Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate, Ferry Hamdani Welley, menyebut Kecamatan Ternate Utara dan Ternate Barat menjadi titik rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) saat kemarau panjang dan kekeringan.
Ferry mengungkapkan, kebakaran hutan dan lahan sudah terjadi sejak tanggal 20 sampai 22 Agustus 2026 di Kelurahan Tubo, Ternate Utara, dan merembet hingga Kelurahan Kulaba dan Tobololo, Kecamatan Ternate Barat.
“Dia merambat sampe di belakang lapangan tembak. Kebakaran terjadi pada lima sampai enam titik di Tubo. Pada Sabtu siang itu muncul titik api di belakang Kulaba dan Tobololo,” katanya, saat diwawancarai di ruang kerjanya, Senin, 24 Agustus.
Menurutnya, dua kecamatan tersebut rawan kebakaran sejak kemarau panjang pada 2015 lalu. Karena itu, pada tahun 2026 ini di kawasan tersebut kondisi lahan dan hutan sudah mengering sehingga menjadi pemicu meluasnya kebakaran.
“Kebakaran di atas gunung, jadi kalau angin kencang bisa menyala lagi. Tapi pagi ini belum ada,” ucapnya.
Meski begitu, ia bilang, saat terjadi kebakaran, proses pemadaman kerap mengalami kendala teknis. Aparat dan warga hanya menggunakan peralatan sederhana seperti kayu dan dedaunan untuk padamkan api. Kendala lainnya, kata dia, kawasan titik kebakaran penuh bebatuan sehingga sulit dijangkau.
Sebagai langka penanganan darurat, BPBD Ternate membangun dua embung darurat dengan terpal dan kayu papan untuk menampung air 3 ribu liter meter kubik.
“Kami bangun dua bak penampung air dekat dengan titik api pada Sabtu pekan kemarin,” ujarnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.