SEPEKAN terakhir di akhir Agustus 2026, publik Indonesia dihebohkan oleh potongan video yang memperlihatkan Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menyebut kemungkinan terjadinya “patahan sejarah” yang dapat mempercepat pergantian kepemimpinan nasional sebelum Pemilu 2029. Di samping Jokowi dalam sebuah forum, ia berbicara tentang “insting politik” yang mengatakan situasi “kayaknya enggak sampai 2029.”
Jika kita baca fenomena ini melalui kacamata antropologis, pernyataan Budi Arie tak ubahnya sebuah pertaruhan (perjudian) politik murni. Dalam pandangan Anthony Pickles (2023), Associate Professor dalam Antropologi Sosial di University of Birmingham, perjudian terjadi ketika seseorang mempertaruhkan sesuatu yang berharga pada sebuah peristiwa yang hasilnya tidak pasti, dengan aturan yang disepakati sebelumnya.
Dalam konteks ini, Budi Arie jelas sedang mempertaruhkan kredibilitas politik dan relasinya dengan kekuasaan pada sebuah spekulasi tentang masa depan yang tidak pasti.
Permainan Berbahaya
Budi Arie secara blak-blakan menghubungkan pandangannya dengan keresahan sosial dan ekonomi, bahkan menyamakannya dengan situasi menjelang reformasi 1998. Ia menilai anomali sosial berpotensi mengubah arah sejarah. Namun, tindakan menggulirkan narasi semacam ini di ruang publik bukanlah sekadar analisis; melainkan sebuah permainan berbahaya.
Dalam ulasannya atas berbagai teori perjudian, Pickles mengutip pemikiran Gregory Bateson yang menyatakan bahwa praktik bertaruh pada dasarnya adalah kombinasi antara “permainan” dan “ancaman.” Di sinilah letak bahayanya. Pernyataan Budi Arie bergerak di antara “candaan” politik dan “ancaman” terselubung terhadap stabilitas pemerintahan yang sah. Ia bermain dengan api, tetapi dengan nada serius yang potensial memicu gejolak di tingkat massa aksi dan tentu saja akar rumput.
Pernyataan ini menuai reaksi keras dari berbagai pihak. Partai Gerindra menegaskan tidak terpengaruh. PSI menuding adanya upaya adu domba. PAN menyatakan kekuasaan tidak ditentukan oleh “insting” belaka.
Pernyataan Budi Arie tidak bisa dilepaskan dari simbolisme “pencopotan” dirinya sebagai Menteri Koperasi oleh Prabowo pada September 2025. Konteks inilah yang membuat ucapannya terdengar seperti “balas dendam simbolis” atau upaya menggoyang legitimasi, bukan sekadar pendapat pribadi tentang kondisi ekonomi makro.
Satu hal yang menjadikan spekulasi ini semakin tidak bertanggung jawab adalah karena ia berani membandingkan situasi hari ini dengan krisis multidimensi 1998. Umumnya, manusia cenderung menghitung risiko secara keliru, terlebih ketika diliputi oleh emosi atau kepentingan politik jangka pendek.
Budi Arie dan pihak-pihak yang mendukung narasi ini bertindak seperti penjudi amatir yang membaca “tanda-tanda” secara subyektif. Mereka mengabaikan fakta konstitusional bahwa mekanisme pergantian kepemimpinan di Indonesia sudah diatur secara jelas oleh undang-undang. Mekanisme itu tentu saja jauh dari jangkauan sekadar “firasat” politik.
Walau keresahan sosial mulai muncul di beberapa daerah, misalnya soal dana bagi hasil antara pusat dan daerah, akan tetapi tidak ada intensi massa untuk menjatuhkan pemerintah. Sebab, kita telah bersepakat untuk taat konstitusi yang dengan demikian maka Presiden Prabowo akan berakhir masa kepemimpinannya pada 2029.
Olehnya itu, narasi “patahan sejarah” ini dalam pandangan saya justru berpotensi merusak hubungan strategis antara Prabowo dan Jokowi yang selama ini terjalin erat, at least di permukaan dari gesture dan kalimat-kalimat yang dilontarkan Presiden Prabowo. Projo sendiri melalui Sekjennya menyatakan bahwa pernyataan tersebut tidak mewakili organisasi.
Dalam kerangka pemikiran yang dipaparkan Pickles, praktik perjudian seringkali berfungsi sebagai ruang introspeksi sosial budaya—sebuah ritual yang belum tentu maknanya, yang digunakan untuk menginterogasi berbagai kemungkinan.
Sayangnya, ruang “introspeksi” yang dibuat Budi Arie bukanlah ruang yang konstruktif, melainkan ruang yang meracuni iklim politik. Ia menginterogasi “kemungkinan” jatuhnya pemerintahan di tengah masyarakat yang sedang berjuang menghadapi tekanan ekonomi. Ini adalah tindakan yang sama sekali tidak terpuji dan berbahaya bagi kohesi nasional.
Presiden Prabowo hingga 2029
Sudah saatnya kita menghentikan permainan spekulasi semacam ini. Pemerintahan Prabowo Subianto dengan visi besarnya masih membutuhkan dukungan semua pihak, bahkan lewat berbagai kritik konstruktif. Menggiring opini tentang “jatuhnya” rezim sebelum waktunya hanya akan mengganggu stabilitas dan merugikan kepentingan rakyat banyak.
Dalam industri perjudian modern, sering terjadi manipulasi substantif terhadap diri manusia melalui eksploitasi psikologis. Demikian pula dalam politik bahwa narasi “patahan sejarah” dapat dilihat sebagai manipulasi psikologis massal yang hanya menguntungkan segelintir orang yang ingin tetap relevan di tengah perubahan rezim.
Dalam konteks ini, pernyataan Budi Arie bukanlah tentang kepedulian terhadap rakyat kecil, melainkan tentang upaya mempertahankan relevansi politik segelintir elite di tengah ketidakpastian. Sekali lagi, ini adalah permainan yang hanya menguntungkan para pemainnya, bukan rakyat yang sesungguhnya menanggung beban krisis.
Kita sebaiknya tidak terjebak dalam permainan ini. Sejarah telah mengajarkan harga mahal dari ketidakstabilan. Sudah saatnya elite politik kita berhenti bermain dengan nasib bangsa demi ambisi pribadi. Stabilitas dalam hal ini, adalah taruhan terbesar kita, dan kita tidak boleh kehilangan itu.
*Penulis merupakan Dosen Antropologi Sosial Universitas Khairun, Ternate

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.