Oleh: Nasrullah
MALUKU UTARA adalah negeri yang dilahirkan dari laut. Kepulauan yang terhampar seperti gugusan doa, dari Halmahera yang luas hingga Morotai yang jauh, dari Bacan yang rimbun hingga pulau-pulau kecil yang bahkan belum menemukan namanya sendiri. Di tengah gugusan itu, Sofifi berdiri sebagai pusat pemerintahan, sebuah ibu kota yang tumbuh pelan, sabar, dan penuh harapan.
Namun, Sofifi tidak memulai perjalanannya dengan bangunan megah dan fasilitas lengkap. Ia lahir dari tangan-tangan masyarakat biasa, yang pada 1975 memutuskan membangun pelabuhan dengan alat seadanya dan tenaga swadaya. Pelabuhan itu bukan hanya tempat kapal berlabuh; ia adalah wujud cinta. Cinta kepada laut yang memberi hidup, cinta kepada tanah yang memberi pijak, dan cinta kepada masa depan yang ingin mereka bentuk bersama.
Pelabuhan pertama Sofifi dibangun dari batang kelapa sebagai tiang pancang, papan kayu sebagai lantai, dan keyakinan yang jauh lebih kuat daripada material yang menopangnya. Dari sana masyarakat Sofifi mengangkut kopra, pisang, cengkih, dan pala. Hasil bumi yang dijual di Ternate dan Tidore. Dermaga itu menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Dalam kerja gotong royong itu terselip sebuah pesan leluhur yang terus diingat hingga kini: “Bulo Se Kasuba Masobaro Papa Se Tete.” Sebuah nasihat agar jalan rezeki dijaga, dihormati, dan disyukuri, sebab pelabuhan bukan sekadar bangunan, melainkan amanah.
Seiring waktu, pelabuhan berkembang. Tahun 1982 ia diperpanjang dan diperkuat. Tahun 2005 pemerintah mulai mengambil alih pengelolaan. Tahun 2006, fasilitas publik mulai dibangun. Tahun 2010, konstruksi pelabuhan beralih menjadi semi permanen dengan tiang beton dan struktur yang lebih kokoh. Namun satu hal tidak berubah, yakni pelabuhan tetap menjadi pusat kehidupan masyarakat Sofifi. Satu tempat keluar masuk barang, tempat para pegawai yang tinggal di Ternate dan Tidore yang menyeberang saban hari, tempat yang menghubungkan desa-desa Halmahera dengan pusat kegiatan provinsi.
Kini, lebih dari 80 persen masyarakat Sofifi bergantung pada pelayanan transportasi laut. Pelabuhan bukan hanya fasilitas publik, ia adalah sumber hidup. Namun harus diakui, pelabuhan ini masih memendam luka yang belum sepenuhnya diobati. Kapasitasnya belum memadai, fasilitasnya belum selengkap, terminal penumpang yang belum tertata rapi seperti yang seharusnya. Sebagai gerbang ibu kota provinsi, pelabuhan Sofifi sering tampak bekerja melampaui kemampuannya.
Pelabuhan sebagai Nadi Ekonomi
Pelabuhan Sofifi bukan hanya tempat transit. Ia adalah rumah rezeki bagi warga yang tinggal di sekitarnya. Data BPS Kota Tidore Kepulauan menunjukkan bahwa sebagian besar penduduk Sofifi bekerja dalam sektor perdagangan, jasa, dan transportasi, tiga sektor yang hidup karena pelabuhan berdenyut.
Penelusuran lapangan memperlihatkan bahwa lebih dari separuh penduduk usia kerja di Sofifi menggantungkan hidupnya langsung pada pelabuhan: 110–150 pemilik speedboat, 260–320 operator mesin dan ABK, 150–180 sopir angkutan darat Sofifi–Halmahera, 130–160 pedagang kecil dan warung pelabuhan, 210–260 porter, buruh bongkar muat, dan ojek pelabuhan.
Jika dijumlahkan, kurang lebih 860–1.070 orang, atau 64–72 persen dari angkatan kerja Sofifi hidup dari denyut pelabuhan. Dengan kata lain, pelabuhan Sofifi adalah dapur keluarga yang menopang sekolah anak-anak, dan penyangga kehidupan masyarakat. Jika pelabuhan melambat, maka dapur ratusan rumah akan redup. Jika arus penumpang bergeser, maka nafkah yang hilang bukan angka, tetapi kehidupan. Karena itu, pelabuhan bukan hanya bangunan, tetapi ekosistem kesejahteraan.
Sofifi telah membuktikan satu hal sejak 1975, cinta masyarakat mendahului kebijakan pemerintah. Inisiatif rakyat hadir sebelum anggaran turun. Karena itu, merawat pelabuhan Sofifi bukan hanya soal membangun fisik baru, melainkan menghormati sejarah panjang keringat dan kebersamaan.
Pelabuhan Sofifi bukan hanya tempat orang datang dan pergi. Ia adalah denyut nadi ekonomi rakyat, ruang napas sejarah, dan rumah harapan. Dan bagi kita yang tumbuh di pinggir dermaga ini, ada sebuah amanah besar. Jangan biarkan siapa pun kehilangan hidupnya demi sebuah kemajuan yang tidak seimbang. Jangan biarkan pelabuhan yang dibangun dengan cinta, dirawat dengan keringat, dan dijaga dengan doa, berubah menjadi saksi keheningan dapur yang padam.
Pelabuhan Sofifi adalah wajah kita. Ia adalah ingatan kita. Ia adalah masa depan kita. Dan kita, terutama generasi yang tumbuh dari debu pasir dermaga ini, memikul satu tanggung jawab: menjadikan pelabuhan bukan hanya tempat orang datang dan pergi,
tetapi tempat harapan tumbuh dan kembali pulang.
Penulis merupakan pemuda Sofifi

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.