DI Indonesia, jumlah hari peringatan bisa berjumlah ratusan. Ada yang mendapatkan tanggal merah berarti hari libur. Ada hari peringatan yang tidak libur meski dianggap penting dirayakan demi memenuhi tema resmi buatan pemerintah atau angan kolektif. Maka, yang menjadi warga Indonesia jika membuat catatan ratusan hari peringatan akan capek membuat pengumuman berisi kalimat klise: “Selamat merayakan hari….”. Ucapan yang dipamerkan di media sosial kadang dilengkapi foto atau poster, yang membuktikan punya ingatan kuat dan perhatian.
Sekian hari yang lalu, ada menteri yang mengeluarkan keputusan. Isinya adalah penetapan Hari Pustakawan Indonesia: 7 Juli 2025. Yang teringat, hari peringatan berkaitan perpustakaan dan buku sudah ada sejak lama. Kini, ditambah hari peringatan untuk sosok yang menunaikan tugas di perpustakaan. Sebutannya pustakawan. Apakah semua sudah lengkap dengan adanya hari peringatan untuk buku, perpustakaan, dan pustakawan? Kita menduga saja kelak bakal ada hari peringatan yang menyusul dengan alasan-alasan yang diharuskan bermutu. Argumentasi dapat dibuat asal meyakinkan publik agar tidak terjadi bantahan atau gosip murahan.
Orang-orang yang lelah dengan hari peringatan yang bercitarasa organisasi atau birokrasi boleh membuat perayaan yang sepi-sepi saja. Maksudnya, ia menghormati pustakawan dengan membaca novel gubahan Umberto Eco. Yang pernah membaca The Name of the Rose akan ingat tokoh, buku, iman, kematian, dan lain-lain. Novel yang menghadirkan pembaca dalam biara masa silam. Namun, yang terasakan adalah “perpustakaan”. Apakah membacanya berarti kita mengenali pustakawan?
Eco, manusia bergelimang buku. Ia tak main-main saat menceritakan manusia dan buku di biara. Yang membaca novel itu berdebar, mula-mula bukan oleh “buku” tapi kematian. Pembaca menghadapi tokoh-tokoh yang berurusan bacaan berkaitan erat dengan iman.
Kita merasa dekat dengan para tokoh saat daam adegan pengejaran. Seorang tokoh merasa menjadi “serdadu Kristus”. Di situ, pengalaman dan keyakinan atas kuasa Tuhan berlaku. Di situ, ada perkamen. Yang diceritakan Eco melalui tokohnya: “Jadi, ada banyak orang yang tahu betapa berharganya benda itu bagiku. Sebenarnya, aku bisa membaca naskah biasa, tetapi yang perkamen ini tidak.” Ia yang kehilangan lensa. Adanya bacaan-bacaan di biara bukan perkara biasa. Yang membuka halaman-halaman novel mengetahui misteri dan ketergesaan membuat tebakan-tebakan. Namun, siapa yang kepikiran “buku” dan pustakawan dalam kepentingan iman atau kekuasaan?
Skriptorium, itulah yang dikisahkan Eco. Ruangan yang berisi naskah. Hadirlah orang-orang dalam misi penyalinan naskah. Kita tidak boleh sembarangan menyamakannya dengan perpustakaan. Yang agak mendekatkan adalah bacaan. Pembaca beruntung seolah masuk dalam biara: “Ruangan itu punya tujuh dinding, tetapi hanya empat yang punya celah seperti suatu gang yang diapit oleh dua kosen kecil yang dipasang dalam dinding. Celah dinding itu cukup lebar dengan pelengkung bulat di atasnya. Pada dinding-dinding buntu itu berdiri rak-rak buku yang besar, sarat oleh buku-buku yang tertata rapi… Di tengah ruangan itu ada sebuah meja, juga penuh buku. Semua buku itu tertutup debut tipis, pertanda buku-buku itu dibersihkan pada waktu-waktu tertentu…” Novel yang sulit terakrabi bagi para pembaca di Indonesia jika digunakan dalam perayaan Hari Pustakawan Indonesia. Namun, kita menemukan pengalaman yang “kuno” saat membandingkan dengan perpustakaan mutakhir.
Pada novel yang lain kita terpikat buku-buku tapi bukan mengisahkan perpustakaan umum atau perpustakaan yang berada di sekolah dan universitas. Yang diceritakan Cornelia Funke dalam novel berjudul Inkheart adalah manusia yang memasukan buku-buku dalam rumah. Ia tidak bermaksud mencipta “perpustakaan nasional”. Yang membuat itu terjadi adalah pesona dan misteri. Apakah kita masih mungkin berpikiran pustakawan, yang memiliki ketentuan atau kaidah bekerja bersama buku-buku dan para pembaca atau peminjam buku di perpustakaan?
Deskripsi yang bisa mencekam: “Mengapa rumah ini tiba-tiba terasa besar dan kosong? Bertahun-tahun sudah ia hidup sendiri di rumah ini, tapi tidak pernah ia merisaukan kenyataan bahwa di balik semua pintu itu hanya ada buku-buku yang menunggunya. Sudah lama sekali berlalu, ketika ia dan saudara-saudaranya bermain petak umpet di kamar-kamar sepanjang selasar. Waktu itu mereka selalu mengendap-ngendap ke dalam perpustakaan…” Kita membayangkan perpustakaan yang elok dan megah dalam rumah. Penghuni rumah tidak hanya manusia. Yang ikut terhormat adalah buku-buku. Apakah yang punya buku dan hidup bersamanya melampaui peran pustakawan? Novel yang berbeda masa dan suasana dari pengisahan Eco. Pembaca turut dalam petualangan yang mendebarkan, tetap saja mengenai buku. Ingatlah, buku tak sekadar buku!
Kita tinggalkan dua novel yang senantiasa mengingatkan manusia dan buku. Yang diceritakan adalah tokoh-tokoh yang menyatakan bahwa buku atau bacaan memberi pengaruh besar dalam babak-babak kehidupan, yang menguak kejutan-kejutan. Kita tak harus menandai adanya koleksi buku atau perpustakaan dengan memikirkan ketokohan pustakawan.
Selama bertahun-tahun, kita telanjur jarang mendapat pengalaman kurang mengesankan di pelbagai perpustakaan di Indonesia, yang ada di sekolah, universitas, perkantoran, atau kota. Di sana, kita melihat “pegawai” yang dalam durasi kerjanya bersama buku-buku tampak dalam sepi, jemu, rutin, dan kelakar. Yang bekerja itu biasa disebut pustakawan. Namun, kita kadang mendapat kekaguman saat sosok yang berada di perpustakaan itu tak sekadar bekerja. artinya, ia juga manusia keranjingan manusia-buku dan bergairah dalam obrolan buku, bukan sekadar tanya-jawab klise antara pegawai dan pengunjung perpustakaan.
*Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais, dan kritikus sastra Indonesia

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.