Andika (31) menatap layar ponsel yang terpasang pada holder spion sepeda motor di tepi jalan simpang tiga kawasan Masjid Al-Munawwar, Kota Ternate, Kamis, 20 Agustus 2026.
Siang itu, ia duduk menunggu di atas jok sepeda motor Beat sembari bolak-balik mengecek aplikasi ojek online (ojol) Grab Indonesia yang sudah aktif lebih dulu.
“Ini pendapatan saya Rp107.900 dari 9 orderan,” katanya sembari menunjuk layar ponselnya, saat ditemui reporter Kadera.id.
Setiap orderan yang ia dapat akan dipotong operator mitra perusahaan platform Grab Indonesia. Namun, ketika ditanya soal pemotongan 8 persen untuk perusahaan aplikator seperti yang disebut Presiden Prabowo Subianto beberapa waktu lalu, ia merespons hati-hati.
Pemotongan 8 persen itu, kata dia, dimaksud untuk perusahaan aplikator, sementara pengemudi berhak menerima 92 persen dari pendapatan tarif perjalanan.
Meski begitu, kata Andika, pemotongan 8 persen tersebut mungkin berlaku untuk daerah lain. Sementara di Ternate, pemotongan masih tetap 20 persen. Atau dari pendapatan Rp100 ribu, ia hanya terima Rp80 ribu. Tapi sering turun sampai Rp70 ribu.
“Di lapangan tidak seperti itu. Ada permainan dari aplikasi. Kadang tidak sampai 80 ribu. Hanya 70 ribu,” ungkap driver ojol Grap ini.
Bagi dia, potongan bukan sekadar angka di aplikasi. Karena, dari penghasilan yang tersisa, ada biaya bahan bakar minyak (BBM), perawatan motor, makan, cicilan, dan kebutuhan keluarga yang harus dibayar.
“Paling Rp90 ribu yang saya terima bersih setiap hari. Itu sudah masuk dompet,” katanya.
Andika mengaku, ia melayani sejumlah orderan seperti GrabBike, GrabFood, GrabExpress, dan GrabMart. Setiap Senin sampai Jumat rutinitasnya akan dimulai pada pagi hingga sore. Ia akan sibuk pada jam-jam tertentu karena ramai orderan. Misalnya, pukul 6.00-9.00 WIT, pukul 12.00-14.00 WIT. Sisa waktunya akan diisi dengan menunggu dan bekerja sampai orderan terkahir pada sore hari.
Namun, kondisi tahun ini cukup memberatkan para driver ojol. Dari kenaikan sembako hingga BBM kerap dikeluhkan di setiap pangkalan ojek. Andika bilang, kehidupan perkejaan ini di Ternate punya masalah yang kompleks. Menurutnya, tak masalah ada kenaikan harga BBM nonsubsidi seperti Pertamax, karena ia mengisi BBM Subsidi Pertalite.
Masalahnya, Pertalite hanya tersedia di sebagian kecil SPBU, yang membikin mereka kesulitan akses, apalagi sampai membuang waktu berjam-jam karena harus mengantre.
“Ini dong (mereka) layani hanya di berapa SPBU saja. Tong kejar antri minyak subsidi. Jadi tong mau SPBU Kalumata dan lainnya juga layani Pertalite.
Ia bilang, mestinya lebih banyak SPBU di Kota Ternate dapat melayani BBM subsidi agar memudahkan warga. Sementara untuk kebijakan mengenai tarif dan potongan harus mempertimbangkan kondisi driver di lapangan.
Rinaldi (28), driver lainnya, mengatakan aplikasi ojol belum menerima notifikasi pemotongan 8 persen tarif untuk perusahaan aplikator. Namun, kini perlahan berubah. Dari orderan Rp22.100, dipotong tiga ribu. Sehingga ia hanya menerima bersih Rp19.100.
Pemotongan yang besar untuk perusahaan operator membuat intensitas kerja para driver harus lebih tinggi. Untuk Rinaldi sendiri, ia memasang target 20 orderan dalam sehari. Bila hingga sore hari belum sesuai harapan maka ia akan bekerja hingga malam hari.
“Baru-baru pemotongan kecil, tapi tiba-tiba pemotongan nae lagi,” katanya.
Di tengah biaya operasional dan kebutuhan harian yang naik, pemotongan biaya aplikasi 8 persen itu masih terasa jauh dari kenyataan di balik kemudi driver ojol Ternate.
Mereka masih tetap menancap gas, memburu order, dan menghitung pendapatan setelah dipotong berbagai biaya. Bagi mereka, yang dibutuhkan bukan sekadar kabar soal potongan yang lebih kecil, tetapi sekaligus kenyataan di lapangan yang benar-benar bisa menggenjot penghasilan.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.