Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kota Tidore Kepulauan masih kekurangan dokter spesialis untuk memenuhi standar peningkatan status rumah sakit. Saat ini, RSUD Tidore hanya memiliki dua dokter spesialis kontrak dari Kementerian Kesehatan, yakni dokter spesialis obstetri dan ginekologi (objin) serta dokter bedah. Namun, belum tersedia dokter spesialis mata.

“Kita harus memenuhi minimal dua dokter spesialis. Jika ada satu dokter dari putra daerah, maka harus ditambah satu lagi agar memenuhi standar,” ujar Direktur RSUD Kota Tidore Kepulauan, dr. Fajar Puji Wibowo, Senin, 28 April 2025.

Menurut dr. Fajar, sebagian besar dokter putra daerah yang bertugas di RSUD Tidore lebih mengutamakan pelayanan di rumah sakit ketimbang membuka praktik di luar.

“Kalau di kota besar, satu dokter bisa praktik di tiga tempat berbeda. Tapi di daerah seperti ini, biasanya mereka fokus hanya di satu tempat. Dokter spesialis, seperti spesialis penyakit dalam yang bekerja di RSUD, jika ingin praktik di luar, maka harus dilakukan di luar jam kerja,” jelasnya.

Ia mencontohkan, RSUD Tidore Kepulauan memiliki dokter spesialis jantung, namun Rumah Sakit di Ternate juga membutuhkan kehadiran dokter tersebut.

“Kalau ada pasien jantung di RSUD Tidore dan dua dokter tersedia dalam waktu bersamaan, maka saya izinkan salah satu membantu di tempat lain,” kata dr. Fajar.

Untuk meningkatkan mutu dan pelayanan, dr. Fajar menyebutkan bahwa beberapa kontrak dokter akan berakhir pada November 2025 dan Januari 2026. Karena itu, pihak RSUD berupaya mempertahankan dokter spesialis dengan menaikkan insentif.

“Insentif dokter bedah sebelumnya sebesar Rp25 juta, sesuai standar Kementerian. Kami naikkan menjadi Rp35 juta agar mereka tetap bertahan,” ungkapnya.

Mansyur Armain
Reporter