Jembatan kayu di Dusun Palong, Desa Ratahaya, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, mulai lapuk dan rusak. Kondisi ini dikhawatirkan mengancam keselamatan siswa Sekolah Dasar (SD) Negeri Pandasan yang setiap hari melintasi jembatan tersebut untuk pergi dan pulang sekolah.

Pantauan Kadera.id, Kamis, 20 Agustus 2026, sebagian papan lantai jembatan dan sejumlah tiangnya terlihat mulai lapuk. Jembatan yang seluruh konstruksinya terbuat dari kayu itu menjadi akses penting bagi warga, termasuk anak-anak sekolah dan masyarakat yang membawa hasil kebun menuju pasar Bobong.

Siswa-siswi SD Negeri Pandasan terlihat harus berhati-hati saat melintasi jembatan tersebut. Kondisi semakin berisiko ketika jembatan digunakan kendaraan roda dua, terutama warga yang mengantar anak ke sekolah maupun membawa hasil kebun dengan beban cukup berat.

Warga Dusun Palong mengaku selalu merasa was-was setiap kali melintasi jembatan, terlebih saat membawa anak menggunakan sepeda motor.

Kondisi lantai papan jembatan yang nampak mulai rapuh. Foto: Risto/Kadera.id

Mama Dini, warga Dusun Palong, mengatakan kekhawatirannya semakin besar ketika harus mengantar anaknya ke sekolah atau membawa hasil kebun ke Pasar Bobong.

“Saya sangat merasa khawatir melewati jembatan ini. Apalagi saat mengantar anak ke sekolah atau ke pasar membawa beban berat. Takutnya pas di atas jembatan tiba-tiba patah. Coba ngana bayangkan sudah bagaimana jadinya,” kata Dini kepada Kadera.id, Kamis sekitar pukul 07.10 WIT, setelah mengantar anaknya ke sekolah.

Menurut Dini, jembatan tersebut dibangun pada 2017, setelah banjir besar melanda wilayah itu. Pembangunannya dilakukan secara swadaya oleh masyarakat Desa Ratahaya dan Bobong yang memiliki kebun di kawasan Air Lalo.

“Jembatan ini dibangun pasca banjir besar tahun 2017. Jadi umurnya sudah hampir 10 tahun. Waktu itu masyarakat Bobong dan Ratahaya yang punya kebun di Air Lalo bergotong royong membangun jembatan ini,” ujarnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Niklas, warga Dusun Palong. Ia mengatakan kondisi jembatan yang mulai lapuk membuat warga harus ekstra hati-hati, terutama ketika anak-anak melintasinya dengan berjalan kaki.

“Kami selalu pesan ke anak-anak kalau lewat jembatan harus hati-hati, karena jembatan sudah mulai lapuk. Umurnya juga sudah hampir 10 tahun,” katanya.

Tampak samping jembatan kayu di Dusun Palong, Desa Ratahaya, Kecamatan Taliabu Barat, Kabupaten Pulau Taliabu. Foto: Risto Sangaji/Kadera.id

Warga mengaku persoalan kondisi jembatan tersebut telah berulang kali disampaikan kepada pemerintah. Mereka berharap pemerintah setidaknya membangun jembatan baru, meski bersifat sementara, agar akses warga dan anak-anak sekolah lebih aman.

“Kami masyarakat tidak minta banyak. Hanya minta dibangun jalan dan jembatan supaya mempermudah aktivitas ke pasar atau mengantar anak ke sekolah. Kalau dua ini sudah dibangun, terserah pemerintah mau bikin apa,” tandasnya.