Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap 17 Agustus, penjualan bendera Merah Putih biasanya menjadi salah satu sumber penghasilan bagi pedagang musiman. Namun, kondisi berbeda dirasakan pedagang bendera di Bobong, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara.

Memasuki Agustus 2026, pembeli bendera justru sepi. Pedagang lebih banyak menghabiskan waktu menunggu dibanding melayani pembeli. Kondisi ini jauh berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, ketika bendera banyak diborong, terutama oleh instansi pemerintah dan sekolah.

Nurbaya (45), salah satu pedagang bendera di sekitar Bundaran Bobong, mengatakan penjualan tahun ini mengalami penurunan drastis. Jika sebelumnya dagangannya bisa laris hampir setiap hari, kini dalam sehari bahkan tidak ada satu pun pembeli.

“Tidak sama dengan tahun-tahun sebelumnya, pemasukan banyak. Tapi mulai dari perayaan tahun 2025 dan kini 2026, pembeli sangat kurang. Bahkan satu hari itu tidak ada pembeli sama sekali,” kata Nurbaya, Rabu, 12 Agustus 2026.

Menurutnya, pembeli yang datang tahun ini rata-rata berasal dari desa-desa. Sementara pada tahun-tahun sebelumnya, pesanan dalam jumlah besar biasanya datang dari instansi pemerintah untuk menghiasi sejumlah ruang publik di Kota Bobong.

Ia mengenang, pada masa kepemimpinan sebelumnya, pemerintah kerap membeli bendera Merah Putih maupun bendera pelangi dalam jumlah banyak untuk dipasang di berbagai lokasi, seperti bundaran dan kawasan pasar malam.

“Di masa kepemimpinan sebelumnya, mereka selalu memborong bendera untuk dipasang di jalan-jalan, di Bundaran Bobong, maupun di pasar malam. Jadi bendera cepat laku,” ujarnya.

Dari penjualan selama momentum perayaan kemerdekaan, Nurbaya mengaku sebelumnya bisa meraup pendapatan sekitar Rp5 juta hingga Rp6 juta. Namun, kondisi tersebut kini berubah. Ia menyebut suasana penjualan tahun ini jauh lebih sunyi.

Untuk menarik pembeli, Nurbaya mencoba berbagai cara, termasuk menurunkan harga dan mempromosikan dagangannya melalui media sosial, seperti Facebook. Namun, strategi tersebut belum banyak membantu meningkatkan penjualan.

Harga bendera Merah Putih yang sebelumnya Rp60.000 kini diturunkan menjadi Rp50.000. Bendera Pantura Garuda dari Rp400.000 menjadi Rp370.000, sedangkan bendera pelangi dari Rp75.000 menjadi Rp65.000.

“Hal itu saya lakukan untuk menarik pembeli supaya jualan laku. Namun tetap sama, pembeli masih sepi,” katanya.

Meski pendapatan dari berjualan bendera tidak lagi sebesar tahun-tahun sebelumnya, Nurbaya memilih tetap bersyukur. Setiap hari ia tetap membuka lapak dan menunggu pembeli dari pagi hingga sore, setidaknya hingga momentum perayaan HUT Kemerdekaan RI berakhir.

“Ya, walaupun hasilnya kurang, bahkan satu hari tidak ada sama sekali, saya tetap bersyukur. Mungkin belum rezeki,” ujarnya.