PERISTIWA yang terjadi di Jakarta, 1 Mei 2026, membuat kita mencatat tentang baju safari dan kaos. Pada mulanya, orang-orang berkerumun dan penguasa hadir. Mereka dalam perayaan yang ditandai dengan tanggal merah. Orang-orang memberi sebutan “buruh”, yang akhirnya memiliki banyak pengertian.

Buruh dalam buku-buku sejarah mendapat tambahan arti saat dunia makin berubah. Yang disebut buruh melampaui pengertian-pengertian yang dulunya masuk dalam kamus-kamus.
Pada hari peringatan itu yang “tidak” berubah pengertiannya adalah presiden.

Prabowo Subianto hadir dan berpidato, yang disaksikan oleh para pejabat dan artis. Jadi, pemberitaan mulai terpecah. Kita tidak sepenuhnya mendapat berita-berita yang memasalahkan buruh. Hadirnya orang-orang penting dan berpengaruh yang bukan buruh ikut “berebut” perhatian.

Hari itu telah berlalu. Berita-berita pun telah berganti. Perayaan yang terjadi hanya sebentar. Yang mau mengingat hanya sedikit orang. Ingatan yang rapuh. Ingatan yang justru tidak berpokok buruh. Kita pun ikut terjebak, tidak lagi memikirkan buruh tapi penasaran dengan tindakan presiden.

Sejak lama, Prabowo Subianto tampil dengan pakaian yang khas. Publik kadang menganggapnya ada kemiripan dengan selera berpakaian Soekarno. Yang pasti, Prabowo Subianto memang sering menjadikan Soekarno sebagai referensi dalam pelbagai urusan. Model pakaian dan warna yang dipilih tampak mengarah pada ingatan sosok dan sejarah. Pakaian itu seperti membawa “revolusi” dalam zaman yang berbeda. Pemaknaan yang tidak lagi memadai dalam kata-kata yang menggebu, kalimat-kalimat yang banyak menggunakan tanda seru.

Di lakon kekuasaan, Prabowo Subianto sadar sedang memainkan tanda-tanda pakaian. Maka, publik yang melihatnya dalam beragam acara mulai mencatat pesona kekuasaan yang terpancar dari pakaian. Di situ, ada keinginan menunjukkan kewibawaan. Pakaian yang mengesankan keakraban sejarah dan menyatakan kepentingan membentuk masa depan Indonesia.

Pada permulaan Mei, sosok itu membuat pertunjukan yang mengagetkan. Di keramaian dan siang yang sumuk, Prabowo Subianto melepaskan baju. Tangan itu melempar baju. Adegan yang biasanya kita lihat dalam konser musik atau akhir pertandingan sepak bola.

Mengapa baju dilempar di kerumunan orang? Kita tergesa mengartikan presiden adalah pujaan atau idola. Sehingga, baju yang dilempar bakal menjadi rebutan. Massa boleh menyatakan baju itu mengandung “berkah”, yang bersumber kekuasaan.
Yang terlihat adalah sosok penguasa yang mengenakan kaos berwarna hitam. Kaos tanpa gambar, tiada kata-kata.

Ribuan orang menjadi saksi penampilan presiden yang tidak biasa. Kaos berwarna hitam pun disaksikan oleh matahari. Orang-orang memilih menghindari penggunaan warna gelap bila siang terasa membara dan sinar matahari memaksa mengalirnya keringat. Di hadapan massa, Prabowo Subianto tidak sedang berperan sebagai musisi yang memainkan music cadas. Di situ, ia rajin memberi pandangan mata dan kata-kata.

Kita tinggalkan ingatan Prabowo Subianto dan Hari Buruh yang ditandai dengan baju dan kaos. Kita mengingat yang lebih lama. Di majalah Matra edisi Desember 1986, dimuat artikel berjudul “Setelah Safari Bikin Pria Tampil Lebih Berwibawa.” Kita sedikit menemukan serpihan sejarah dan pemaknaan safari berlatar masa Orde Baru. Yang hidup pada masa kekuasaan Soeharto ingat bahwa para pejabat punya kebiasaan mengenakan baju safari. Kita bisa membuktikannya melalui album foto Orde Baru.

