Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan dan menghanguskan perkebunan warga, tetapi juga mengancam kesehatan fisik, kondisi psikologis, serta keberlangsungan hidup masyarakat terdampak.

Di balik lahan yang terbakar, terdapat kekhawatiran keluarga terhadap kesehatan anak-anak, kehilangan sumber pendapatan, hingga ketidakpastian masa depan.

Merespons kondisi tersebut, Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, berkolaborasi dengan Yapindo Scholar and Innovator Network (Yapscholn), didukung Perempuan Laju Perkasa (PLP), menggelar edukasi dan pendampingan kesehatan pascakarhutla secara virtual pada Selasa, 13 Oktober 2026.

Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas tenaga kesehatan sekaligus mendorong pemulihan kesehatan fisik dan mental masyarakat yang terdampak karhutla.

Kegiatan dibuka oleh Hetty Andika Perkasa, istri mantan Panglima TNI Jenderal TNI (Purn.) Andika Perkasa, yang juga menjabat Ketua Perempuan Laju Perkasa. Ia memberikan dukungan terhadap upaya kemanusiaan dan kolaborasi lintas sektor dalam pemulihan masyarakat pascabencana di Pulau Taliabu.

Sesi edukasi menghadirkan tiga narasumber dari Yapscholn, yakni Dr. dr. Lucy Widasari, M.Si., dosen Program Magister Universitas Aufa Royhan Padangsidimpuan; Dr. Ernyasih, S.K.M., M.K.M., Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Muhammadiyah Jakarta; serta Marella Ardelia Sulistyorini, S.Psi., mahasiswa Pendidikan Profesi Psikolog Universitas Mercu Buana Yogyakarta.

Melalui perspektif keilmuan yang berbeda, para narasumber membahas perlindungan kesehatan masyarakat dari paparan asap karhutla, penguatan kesiapsiagaan tenaga kesehatan, serta pentingnya deteksi dini dan pendampingan psikologis bagi warga terdampak.

Materi yang disampaikan menegaskan bahwa pemulihan pascabencana tidak cukup hanya berfokus pada penanganan penyakit fisik. Kesehatan mental, ketahanan keluarga, dan keberlanjutan penghidupan masyarakat juga perlu mendapat perhatian.

Kegiatan ini diikuti jajaran Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu, kepala puskesmas, dokter, bidan, perawat, serta tenaga kesehatan lainnya.

Penguatan kapasitas tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan tenaga kesehatan dalam mendeteksi dini dampak karhutla, mengidentifikasi kelompok rentan, memberikan edukasi yang tepat, serta memastikan masyarakat memperoleh pelayanan kesehatan dan dukungan psikososial secara cepat dan terpadu.

Salah satu pendekatan yang menjadi perhatian adalah Psychological First Aid (PFA) atau dukungan psikologis awal. Pendekatan ini diperlukan untuk membantu masyarakat menghadapi tekanan emosional akibat bencana dan mendukung proses pemulihan psikologis mereka.

Melalui kolaborasi lintas profesi, tenaga kesehatan diharapkan mampu memberikan pendampingan yang tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga memperhatikan kondisi sosial dan psikologis keluarga terdampak.

Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu menyampaikan apresiasi kepada Yapscholn, Perempuan Laju Perkasa, para akademisi, dan narasumber atas kontribusi mereka dalam mendukung penanganan dampak karhutla.

Dalam sambutannya, Nurbintang Tolaohu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pulau Taliabu menekankan bahwa persoalan kesehatan pascabencana tidak dapat ditangani oleh sektor kesehatan semata.

Dampak karhutla mencakup berbagai aspek, mulai dari gangguan pernapasan akibat paparan asap, kesehatan mental, ketahanan keluarga, hingga keberlangsungan mata pencaharian masyarakat. “Karena itu, sinergi pemerintah daerah, akademisi, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal menjadi kebutuhan penting dalam proses pemulihan,” katanya.

Ia berharap kolaborasi dengan Yapscholn dapat berkembang menjadi kemitraan strategis yang berkelanjutan. Kemitraan tersebut diharapkan melahirkan program nyata, riset, dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan daerah, sekaligus memberikan dampak terukur bagi peningkatan derajat kesehatan masyarakat Pulau Taliabu.

“Api boleh padam, tetapi kepedulian tidak boleh berhenti,” menjadi pesan yang menguatkan semangat pemulihan pascakarhutla.

Di tengah keterbatasan dan beratnya tantangan pascabencana, tenaga kesehatan memiliki peran penting dalam menjaga harapan masyarakat. Pelayanan kepada warga, perawatan bagi mereka yang sakit, serta pendampingan terhadap keluarga terdampak merupakan bagian dari upaya kemanusiaan untuk memulihkan kehidupan.

“Dari tangan tenaga kesehatan, tumbuh harapan. Dari ilmu dan kepedulian, lahir kekuatan. Dan dari Taliabu, kita buktikan bahwa bencana boleh menguji kehidupan, tetapi tidak akan memadamkan semangat kemanusiaan. Bersama kita pulihkan kesehatan, bangkitkan harapan, dan wujudkan Taliabu yang lebih sehat, tangguh, dan berdaya,” tandasnya.