Tim peneliti melalui program Riset dan Inovasi untuk Indonesia Maju (RIIM) Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melaksanakan ekspedisi riset di Maluku Utara selama 16 September hingga 6 Oktober 2026 mendatang.
Kegiatan ini dilakukan untuk menginventarisasi keanekaragaman hayati serta mendokumentasikan pengetahuan dan praktik masyarakat dalam memanfaatkan sumber daya alam.
Ekspedisi yang dipimpin Mohammad Fathi Royyani tersebut melibatkan sejumlah anggota tim peneliti. Selama kegiatan, tim melakukan observasi lapangan, wawancara dengan masyarakat dan informan kunci, dokumentasi pemanfaatan tumbuhan, serta pencatatan berbagai praktik budaya yang berkaitan dengan lingkungan.
Menelusuri Pengetahuan Masyarakat Kepulauan
Mohammad Fathi Royyani, Ketua Tim Peneliti, mengatakan masyarakat Maluku Utara, khususnya masyarakat Tidore sebagai komunitas yang hidup di wilayah kepulauan kecil (small island), memiliki pengetahuan tradisional yang berkembang melalui interaksi panjang dengan lingkungan.
“Masyarakat di Maluku Utara, terutama Tidore, sebagai masyarakat small island memiliki seperangkat pengetahuan tradisional untuk bertahan dan melanjutkan kehidupan,” ujar Fathi Royyani.
Menurutnya, keanekaragaman hayati tidak hanya dimanfaatkan sebagai sumber pangan. Masyarakat juga memanfaatkan berbagai jenis tumbuhan untuk pengobatan, ritual, kebutuhan sehari-hari, hingga sebagai penanda waktu dan perubahan lingkungan.
Dalam ekspedisi tersebut, tim mendokumentasikan berbagai pengetahuan lokal masyarakat, seperti metode gusungi sebagai penanda waktu, rorano untuk pengobatan tradisional, hingga pangan lokal. Temuan tersebut memperlihatkan bagaimana pengetahuan mengenai sumber daya hayati masih menjadi bagian dari kehidupan masyarakat.
Halmahera dan Kekayaan Flora Wallacea
Dari sisi keanekaragaman tumbuhan, ekspedisi juga menyoroti posisi penting Halmahera dalam kawasan Wallacea. Wilayah ini berada pada zona peralihan biogeografis antara Asia dan Australasia sehingga memiliki kekayaan flora dengan sejarah evolusi dan persebaran yang kompleks.
Wihermanto, Pakar Botani BRIN, menjelaskan bahwa sejarah geologi dan proses evolusi yang panjang turut membentuk kekhasan flora Halmahera.
“Halmahera tidak hanya menyimpan beragam jenis tumbuhan, tetapi juga memiliki sejumlah tumbuhan endemik dengan persebaran terbatas di Maluku Utara,” ujar Wihermanto.
Selama kegiatan lapangan, tim mendokumentasikan berbagai jenis tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat untuk pangan, pengobatan, bahan bangunan, ritual, dan kegunaan lainnya. Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan tumbuh-tumbuhan sebagai ramuan atau rorano untuk pengobatan tradisional.
Keragaman Hayati dan Budaya
Hasil awal ekspedisi menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati dan keragaman budaya masyarakat Maluku Utara memiliki hubungan yang erat. Pengetahuan mengenai tumbuhan dan sumber daya alam tidak hanya berkaitan dengan aspek pemanfaatan, tetapi juga dengan nilai sosial, budaya, dan praktik kehidupan masyarakat.
“Temuan awal ini memperlihatkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang sumber daya alam hayati tidak hanya soal pemanfaatan, tetapi juga sudah menyatu dengan cara hidup, nilai, dan budaya yang mereka jalani sehari-hari,” ungkap Mohammad Fathi.
Menurut tim peneliti, dokumentasi pengetahuan tersebut penting dilakukan karena pengetahuan tradisional merupakan bagian dari warisan biokultural masyarakat. Dokumentasi juga dapat menjadi sumber informasi bagi penelitian lanjutan mengenai biodiversitas, etnobotani, konservasi, pangan lokal, dan pengobatan tradisional.
Data yang dikumpulkan melalui ekspedisi selanjutnya akan dianalisis untuk menghasilkan berbagai keluaran penelitian, termasuk publikasi ilmiah dan rekomendasi pengelolaan sumber daya hayati.
Hasil penelitian diharapkan dapat mendukung pengembangan strategi konservasi yang tidak hanya mempertimbangkan keberadaan spesies dan ekosistem, tetapi juga memperhatikan pengetahuan serta praktik masyarakat yang telah berkembang dalam mengelola lingkungan.
“Kami berharap hasil penelitian ini dapat menjadi pijakan untuk penelitian selanjutnya, sekaligus mendukung upaya konservasi dan pemanfaatan keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dengan tetap menghargai pengetahuan masyarakat,” ujar Fathi Royyani.
Ekspedisi RIIM-BRIN ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat kolaborasi antara peneliti, masyarakat, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan dalam memahami serta menjaga kekayaan biokultural Maluku Utara.
Melalui dokumentasi dan penelitian yang dilakukan, kekayaan biodiversitas dan pengetahuan masyarakat diharapkan tidak hanya tercatat sebagai data ilmiah. Tetapi, juga dapat menjadi dasar bagi pengembangan ilmu pengetahuan, konservasi, dan pemanfaatan sumber daya alam yang berkelanjutan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.