Upaya merujuk sejarah: “Di Indonesia, setelan safari sangat populer. Mendiang Bung Karno yang dikenal sangat necis dalam berpakaian, mempopulerkan gaya safari yang waktu itu dikenal sebagai jas Bung Karno. Lengkap dengan peci dan tongkatnya yang khas, Bung Karno tampil di depan umum secara gagah dan penuh pesona. Mereka yang pernah bertemu dengan presiden pertama Republik Indonesia itu dalam suasana tidak resmi akan bisa merasakan besar pengaruh baju safari bagu penampilan seseorang.”

Namun, yang memastikan safari digemari di Indonesia tidak hanya Soekarno. Pada masa 1970-an, safari itu makin menandai selera busana Indonesia, yang mendapat pengaruh dari mode global.

Keterangan yang merekam zaman: “Safari makin digemari masyarakat Indonesia sekitar tahun 1972. Kemudian terus meningkat pada 1976. Saat itu safari sudah menjadi baju yang umum dipakai orang di hampir semua tingkatan masyarakat. Dari mulai menteri sampai dengan camat dan lurah. Dari para eksekutif perusahaan kakap sampai dengan pedagang kaki lima.” Akhirnya, Indonesia bersafari. Indonesia yang ingin berwibawa.

Selera itu tak abadi. Pada masa 1980-an dan 1990-an, para pejabat masih meyakini safari menebalkan nafsu kekuasaan. Namun, pilihan selera telah berubah meski penguasanya tetap Soeharto. Indonesia tidak mutlak bersafari. Namun, ingatan-ingatan safari terus tercatat, yang mengisahkan Indonesia dalam perintah-perintah. Kini, kita menyaksikan Indonesia masih menyisakan pesona safari meski agak sulit dimengerti dampak politiknya di mata anak-anak dan remaja.

Yang membuat kita memanggil ingatan silam gara-gara Prabowo Subianto yang mengenakan kaos oblong. Kaos itu punya pesan meski tidak menampilkan gambar dan kata-kata. Dulu, kaos oblong pernah menjadi manifestasi beragam pesan: dari iseng-hiburan sampai protes sosial-politik.

Di majalah Jakarta Jakarta, 13 Juli 1996, kita menikmati artikel panjang yang berjudul “Katakanlah dengan Oblong.” Orang-orang Indonesia suka mengenakan kaos, yang menandakan ikhtiar menghindari gerah dan menampilkan diri yang fleksibel. Kaos oblong berjarak dari formal atau resmi. Namun, kaos itu mengikutkan seruan-seruan yang memantulkan situasi rezim Soeharto. Yang menjadi pusat kaos oblong “bersuara” adalah Jogjakarta, Bali, dan Bandung.

Kaos telah memberi pengaruh besar. Yang mengenakan kaos memiliki beragam misi, mulai dari hasrat cakep sampai “pemberontakan”. Pada masa lalu, kaos-kaos yang memiliki gambar dan kata-kata seolah petunjuk keramaian ide dan imajinasi di Indonesia.

Kaos-kaos itu turut dalam gejolak-gejolak politik, sosial, dan kultural di Indonesia, selain bisnis yang menguntungkan. Konon, polemik estetika pun menyasar pada kaos-kaos. Bisnis itu memunculkan ingatan nama: Joger (Bali) dan Dagadu (Jogjakarta). Pada abad XXI, kaos-kaos makin lumrah dipakai saat dunia makin panas. Yang kita lihat adalah gambar dan kata-kata yang berebutan perhatian.

Di situ, ada permainan referensi, yang kita kelelahan bila ingin memastikan penjelasan dan konsekuensi di Indonesia yang terjerat pesimisme. Kita tidak mampu mencatat dan menderetkan makna-makna kaos oblong abad XXI berbarengan dengan kebingungan kita melihat presiden mengenakan kaos berwarna hitam, setelah melepas dan melempar baju.


*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia