Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Kelas III Ternate menyebutkan tren seismisitas (frekuensi relatif dan distribusi gempa bumi) di Maluku Utara pada Agustus 2026 masih normal pasca gempa 7,6 magnitudo pada April 2026 lalu.
Meski begitu, warga diingatkan tetap waspada karena Maluku Utara berada di salah satu zona tektonik paling aktif di dunia.
Gede Eriksana Yasa, Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kelas III Ternate mengatakan, dinamika tektonik hingga Agustus 2026 masih didominasi gempa dangkal kurang dari 50 km dengan magnitudo menengah. Karena itu, guncangan gempa hampir tidak dirasakan masyarakat.
Hasil monitoring Stasiun Geofisika Kelas III Ternate mencatat pelepasan energi gempa masih mayoritas berada di laut Maluku, namun Maluku Utara juga punya tren gempa. Menurutnya, aktivitas tektonik di laut Maluku dan Maluku Utara menunjukan sistem subduksi ganda sedang merespons perubahan tekanan batuan secara bertahap. Karena itu, perkembangannya perlu dipantau secara intens.
Apalagi, hampir semua wilayah pesisir Maluku Utara memilik tingkat rawan tsunami. Seperti yang pernah terjadi di pesisir Barat Halmahera, Ternate, Tidore, dan bagian selatan Pulau Taliabu.
“Mengenai waktu tiba gelombang tsunami, hasil pemodelan menunjukkan wilayah pesisir Maluku Utara berpotensi mengalami kedatangan gelombang dalam waktu kurang dari 15 menit,” katanya kepada Kadera.id, Sabtu, 15 Agustus 2026.
Ia mengungkapkan, kondisi propagasi yang sangat cepat ini dipicu oleh dua faktor utama. Pertama, pesisir Barat Pulau Halmahera dan Pulau Ternate sampai Tidore merupakan struktur geologi laut Maluku. Karena zona deformasi aktif di dasar laut berjarak sangat dekat dari garis pantai, saat terjadi gempa memicu tsunami di perairan Halmahera Barat, Ternate, dan Tidore.
Kedua, kondisi laut Maluku yang berupa palung laut dangkal atau dalam dengan batimetri yang melebihi ribuan meter membuat gelombang tsunami merambat dengan kecepatan sangat tinggi mencapai, ratusan kilometer per jam, sebelum akhirnya melambat dan menjulang saat memasuki wilayah pantai yang dangkal.
“Kombinasi dua faktor utama tersebut menjadikan wilayah masuk kategori ancaman tsunami. Ini sangat krusial karena jeda waktu respons dan evakuasi masyarakat pasca gempa menjadi sangat terbatas,” ucapnya.
Gede menjelaskan, suatu gempa tektonik berpotensi membangkitkan tsunami, harus memenuhi empat syarat utama: seperti pusat gempa berada di laut, dengan kedalaman hiposenter 60 sampai 70 km, kekuatan lebih dan kurang 7,0 magnitudo, yang melepaskan energi dalam skala besar untuk menggeser massa air laut yang masif, dan terjadi pergeseran vertikal (thrust/normal fault) dipicu sesar naik (thrust fault) atau sesar turun (normal fault).
“Kalau perbandingan gempa M7,6 (April 2026) dan gempa M5,7 (24 Juli 2026) adalah gempa M7,6 melepaskan energi puluhan kali lebih besar dibanding M5,7. Kalau gempa 24 Juli 2026 tidak berpotensi tsunami,” katanya
Ia bilang, untuk mengantisipasi gempa bumi yang dapat memicu tsunami, BMKG kerap memberikan peringatan dini dan mitigasi PDT 1.0 dalam waktu kurang dari 3 menit. Meski begitu, ia juga menyarankan kepada pemerintah daerah, agar menambah jalur evakuasi yang hingga kini belum terintegrasi dengan tata ruang pemukiman padat, perlu menggalakkan simulasi evakuasi mandiri jika gempa terasa 20 detik dan evakuasi diri ke daratan tinggi 20 meter dalam kurun waktu 20 menit, tanpa menunggu sirine peringatan.
Gede mengimbau masyarakat agar tetap waspada karena Maluku Utara berada di zona tektonik paling aktif di dunia, yang dapat memicu gempa bumi hingga tsunami. Hal ini untuk meminimalisir resiko atas bencana tersebut. Ia juga meminta agar tetap memantau informasi dari kanal media sosial maupun situ resmi BMKG.
“Jangan mudah terprovokasi oleh isu atau ramalan gempa yang tidak dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah,” ucapnya mengakhiri.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.