Pedagang kelapa muda di kawasan Kelurahan Mangga Dua, Kecamatan Ternate Selatan, mengeluhkan kinerja pengangkut sampah di Kota Ternate.

Karena sudah dua pekan, sampah sabut kelapa belum juga diangkut sehingga menumpuk hingga satu meter di setiap lapak pedagang.

Sejumlah pedagang saat ditemui di lokasi meminta pemerintah supaya memperhatikan kinerja para pengangkut sampah yang abai.

Berdasarkan pantauan tuturfakta.com, ada sekitar 7 lapak pedagang kelapa muda tertumpuk sampah. Bahkan tingginya hingga mencapai 1 meter lebih dan sudah menyebar ke bahu jalan. Hal ini sangat membahayakan pengendara yang bisa memicu kecelakaan.

Andika (20), salah satu pedagang kelapa muda mengatakan sudah dua pekan sampah dibiarkan menumpuk karena tidak diangkut. “Ini sudah dua pekan. Para pengangkut sampah hingga kini belum juga datang,” akuinya saat ditemui di lapak jualannya, Senin, 20 Januari 2024.

Andika mengatakan, selama dua tahun ia menjaga dagangan kelapa muda, baru kali ini sampah sabut kelapa muda yang cukup lama dibiarkan menumpuk. “Dulu paling lama sepekan. Tapi saat ini nyaris dua pekan lebih,” katanya.

Saat ditanya soal penyebab kenapa sampah tersebut tidak diangkut, Andika mengaku tidak tahun menahu. “Saya tidak tahu apa masalahnya sehingga sampah satu kelapa muda ini tidak diangkut,” ujarnya.

Sabuk kelapa yang menumpuk di bahu jalan Mangga Dua, Ternate Selatan, Kota Ternate. Foto: La Ode Zulmin

Ahmad (40), pedagang lain pun mengatakan hal serupa. Para pengangkut sampah tidak pernah muncul lagi selama nyaris dua pekan. “Sekitar dua pekan sampah sabut kelapa tidak diangkut. Saya tidak tahu masalahnya apa. Dan, saya memilih diam saja,” ujarnya.

Ia hanya berharap, tumpukan sampah yang menumpuk hingga satu meter dan menyebar ke bahu jalan ini segera diangkut karena sangat membahayakan diri pengendara. “Saya harap sampah sabut kelapa ini segera diangkut. Karena membahayakan pengendara. Bahkan, pernah ada yang kecelakaan karena sampah sabut kelapa ini,” ungkapnya.

Selain itu, keluhan yang serupa datang dari pedagang lain bernama Lisa (38). Ia bilang, sangat resah dengan kinerja pengangkut sampah yang sebelumnya tampak pandang bulu. “Sampah so [sudah] banyak. Dua pekan kemarin ketika pengangkut sampah rutin datang, saya sempat tegur. Karena mereka [pengangkut] sampah tampak pilih kasih. Mereka hanya angkut sampah milik pedagang lain, sedangkan di muka lapak saya tidak pernah diangkut. Kalau pun diangkut pasti haya sedikit saja,” ungkapnya dengan nada kesal.

Padahal, kata Lisa, para pedagang kerap membayar retribusi. “Saya bayar retribusi sebanyak Rp20 ribu. Begitu pula pedagang lain. Namun, saya tidak tahu kenapa saya diperlakukan tidak adil,” tandasnya.

Lisa mengaku, sejak para pengangkut sampah itu ditegur, hingga kini tidak perna datang angkut sampat. “Sejak saya tegur mereka tidak pernah datang angkut sampah,” pungkasnya.

—–

Reporter: La Ode Zulmin