Tiga pengrajin tenun tampak sibuk bekerja di sebuah ruangan benteng Oranje Kota Ternate, saat ditemui, Rabu, 8 Juli 2026. Jari-jari mereka perlahan menyelipkan benang, sementara kaki bergantian menekan pedal kayu dengan ritme yang teratur.
Denting alat tenun tanpa mesin (ATBM) memenuhi ruangan tua itu. Di tempat yang sarat jejak sejarah tersebut, selembar demi selembar kain Rapidino, kain khas Ternate lahir dari kesabaran dan ketelitian para pengrajin.
Rapidino, dalam bahasa Ternate, berarti “kain yang rapi”, selaras dengan proses pembuatannya yang menuntut ketelitian tinggi. Kain ini bukan sekadar hasil kerajinan, melainkan bagian dari identitas budaya masyarakat Ternate yang telah diproduksi sejak ratusan tahun silam. Sejumlah literatur menyebutkan, dahulu Rapidino dibuat dari serat daun nanas yang dipintal, sebelum kemudian beralih menggunakan benang katun mengikuti perkembangan zaman.
Nurjanah, salah satu pengrajin, duduk menunduk di hadapan ATBM. Sorot matanya tak lepas dari susunan benang yang perlahan ia angkat untuk membentuk motif potong wajik.
“Ini kain berwarna ungu dengan motif potong wajik,” tuturnya sembari hati-hati menyelipkan benang demi benang hingga perlahan membentuk setengah lembar kain Rapidino.
Perempuan berusia 22 tahun itu mengaku, saat pertama kali belajar menenun, ia merasa kesulitan. Tingkat kerumitan sangat bergantung pada motif yang dikerjakan. Namun, seiring waktu, tangannya mulai terbiasa mengikuti irama alat tenun.
“Kalau so mahir bisa seminggu. Tergantung dia punya motif,” katanya lirih, nyaris tenggelam di antara denting kayu yang saling beradu di dalam Benteng Oranje.

Rutinitas itu dijalaninya setiap hari bersama para pengrajin lainnya selama berjam-jam. Meski begitu, Nurjanah mengaku baru hampir setahun menekuni profesi tersebut. Karena itu, kemampuannya belum menyamai para pengrajin senior yang mampu menyelesaikan satu lembar Rapidino hanya dalam tiga hingga empat hari.
“Saya baru satu tahun jadi pengrajin. Saya belajar di sini juga,” ujarnya sembari sesekali mendongak, lalu kembali menarik rigid heddle—bingkai kaku yang memiliki celah dan lubang pada ATBM.
Nurjanah bercerita, banyak pelancong datang ke Benteng Oranje. Selain menikmati peninggalan sejarah, mereka juga menyaksikan proses pembuatan Rapidino. Pengunjung berasal dari berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara. Ada yang hanya melihat-lihat, ada pula yang membawa pulang selembar kain sebagai buah tangan.
Sementara itu, Agus (50), pengrajin lainnya, mengatakan permintaan Rapidino biasanya meningkat menjelang perayaan hari-hari besar, terutama peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus.
Harga Rapidino bergantung pada jenis pewarna yang digunakan. Kain dengan pewarna alami dijual sekitar Rp1 juta per lembar, sedangkan kain berwarna sintetis sekitar Rp800 ribu.
“Pewarna alam itu seperti daun, serbuk kayu, kunyit. Harganya Rp1 juta. Itu yang paling banyak diminati,” ujarnya.
Pria asal Kayoa, Halmahera Selatan, itu menjelaskan, ukuran kain yang mereka tenun umumnya sepanjang 2,20 meter dengan lebar 1,10 meter. Motifnya beragam dan banyak terinspirasi dari kekayaan alam serta budaya Maluku Utara, seperti cengkih, pala, potong wajik, iris pondak, bunga popiya, kora-kora, salawaku, bunga tanjung, hingga suji-suji.
Agus bilang, masyarakat juga mengenal perbedaan penggunaan kain berdasarkan motifnya. Kain dengan motif besar di bagian belakang lazim dikenakan laki-laki, sedangkan motif yang lebih kecil di bagian depan digunakan perempuan.
“Kalau pembeli datang, bisa pilih motif. Tapi tergantung dari berapa lama pembuatan kainnya,” katanya.
Agus sendiri mulai belajar menenun pada 2020 melalui pelatihan yang difasilitasi Dinas Perindustrian dan Perdagangan bersama Bank Indonesia dengan instruktur dari Bali. Kini terdapat tujuh pengrajin yang aktif bekerja di Benteng Oranje.
“Saya belajar sejak 2020, kegiatan dari Disperindag dan dari BI. Cuman yang dikasih ajar itu Bali,” ungkapnya.

Untuk menghasilkan selembar Rapidino, kata Agus, dibutuhkan waktu sekitar tiga hingga empat hari, bahkan bisa mencapai sepekan jika motifnya lebih rumit.
Ia menambahkan, sebelum aktivitas menenun berkembang di Benteng Oranje, warga di Koloncucu, Kelurahan Toboleu, Ternate Utara, telah lebih dulu mempertahankan tradisi ini. Hingga kini mereka masih menggunakan metode tradisional dengan posisi duduk di lantai, berbeda dengan pengrajin di Benteng Oranje yang menggunakan ATBM dengan bangku.
Bagi Agus, siapa pun pengrajinnya dan bagaimana pun cara mereka bekerja, tujuan mereka tetap sama: menjaga warisan budaya yang telah diwariskan leluhur selama ratusan tahun.
“Kain ini sudah lama dilestarikan. Dari zaman dulu,” ucapnya.
Di tengah derasnya modernisasi dan produksi kain menggunakan mesin, tangan-tangan para pengrajin Rapidino tetap setia bekerja dalam kesunyian, ditemani denting kayu yang bergerak ritmis.
Di setiap helai benang yang tersusun, tersimpan harapan agar sejarah, budaya, dan identitas Ternate terus hidup dari satu generasi ke generasi berikutnya. Rapidino bukan sekadar kain, melainkan warisan yang terus ditenun sepanjang zaman.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.