Judul buku: Aimuna dan Sobori
Penulis: Hanna Rambe
Tebal: 481
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Cetakan pertama: Oktober 2013
ISBN: 978-979-461-854-7
“Kurubela! Budak Tegis dan Engles! Tarima ini! Ale malawang pa pani-pani eee! Ale musti mati! Seng ada cengkei galap lai! Kompani rugi terus deng Ale pung cengkei,” bentak seorang pani-pani tinggi besar, sambil menikam perut Kurubela dengan pedang hingga tewas. (hlm. 3).
Kurubela adalah Ayah Bori. Lelaki yang keras melawan pani-pani–Kompani–alias VOC, yang datang menghancurkan desa-desa penghasil cengkeh.
Novel ini dimulai dengan perlawanan Kurubela dan Istrinya, orang tua Sobori, terhadap pani-pani. Dan akhirnya mereka terbunuh. Pun, orang tua Aimuna yang berada di desa lain. Desa mereka juga diserbu oleh pani-pani. Termasuk desa tempat tinggal kakek mereka, Gamati.
Sobori dan Aimuna bersaudara sepupu. Kekek Gamati membawa kedua cucunya pindah ke desa yang aman. Dalam perjalanan itulah pembaca disuguhi kondisi desa-desa yang menderita akibat hongi dan ekstirpasi atau pembinasaan pohon cengkeh, menurut daftar yang telah dibuat lebih dulu. Terutama pohon cengkeh yang sudah berbunga sekali atau lebih. Dengan tujuan mengatur agar jumlah pasokan putik cengkeh tidak terlalu banyak di pasar internasional di Eropa.
Rumah dan kebun hancur dibakar oleh hongi. Mereka melarikan diri dengan menyisir hutan demi mengamankan diri ke tempat lain dengan menyebrangi sungai yang penuh bebatuan dan gunung yang terjal.
Lewat novel yang berjudul Aimuna dan Sobori, Hanna Rambe, menceritakan Kurubelo, lelaki yang berhati baja itu melawan pani-pani, dan selalu menaruh dendam–karena menghancur desa dan cengkeh mereka. Walaupun pada akhirnya berujung pada kematian bersama istrinya, dan meninggalkan Sobori sebatang kara.
Hanna menarasikan, selain desa tempat tinggal Kurubela, desa orang tua Aimuna, juga diserbu oleh pani-pani hingga membunuh orang tuannya. Pun juga desa Kakek Sobori dan Aimuna, Gamati. Ketiga desa itu dibakar habis bersamaan dengan pohon cengkeh.
Gamati kemudian menyelamatkan Sobori dan Aimuna, yang ditinggalkan oleh orang tua mereka; hidup sebatang kara. Menyelamatkan mereka berdua–pindah ke desa yang lebih aman dari pani-pani. Dalam perjalan tersebut, kita disuguhkan oleh kondisi desa-desa yang menjerit akibat dari hongi dan ekstripasi.
Penerapan hongi, program penghancuran kebun-kebun cengkeh, baik yang tumbuh alami maupun yang ditanam oleh penduduk, di pulau-pulau asalnya di Maluku Utara–Ternate, Tidore, Moti, Makian dan Bacan dipindahkan ke Pulau Ambon, Seram, dan sekitarnya dengan tujuan supaya persediaan di pasar dunia sedikit, hingga harganya tinggi.
Hanna Rambe juga dalam “Sekapur Sirihnya”, dengan mengutip peneliti, Jack Turner, penulis buku The History of Temptation, 2004. Buku yang melukiskan penemuan para antropologi di dusun kecil di tepi sungai Efrat–Suriah.
Sebuah lokus di sana yang mengalami kebakaran. Kemudian puing rumah itu selama ribuan tahun ditimbun dengan rumah lain, sampai abad ke-20. Ditemukan sejumlah lempengan tanah liat dengan tulisan terpahat, serta mangkuk keramik berisi putih cengkeh.
Kebakaran itu secara tak sengaja menjadi tungku terbaik untuk mengawetkan tanah liat. Terbaca, pemilik rumah yang pertama, yang terbakar, bernama Puzurum. Pada lempengan lain, tertulis seorang pengusaha setempat. Yadihk-Abu. Masa pemahatan, 1721 Sebelum Masehi.
Pada masa itu sampai abad ke-15 Masehi, tak umum diketahui tempat asal cengkeh. Baru pada abad ke-16 ditemukan jalan ke lima pulau mungil Ternate, Tidore, Moti, Makian, dan Bacan. Cengkeh hanya ada di sana.
Kisah ekspedisi negara jauh mengarungi gelombang demi mendapatkan rempah-rempah–cengkeh, pala dan kayu manis. Hanna, memotret realitas kelam masa lalu kita–kebijakan ekstripasi dan pelayaran serta kejahatan hongi dan perbudakan. Pun mengisahkan pemusnahan cengkeh dan pala. Sebuah novel sejarah tentang perlawanan terhadap wabah hongi–ekonomi cengkeh yang melanda manusia di bumi subur dan laut yang kaya.
Dari pulau-pulau kecil mungil ini, cerita tentang pemusnahan, persekongkolan, maling, perkoncoan yang menjadi ciri khas pani-pani demi menguasai atau memperoleh keutungan besar dari perdagangan cengkeh lahir. Ia menceritakan persaingan ketat antara Olan (Belanda), Sapana (Spanyol), Tegis (Portugis), dan Engeles (Inggris), mencari daerah-daerah baru di luar Eropa. Rempah-rempah cengkeh dan pala. Dengan tujuan mengawetkan, mengharumkan dan memperlezat makanan dan minuman. Serta obat-obatan, harum-haruman di bidan keagamaan.
Rempah-rempah yang memiliki sejarah panjang dan fantastis. Dan rekam jejak hongi, menyajikan suatu kisah kelam di kepulauan yang menghasilkan rempah-rempah. Ia menarasikan kejahatan pani-pani, ihwal pemusnahan cengkeh, yang terjadi di masa lalu, dan memperlihatkan pada kita berbagai lembaran sejarah masa lalu kita yang sangat penting, tapi kerap terabaikan dalam perbincangan.
Novel Aimuna dan Sobori, sebuah “dokumen historis” meminjam kata Manneka Budiman, adalah tentang perlawanan terhadap wabah hongi, sitem ekonomi cengkeh yang memiliki sejarah kelam: pembunuhan, perbudakan, persekongkolan, politik hegemoni eropa, dan konglomerasi pertama dari Sultan lewat tangan dan pikiran Olan (Belanda).
Gerson Poyk dalam sinopsisnya, “… novel ini mengundang ilham untuk mengadakan perlawanan kreatif yang ditopang oleh bumi subur laut kaya terhadap wabah kapitalisme buas yang menyebabkan pengangguran dan kemiskinan.” Dengan begitu, novel ini layak dibaca oleh semua kalangan.
*) Penulis merupakan jurnalis Kadera.id

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.