Perubahan cuaca tak menentu berdampak buruk bagi nelayan Kelurahan Jambula, Kecamatan Pulau Ternate, Kota Ternate. Mereka sulit memprediksi cuaca sehingga menghambat aktivitas melaut dan memengharuhi hasil tangkapan.
Ikra (49), salah satu nelayan Kelurahan Jambula mengatakan, saat ini perubahan cuaca yang tak menentu kerap membuatnya kesulitan saat hendak melaut.
“Biasanya, kalau bulan Desember itu kan sudah bisa ditebak pasti bakal keras ombak. Terakhir, tahun 2014 [cuaca bisa diprediksi],” kata Ikra, saat ditemui di para-para dekat tambatan perahunya, pada Senin, 20 Januari 2025.
“Kini [cuaca] sulit kita tebak. Saat ini kita lihat cuaca masih aman. Tapi boleh jadi tiba-tiba berubah.”
Ikra bilang, cuaca yang tidak menentu itu juga membahayakan nelayan. Ia pernah terbawa arus karena cuaca buruk. Sehingga belakangan, ia mulai mawas diri saat melaut.
“Saya pernah di cari Tim SAR lantaran hanyut terbawa arus karena tiba-tiba cuaca buruk. Ini [juga] mempengaruhi pendapatan,” ujarnya.

Menurut Ikra, cuaca yang buruk membuat nelayan rugi karena hasil tangkapan ikut menurun. Sisi lain, mereka juga mesti menguras bahan bakar minyak (BBM) tanpa ada penghasilan.
“Setiap nelayan dapat 4 jeriken minyak subsidi saat melaut. Satu jeriken Rp 300 ribu lebih. Tapi kadang itu tidak cukup dan kadang mengalami kerugian. Ketika cuaca buruk datang, pasti langsung pulang karena terpaksa harus pulang. Dan hari-hari berikutnya tidak melaut sampai cuaca membaik,” ungkapnya.
Ikra bilang, kalau cuaca bersahabat, sehari ia bisa menangkap 4 ekor ikan tuna. Per ekor masing-masing berat berbeda-beda. “Kadang per ekor ikan yang ditangkap punya berat 20-60 kilo. Dijual per kilo Rp 35 ribu hingga Rp 40 ribu,” ungkapnya.
Harga ikan tuna sebetulnya telah menurun sejak 2023 lalu, kata Saleh La Kodi, seorang nelayan tuna di Jambula. Sebelumnya, harga ikan tuna per kilogram di angka Rp70 ribu.
“Sekarang paling tinggi Rp40 ribu karena bekerja sama dengan koperasi Marimoi Jaya yang menyediakan suplayer,” kata Saleh.
Fiki (37), nelayan lain di Jambula, menambahkan bahwa setiap hari ia melaut tetapi hasil tangkapan juga tidak menentu. Sama seperti Ikra dan Saleh, ia pun kadang mendapatkan 1 ekor, kadang juga 4 ekor ikan.
Meski sekali melaut dan menjual ikan bisa meraup uang jutaan, tapi Fiki mesti berbagi pendapatan dengan satu rekannya dan pemilik perahu.
“Ini perahu milik Aman [temannya]. Saya dan teman saya pakai untuk melaut. Hasil jual ikan kami bagi tiga,” pungkasnya.
—–
Reporter: La Ode Zulmin
Editor: Rabul Sawal

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.