Warga Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate meminta Pemerintah Kota (Pemkot) Ternate dan Provinsi Maluku Utara untuk membangun breakwater (pemecah ombak) di pesisir pantai RT 8/RW 4, karena terancam abrasi dan banjir rob semakin memprihatinkan.

Irwan Kasim (56), Ketua RT 8/RT 4 Kelurahan Rua mengatakan, pasir pantai di lokasi itu hampir 20 meter sekitar tahun 1980-an. Namun, dari tahun ke tahun kondisi pantai tersebut semakin buruk.

“Dulu sekitaran 1987-1988, bisa bermain bola di situ. Pantai ini masih bagus
Pohon besar masih ada. Namun saat ini masyarakat menganggap timbunan reklamasi di kota membuat air laut laut datang kamari. Itu pengaruh juga,” ungkapnya.

Rinto A Kadir, warga terdampak, mengatakan, di pantai tersebut sudah ada geobag (karung berisi pasir/batu sebagai pemecah ombak). Namun, bagi dia, geobag tidak efektif dan tidak bertahan lama karena rusak dihantam ombak.

Menurutnya, saat cuaca buruk dan disertai gelombang, maka air laut naik beserta pasir atau banjir rob sampai ke halaman belakang dan masuk ke dalam mereka. Hal tersebut, lanjutnya, semakin terasa saat ada timbunan reklamasi di kawasan kota memicu naiknya permukaan dan menggenangi permukiman di dataran rendah.

“Apalagi di sini lautan lepas. Kalau tong tunggu wali kota akan torang (kami) anyor (hanyut),” katanya kepada reporter Kadera.id, di lokasi, Rabu, 20 Mei 2026.

Karena, kata dia, keluhan soal ancaman abrasi pantai memang sudah disampaikan ke M. Tauhid Soleman, Wali Kota Ternate. Namun, selama dua periode memimpin, belum ada realisasi  dan tindakkan solutif untuk menangani maslaah tersebut. Warga menganggap diabaikan oleh pemerintah.

“Pak wali kota pernah turun dan bilang akan menindaklanjuti. Tapi, sampai saat ini belum bikin breakwater,” keluhnya.

Geobag (karung berisi pasir/batu sebagai pemecah ombak), yang rusak di pantai RT 09/ RW 08, Kelurahan Rua, Kecamatan Pulau Ternate. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Hal serupa disampaikan Jono Hajiwongi, warga terdampak lainnya. Ia bilang, halaman belakang rumahnya, kerap diterpa banjir rob. Bahkan material pasir tertimbun memenuhi belakang rumah. Karena jarak antara rumah mereka dengan pantai hanya 3-5 meter.

“Pokoknya, air naik sampai dapur sana. Di sini kosong-kosong tanpa breakwater. Ombak hantam terus menerus,” ungkapnya.

Mereka berharap, Sherly Tjoanda, Gubernur Maluku Utara bisa mendengar keluhan warga. Karena selama ini, Pemkot Ternate terkesan mengabaikan aspirasi masyarakat terdampak. “Kami meminta segera membangun breakwater agar rumah-rumah di pesisir pantai tersebut aman dari hantaman ombak,” pungkasnya.