Raut wajah para pengupas bawang di Pasar Barito Ternate mendadak berubah. Mereka yang sedang duduk berjejeran, mengernyitkan dahi ketika merespons pernyataan Presiden Prabowo Subianto tentang upah pengupas bawang sebesar Rp700 ribu per kilogram.

“Itu tidak mungkin. Masa upah kupas bawang hitung per kilogram Rp700 ribu. Kalau per karung masih wajar,” kata Lutfi (36), salah satu pengupas bawang, sembari menunduk lalu menatap tumpukan bawang di hadapannya, saat ditemui, Selasa, 18 Agustus 2026.

“Tidak sesuai kenyataan. Rasa lucu saja. Kalau memang 700 ribu per Kg, kayaknya samua orang datang kupas bawang.” Ia tersenyum sembari disusul tertawa kecil, membayangkan pertanyaan presiden dari atas podium terasa kontras dengan realitas yang dia dan rekan-rekannya alami.

Seorang pekerja saat mengupas bawang merah di Pasar Barito Ternate. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Menurutnya, upah Rp10 ribu per kilogram saja untuk para pengupas bawang sangat sulit, apalagi sampai ratusan ribu.

Lutfi mengaku, upah yang diberikan kepada mereka dihitung per kilogram Rp4 ribu. Patokan harga pengupahan tersebut belaku untuk mengupas bawang putih, bawang merah, dan cabai nona.

“Di sini Rp4 ribu per kilogram. Kalau satu karung tergantung kilogramnya,” ucapnya.

Menurutnya, upah dari pekerjaan mereka tidak menentu, tergantung stok dan permintaan pembeli. Dalam sehari, kata Lutfi, paling banyak bisa lebih dari 10 kilogram. Itu dikerjakan dari pukul 9 pagi hingga malam sekitar pukul 21.00 WIT.

Di Pasar Barito, sekitar 20-30 pekerja yang mengupas bawang. Di saat Presiden Prabowo “mengkhayal” upah melambung tinggi, mereka justru meminta sewajarnya jika pemerintah memperhatikan nasib pekerja informal tersebut. Apalagi, saat ini harga-harga sembako naik, sedangkan pendapatan mereka masih tetap stagnan.

“Saya mau upah buruh ini bisa naik. Tidak usah Rp700 ribu. Karena itu tidak masuk akal. Cukup Rp7 ribu saja,” ucapnya.

Suasana di sudut Pasar Barito Ternate ketika para pekerja sedang mengupas bawang dan membersihkan cabai. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Ramlia (42), pekerja lainnya, merasa aneh dengan statemen Prabowo Subianto. Sebagai pengupas bawang yang bekerja sudah tiga tahun di Ternate, justru upah yang disebutkan presiden itu jauh dari kenyataan. Ia mengaku, jika para pengupas bawang di Jakarta, upahnya sebesar itu, maka ia ingin bekerja di sana.

“Kalau itu betul, karyawan di sini mau ke Jakarta. 4 ribu saja tong mau kerja, apalagi 700 ribu,” katanya.

Menurutnya, meskipun hitungan upah 4 ribu per kilogramnya, ia bisa mengumpulkan uang Rp100 hingga Rp200 ribu per hari. “Tong ini pekerja 1 kilo dihitung Rp4 ribu. Tapi, jual di meja itu kan Rp70.000. Ini tidak sesuai.”

Ia berharap, meskipun upah mereka tidak sampai ratusan ribu per kilogram, minimal naik sampai Rp10 ribu per kilogram, itu sudah cukup.