Nilai impor Maluku Utara sebesar US$5.102,47 atau 32,40 persen sepanjang Januari sampai Agustus 2026. Angka ini dinilai naik sebesar US$1.248,74 dibanding tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2026, impor Maluku Utara sebesar US$644,14 juta yang mengalami kenaikan sebesar US$52,15 juta atau naik 8,81 persen dibandingkan Agustus 2025.
Ada tiga barang impor tertinggi, yakni garam, belerang, dan kapur. Tiga dari lima negara masih mendominasi impor ke Maluku Utara, yakni, Tiongkok, Filipina, dan Kanada.
Halim Arrosid, Pelaksanaan Tugas (Plt) Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Maluku Utara mengatakan, impor sepanjang Januari sampai Agustus 2026 tersebut disumbang dari sepuluh golongan barang utama dengan peranan 94,96 persen atau sebesar US$4.845,47 juta.
Namun, golongan garam, belerang, kapur mengalami peningkatan nilai impor tertinggi senilai US$906,16 juta atau 184,67 persen. Selain itu, bahan bakar mineral, sebesar US$383,88 juta atau naik 99,45 persen.
Untuk golongan mesin dan peralatan listrik meningkat sebesar US$279,29 juta atau naik 55,78 persen, bijih, kerak, dan Abu logam meningkat sebesar US$197,43 juta atau naik 65,77 persen, bahan kimia anorganik naik 40,39 persen atau sebesar US$81,46 juta.
Sementara untuk berbagai produk kimia meningkat sebesar US$14,62 juta atau naik 17,78 persen. Begitupun perabot, penerangan rumah yang meningkat hingga sebesar US$11,90 juta dengan presentase 11,96 persen.
“Plastik dan barang dari plastik meningkat sebesar US$6,30 juta atau naik 16,81 persen,” katanya.
Meski begitu, untuk mesin-mesin pesawat mekanik mengalami penurunan
sebesar US$673,86 juta atau turun 46,23 persen, kendaraan mengalami penurunan sebesar US$43,70 juta atau turun 34,71 persen.
Ia bilang, ada lima negara pengimpor di Maluku Utara seperti seperti Tiongkok, Filipina dan Kanada, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Meski begitu, ada tiga negara pengimpor terbesar.
“Tiga negara pemasok barang impor terbesar adalah Tiongkok US$2.613,30 juta (51,22 persen), Filipina US$531,12 juta (10,41 persen), dan Kanada US$400,15 juta (7,84 persen). Sementara neraca perdagangan pada periode ini mengalami surplus US$6.672,80 juta,” ungkapnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.