Januari cuma nama. Pendapat yang mungkin salah bila terpengaruh saat melihat kalender di dinding. Januari memang nama. Penyebutan bagi yang percaya nama dan waktu. Apakah bisa terjadi perubahan nama? Januari itu nama warisan, selama berabad-abad. Kita boleh memberi nama tapi urusannya tetap waktu.
Adakah pengertian-pengertian dalam Januari atau nama yang berbeda selain waktu? Yang mengalami peristiwa-peristiwa bisa menaruh dalam bab Januari. Diri-diri yang bernama dan memberi kisah-kisah pun boleh terikat Januari. Yang penting dan remeh mungkin milik Januari. Mengapa berada di Januari?
Pada kata-kata, Januari bisa (terlalu) penting dalam sodoran makna. Bulan bernama Januari yang menjadi pusat, memiliki bentangan waktu panjang. Januari yang berawal dan berakhir menjadi latar walau tak selalu utama. Pengisahan mumpung Januari seolah memiliki hasrat-hasrat yang menguat dengan pengertian titik berangkat.
Kita tak usah bingung Januari. Yang ingin mengerti Januari bisa menyimak puisi-puisi. Taufiq Ismail menggubah puisi berjudul “Januari, 1949”.
Suguhannya untuk mengingat penderitaan atas nama Republik. Yang ditulis adalah “sejarah” hanya dengan larik-larik terbatas: Butiran logam membunuh saudaraku/ Dirabanya pinggangnya/ Ketika dia rubuh// Sejumput dendam meluluh hatiku/ Di mana kuburnya/ Semakin jauh. Kita menguak peristiwa silam. Imajinasi tak memadai untuk sampai ke sana. Pembaca kadang memerlukan kepustakaan sejarah dan keterangan dari saksi mata, yang biasa bermunculan di koran, majalah, dan radio.
Yang ditulis adalah kematian dan situasi Indonesia. Pada bait-bait lain, Taufiq Ismail menetapkan Januari sebagai ingatan impresif: Luka-lukamu/ Luka bumi kita/ Luka langit yang rapuh… Matanya trembesi/ Ngembara di padang Lalang/ Direnggutkan ke bumi/ Dengan tujuh letusan. Kejadian pada 1949. Taufiq Ismail menulis ingatan pada 1956. Jarak waktu yang membuat peristiwa itu kembali muncul saat Januari. Yang ditulis pun tidak utuh. Tokoh yang terbaca dalam puisi adalah “pemilik” Januari.
Pada pengalaman berbeda dan cara berbahasa dipengaruhi deru revolusi, kita menemukan puisi ditulis pada Januari 1965. Dulu, Indonesia diramaikan kata-kata keras dan panas. Di puisi, ada yang terbaca lembut dan tenang meski sangat bergejolak.
Yang menulis puisi bernama Darmanto Jatman. Ia tidak bermaksud mengekalkan sejarah. Kita membaca puisi berjudul “Sepasang Daun-Daunan”.
Puisi yang menjauh dari pidato-pidato bertema revolusi. Bagi yang ingin terhindar dari ilusi revolusi: Sepasang daun-daunan/ jatuh dari tangkainya/ Merekalah kupu-kupu dalam jiwaku/ Angin yang beku/ udara bahkan ruang/ Serta rasa-rasanya/ tak perlu lagi mendongeng/ tentang tiang-tiang baja yang tegak di mataku/ suara-suara mesin/ yang gemuruh di telingaku. Yang mengalami itu seakan mengelak dari dunia-nyata. Ia menilik situasi batin melalui kejadian yang besar dan kecil. Di luar diri adalah keramaian. Ia sedang membahasakan batin bersama yang sederhana. Kita membaca puisi agak rancu bila terseret sejarah politik berlatar 1965. Januari justru batin, bukan kesibukan revolusi.
Januari-Januari yang silam sulit menggembirakan pembaca. Januari bukan sejenis pesta atau luapan girang dengan segala alasan. Januari terasa duka dan berat. Puisi-puisi itu mendingan milik masa lalu saja. Kita tidak perlu merawatnya bila enggan dirundung kesedihan.
Pada masa yang berbeda, puisi-puisi dan Januari tidak selamanya kematian dan usaha menilik diri yang dijebak keriuhan. Yang rajin menemui dan memilih puisi-puisi atas nama Januari mungkin sempat tersenyum. Puisi yang digubah tidak mutlak mengenai Januari tapi pembaca mengingatnya dengan Januari, mengikuti pembedaan nama-nama dalam waktu.
Abad XX mau berakhir, Joko Pinurbo (1997) menulis puisi berjudul “Januari”. Puisi yang tidak terlalu mengesankan bagi para penggemarnya. Ia kalah bersaing dengan puisi-puisi lainnya. Kita menjenguk puisi yang berjudul “Januari” agar mengerti nasib Januari dalam arus puisi di Indonesia, dari masa ke masa.
Joko Pinurbo menulis: Januari yang lusuh datang padaku/ dengan wajah putih kelabu/ “Beri aku tempat perlindungan/ Musim begitu rusuh/ Bahaya mengancam dari segala jurusan”// Hujan yang basah kuyup tubuhnya/ kuungsikan ke dalam botol bersama kilat/ guruh, dan ledakan-ledakan petirnya// Angin yang menggigil kedinginan/ kusembunyikan di dalam gelas/ bersama desah, desau, dan desirnya. Ia mengingat Januari adalah hujan. Kini, kita membaca puisinya saat hari-hari sering hujan selama Januari. Jadi, puisi yang Januari tetap belum sukacita.
Januari belum necis dan mesem. Mengapa yang menulis Januari tidak mau memberi terang dan senang? Para penulis puisi menyulitkan Januari, sejak dulu sampai sekarang. Joko Pinurbo tidak mampu membahasakan Januari secara rancak. Januari belum megah.
Pengarang yang bertubuh ceking itu menulis: Semoga sekalian kata dan makna/ yang kuziarahi bertahun-tahun lamanya/ Ikhlas menerima cobaan/ yang tiada putusnya/ sebab memang begitu jauh/ jarak perjalanan di antara mereka. Januari tidak bisa dimengerti melalui tepuk tangan atau teriakan. Pada Januari, Joko Pinurbo mengajak kita tabah dan sejenak berdoa.
Di luar puisi, kita mengalami Januari yang murung dan pucat. Januari tidak cocok tebar kegembiraan di Indonesia. Sejak awal tahun, orang-orang mungkin rajin memberi makian ketimbang mengumbar rayuan-rayuan atas hidup yang menggairahkan dan terang. Januari masih deretan kesedihan dan kegagalan menjawab masalah-masalah paling sepele. Januari di Indonesia sangat sulit membahagiakan meski sehari saja.
*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritis sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.