Sejumlah tukang ojek di Kota Ternate mengeluhkan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi jenis Pertamax yang mulai berlaku pada Rabu, 10 Juni 2026.
Kenaikan harga tersebut dinilai cukup memberatkan, terutama bagi pengemudi ojek yang setiap hari bergantung pada BBM untuk mencari nafkah.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pertamina, harga Pertamax di Maluku Utara naik dari Rp12.500 menjadi Rp16.650 per liter. Sementara itu, harga Dexlite dan Biosolar tetap masing-masing Rp23.500 dan Rp6.800 per liter. Adapun harga Pertalite masih bertahan di angka Rp10.000 per liter.
Muhammad Mashur (59), seorang tukang ojek di Ternate, mengaku baru mengetahui kenaikan harga tersebut saat mengisi BBM di SPBU Batu Anteru, Kelurahan Maliaro, Kecamatan Ternate Tengah.
Menurutnya, selama hampir 15 tahun bekerja sebagai tukang ojek, kenaikan Pertamax kali ini merupakan yang paling tinggi yang pernah ia rasakan.
“Kalau saya sebagai tukang ojek, sangat berat sekali. Masalahnya ketika ada penumpang anak sekolah, mereka bisa jadi tidak mau naik ojek karena biaya bertambah,” katanya saat ditemui di SPBU Batu Anteru.
Mashur menilai kenaikan harga Pertamax sangat membebani masyarakat, khususnya pengemudi ojek yang membutuhkan BBM setiap hari untuk bekerja.
Meski harga Pertalite masih lebih terjangkau, ia mengaku sulit beralih sepenuhnya karena pelayanan di SPBU dinilai belum maksimal. Selain jam pelayanan yang terbatas, antrean panjang juga kerap terjadi dan menghabiskan waktu kerja para pengemudi.
Menurutnya, distribusi Pertalite di sejumlah SPBU hanya berlangsung pada jam tertentu, yakni pukul 08.00 hingga 12.00 WIT. Selain itu, ia mengeluhkan adanya perlakuan yang dianggap tidak merata karena kendaraan roda dua terkadang harus menunggu lebih lama dibanding angkutan kota (angkot).
Kondisi tersebut membuat Mashur sebelumnya memilih menggunakan Pertamax. Namun, setelah harga Pertamax melonjak, ia terpaksa beralih ke Pertalite meski harus menghadapi antrean panjang.
“Antrean panjang hari ini. Sekarang saya sudah beralih ke Pertalite karena Pertamax naik,” ujarnya.
Keluhan serupa disampaikan Arjun (34), tukang ojek lainnya. Selama ini ia lebih memilih Pertamax karena proses pengisian lebih cepat dan tidak perlu mengantre lama.
Menurut Arjun, harga Pertalite memang lebih murah, tetapi ketersediaan dan pelayanannya masih menjadi persoalan. Selain antrean panjang yang dapat berlangsung berjam-jam, waktu pelayanan yang terbatas juga membuat pengemudi kehilangan banyak waktu untuk mencari penumpang.
“Kalau Pertalite lancar tidak masalah. Tapi Pertalite tidak lancar, akhirnya tong ancor,” katanya.
Para pengemudi ojek berharap pemerintah dan pihak terkait dapat menjaga stabilitas harga BBM agar tidak semakin membebani masyarakat, khususnya mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor transportasi.
Sementara itu, Tini, salah satu petugas SPBU Batu Anteru, membenarkan adanya perubahan harga BBM yang mulai berlaku sejak Rabu pagi. Ia mengatakan kenaikan tersebut merupakan kebijakan dari pemerintah pusat dan hanya berlaku untuk Pertamax.
“Pertamax sudah naik, dari Rp12.500 menjadi Rp16.650 per liter,” ujarnya singkat.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.