Akademisi Kehutanan Universitas Khairun, Much. Hidayah Marasabessy menilai kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) dan tempat pemrosesan akhir (TPA) Buku Deru-Deru dapat mengancam keberadaan kuskus matabiru. Karena di kawasan tersebut merupakan habitatnya.

Ia bilang, kondisi seperti ini peluang kebakaran akan semakin tinggi. Apalagi di areal di mana methana (CH4) di produksi setiap saat jika tidak dihindari. Karena, sekecil apa pun pemantiknya bisa memicu bencana kebakaran.

“Satu sampai dua, tentu mengancam keberadaan kuskus matabiru, karena habitatnya rusak. Kondisi ini kuskus dapat terpanggang di habitatnya,” katanya kepada reporter Kadera.id, Senin, 5 Oktober 2026.

Karena itu, lanjutnya, habitat Kus-Kus matabiru harus dilakukan restorasi. Langkah taktis lainnya, kata dia, membuat suaka marsupial endemik di daerah tersebut. Selain itu, tentu perlu monitoring dan menjaga agar tidak terjadi lagi Karhutla di habitat kuskus.

“Memastikan tidak ada sumber api yang dapat memicu kebakaran dalam skala besar, pembentukan masyarakat peduli api yang bertugas terutama untuk mitigasi sebelum terjadi kebakaran,” ujarnya.

Tak hanya itu, ia bilang, perlu menyediakan sumber air dan memetakan ruang adil bagi wildlife agar tidak ada konflik ruang antar manusia dan satwa.

“Semoga tidak terjadi lagi di masa mendatang. Mitigasi menjadi solusi bagi kelestarian habitat dan species satwa liar di pulau vulkanik ini,” pungkasnya.