Sultan Tidore, Husain Alting Sjah, menegaskan pentingnya peran adat dalam menjaga lingkungan hidup serta mengawasi aktivitas perusahaan pertambangan. Hal itu disampaikan dalam Forum Adat II Kesangadjian Bicoli yang digelar di Desa Bicoli, Kecamatan Maba Selatan, Kabupaten Halmahera Timur (Haltim), Rabu, 21 Januari 2026.

Dalam forum tersebut, Sultan menekankan adat bukan sekadar simbol budaya, melainkan instrumen sosial yang berfungsi melindungi alam dan hak-hak masyarakat adat dari eksploitasi berlebihan, terutama oleh perusahaan tambang.

“Kalau perusahaan tambang membuat kerusakan alam yang berlebihan, maka harus ditegur. Karena alam ini bukan milik pertambangan, tapi dipersembahkan Tuhan untuk semua makhluk,” kata Sultan di hadapan peserta forum.

Ia menyampaikan, forum adat menjadi ruang sah bagi masyarakat untuk menyampaikan kritik, baik terhadap perusahaan tambang maupun pemerintah. Namun demikian, Sultan mengingatkan agar penyampaian aspirasi dilakukan secara tertib tanpa menggunakan kekerasan.

Sultan juga menyoroti pengelolaan dana Corporate Social Responsibility (CSR) perusahaan tambang di Haltim yang dinilai belum dirasakan secara nyata oleh masyarakat. Ia mempertanyakan tingginya angka pertumbuhan ekonomi daerah yang disebut mencapai lebih dari 32 persen, tetapi tidak berdampak signifikan terhadap kesejahteraan warga.

“Pertumbuhan ekonomi besar, tapi masyarakat tidak merasakan. Yang tersisa justru kerusakan lingkungan. Dana CSR harus benar-benar digunakan untuk pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan dasar masyarakat,” ujarnya.

Sultan mengaku tidak menolak investasi. Namun ia menegaskan investasi harus berjalan seiring dengan penghormatan terhadap adat dan memberi manfaat langsung bagi masyarakat lokal.

“Saya tidak anti investasi. Tapi investasi harus membuat masyarakat sejahtera dan lingkungan tetap terjaga,” katanya.

Selain Sultan Tidore, forum adat tersebut turut dihadiri bobato dan masyarakat setempat. Namun, Pemerintah Kabupaten Halmahera Timur tidak tampak hadir dalam kegiatan tersebut. Bupati Haltim Ubaid Yakub, Wakil Bupati Anjas Taher, tidak berada di lokasi kegiatan.

Ahmad Djafar, Ketua Panitia Forum Adat II Kesangadjian Bicoli mengatakan, pihaknya sudah melayangkan surat kepada pemerintah daerah, tapi saat kegiatan berlangsung tak perwakilan pemerintah daerah.

“Padahal panitia berharap kehadiran mereka agar dapat menyerap aspirasi masyarakat adat,” tandasnya.