannya membentuk cara manusia berinteraksi. Dalam arti tertentu, sapu tangan tak hanya objek; ia bagian dari relasi sosial itu sendiri.
Dan mungkin di situlah letak pelajaran yang paling halus – dalam kehidupan – kita tidak pernah sepenuhnya menjadi subjek yang menguasai, atau objek yang dikuasai. Kita selalu berada di antara keduanya – menggunakan sekaligus digunakan, memengaruhi sekaligus dipengaruhi.
Ketika kita beralih dari sapu tangan ke tisu, kita tidak hanya mengganti benda. Kita sedang mengubah cara kita berelasi – dengan benda, dengan orang lain, bahkan dengan diri kita sendiri. Dari yang berulang menjadi sekali pakai. Dari yang berbagi menjadi milik pribadi. Dari yang menyimpan jejak menjadi yang segera dilupakan.
Namun ingatan tentang sapu tangan tetap tinggal. Ia hidup dalam cerita, dalam kebiasaan kecil yang masih bertahan, dalam cara kita memahami bahwa kebersihan bukan hanya soal fisik, tetapi juga soal bagaimana kita memandang dunia.
Karena pada akhirnya, kotor atau bersih bukanlah sifat yang melekat secara mutlak. Ia adalah cara kita melihat, mengapa menilai, dan bagaimana memberi makna. Seperti sapu tangan yang sederhana itu – ia tidak pernah memilih untuk menjadi bersih atau kotor. Ia hanya ada, yang dalam keberadaan, menerima setiap sentuhan, dan diam-diam mengajarkan kita hidup dan kehidupan selalu bergerak di antara keduanya.
*Yoesran Sangaji adalah seorang yang suka membaca dan minum kopi, asal Pulau Bacan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.