Sedikitnya 75 jenis burung laut, baik burung migran, vagrant maupun residen, tercatat memanfaatkan perairan Indonesia berdasarkan data aplikasi eBird sepanjang periode 1900–2025.

Dari jumlah tersebut, sekitar 70 jenis telah teridentifikasi di perairan Maluku Utara, meliputi Halmahera, Ternate, Obi, Bacan, dan Morotai sejak 1980-an hingga 2026.

Dengan sekitar 74 persen wilayah Indonesia berupa laut dan memiliki lebih dari 17.380 pulau, Indonesia menjadi salah satu kawasan penting dalam jalur migrasi burung Asia–Australia. Perairan Indonesia berfungsi sebagai habitat mencari makan, beristirahat, hingga berkembang biak bagi berbagai spesies burung laut.

Meski demikian, keberadaan burung laut kini menghadapi berbagai ancaman yang berkontribusi terhadap penurunan populasinya. Ancaman tersebut meliputi hilangnya habitat, gangguan saat musim berkembang biak, dampak perubahan iklim, pencemaran laut, hingga tangkapan sampingan (bycatch) dalam aktivitas perikanan. Karena itu, banyak spesies burung laut telah mendapat perlindungan melalui regulasi nasional maupun internasional. Setiap 3 Juli juga diperingati sebagai Hari Burung Laut Sedunia.

Fransisca Noni Tirtaningtyas, Koordinator Burung Laut Indonesia mengatakan populasi burung laut di Indonesia masih relatif sedikit terdokumentasi. Kondisi itu dipengaruhi minimnya pengamatan, sulitnya menjangkau lokasi habitat yang umumnya berada di wilayah terpencil, serta masih terbatasnya kemampuan identifikasi spesies.

Namun, menurutnya, pemantauan burung laut terus berkembang sejak beberapa tahun terakhir. Meningkatnya minat masyarakat terhadap pengamatan burung, ditambah penyebaran informasi melalui media sosial, mendorong semakin banyak pegiat yang terlibat dalam pendataan di berbagai daerah.

Ia menegaskan, kegiatan pengamatan burung laut tetap membutuhkan pendampingan dari pengamat berpengalaman maupun komunitas Burung Laut Indonesia agar identifikasi spesies dilakukan secara akurat.

“Urgensi dalam kegiatan pengamatan burung laut yaitu pendampingan. Sebab, banyak spesies memiliki bentuk tubuh dan pola warna yang sangat mirip sehingga memerlukan pengalaman dan proses belajar yang tidak singkat agar burung dapat teridentifikasi secara akurat,” ujar Fransisca dalam rilis pers yang diterima Kadera.id, Kamis, 9 Juli 2026.

Sementara itu, Dewi Ayu Anindita, Ketua Komunitas Halmahera Wildlife Photography (HWP), mengatakan komunitasnya bersama masyarakat dan mahasiswa secara rutin melakukan pemantauan burung laut. Kegiatan tersebut tidak hanya bertujuan mendokumentasikan satwa melalui fotografi, tetapi juga menghasilkan data yang bermanfaat bagi upaya konservasi.

“Di Maluku Utara, sejak 1980-an hingga 2026, sedikitnya 70 jenis burung laut telah tercatat di perairan Halmahera, Ternate, Obi, Bacan, dan Morotai,” katanya.

Menurut Dewi, dokumentasi foto memiliki peran penting dalam pemantauan burung laut karena dapat digunakan untuk memetakan sebaran spesies, mencatat kondisi habitat, serta melengkapi basis data burung laut di Maluku Utara. Hasil dokumentasi tersebut kemudian disebarluaskan dalam bentuk poster, infografis, hingga pameran foto sebagai media edukasi.

Ia juga menyebut, peringatan Hari Burung Laut Sedunia 2026 di Indonesia sebelumnya dikemas dalam seminar bertema “Melindungi Burung Laut Indonesia: Langkah Lokal untuk Dunia”. Kegiatan itu diikuti ratusan peserta yang saling berbagi pengalaman, tantangan, dan berbagai upaya pelestarian burung laut.

“Kegiatan ini juga menjadi salah satu agenda Seminar Comata (SEMCOM) yang diselenggarakan Kelompok Studi Hidupan Liar Comata Universitas Indonesia bekerja sama dengan Burung Laut Indonesia,” ujarnya.