Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi year on year (y-on-y) Provinsi Maluku Utara pada Juni 2026 mencapai 5,05 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 115,76.

Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan inflasi pada Juni 2025 yang tercatat sebesar 2,1 persen.

Sementara itu, inflasi month to month (m-to-m) pada Juni 2026 sebesar 2,45 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) atau Juni 2026 terhadap Desember 2025 mencapai 5,16 persen.

Simon Sapary, Kepala BPS Maluku Utara, mengatakan terdapat dua daerah di Maluku Utara yang mengalami inflasi y-on-y pada Juni 2026.

Kota Ternate mencatat inflasi sebesar 5,48 persen dengan IHK 116,39, sedangkan Kabupaten Halmahera Tengah mengalami inflasi sebesar 3,11 persen dengan IHK 112,89.

“Inflasi y-on-y terjadi karena kenaikan harga yang ditunjukkan oleh meningkatnya indeks pada 10 kelompok pengeluaran,” kata Simon, Rabu, 1 Juli 2026.

Menurutnya, kelompok pengeluaran yang mengalami kenaikan tertinggi adalah transportasi sebesar 12,22 persen, diikuti makanan, minuman, dan tembakau sebesar 6,73 persen, perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 6,69 persen, serta penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 4,60 persen.

Kenaikan juga terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 2,13 persen, kesehatan sebesar 1,55 persen, perlengkapan, peralatan, dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,52 persen. Selanjutnya, pakaian dan alas kaki sebesar 1,46 persen, pendidikan sebesar 0,99 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 0,15 persen.

Sementara itu, hanya satu kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi, yakni rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,35 persen.

“Sementara satu kelompok lainnya mengalami deflasi, yaitu kelompok rekreasi, olahraga, dan budaya sebesar 0,35 persen,” ujarnya.