Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Ternate bersama puluhan jurnalis di Maluku Utara gelar doa bersama disertai pembakaran puluhan lilin, di Landmark, Kota Ternate, Rabu malam, 23 September 2026.
Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk solidaritas dan tanggung jawab moral terhadap lima jurnalis. Lima pekerja pers ini hilang bersama tiga kru speedboat Arupadhatu 1, di Selat Sunda saat hendak meliput secara langsung erupsi Gunung Anak Gunung Krakatau, pada Senin, 7 September 2026.
Mereka di antaranya M. Bagus Khoirunas (Antara) Yudhistiro Pranoto (iNews), Ari Basuki (Merdeka.com), Donal Husni (jurnalis lepas), Firdaus Wajidi (Anadolu Agency). Ditambah Surahman (Kapten Kapal) dan Heriyanto (pemandu). Dalam peristiwa itu, baru Surakman, anak buah kapal (ABK) yang ditemukan meninggal dunia.
Yunita Kaunar, Ketua AJI Ternate mengatakan, lima jurnalis tersebut berangkat bekerja untuk menjalankan tugas dan tanggung jawab profesi, baik mencari, mengumpul dan hingga menyampaikan informasi kepada masyarakat.
“Di balik sebuah berita ada keberanian dan tanggungjawab seorang jurnalis, langkah yang ditunggu, resiko yang dihadapi, harapan agar informasi diperoleh dan disampaikan ke publik,” katanya, dalam kesempatan itu.
Ia bilang, duka dalam insiden tersebut, bukan hanya dirasakan sesama jurnalis, tapi sebagai satu keluarga besar pers. Karena hingga kini masih menaruh harapan besar dan mengirimkan doa kepada keluarga dan korban yang belum ditemukan.
“Jurnalis memahami musibah dalam menjalankan tugas, rasa kehilangan tersebut bukan hanya dirasakan keluarga, rekan kerja, tapi seluruh komunitas jurnalis.
Atas peristiwa tersebut, ia mengatakan, dalam setiap rencana maupun peliputan mesti ada mitigasi. Hal ini agar tidak terulang kembali peristiwa yang sama, meskipun takdir tetap tak diketahui.
“Tidak ada berita seharga nyawa. Sehingga itu, dalam setiap peliputan harus ada mitigasi resiko,” ucapnya.
Rajif Duchlun, anggota AJI Ternate mengatakan, sebesar apa pun mitigasi dan detail rencana peliputan yang disiapkan, kerap ada takdir yang bekerja di luar kehendak.
Ia mengatakan, tak bisa berbuat banyak karena dipisahkan jarak yang cukup jauh. Namun, puluhan jurnalis di Maluku Utara berinisiatif untuk menggelar doa sebagai bentuk solidaritas dan penghormatan bagi lima jurnalis yang hilang dan belum ditemukan.
Selain untuk lima jurnalis, Rajif juga meminta agar mendoakan keluarga yang tak tahu akan terjadi peristiwa tersebut dan hingga kini masih menunggu para korban yang hilang dapat ditemukan.
“Kami jurnalis di Maluku Utara mengirimkan doa kepada lima jurnalis, maupun keluarga mereka, istri anak, yang mungkin semalam sebelum kejadian tidak pernah membawakan akan menjadi malam terkahir bagi mereka. Kita punya tanggung jawab moral untuk keluarga mereka,” tandasnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.