Puluhan siswa SMP Negeri 13 Kota Ternate mengikuti pelatihan dasar konservasi dan fotografi keanekaragaman hayati (Kehati) yang digelar oleh komunitas Halmahera Wildlife Photography (HWP) di Pulo Tareba, Kelurahan Takome, Ternate Barat, pada Kamis, 30 Juli 2026.

Kegiatan ini merupakan bagian dari program Kemitraan Wallacea bertajuk “Konservasi Endemik Berbasis Tapak: Aksi Komunitas di Takome” yang didukung penuh oleh Burung Indonesia dan Packard Foundation.

Dalam pelatihan ini para siswa mendapatkan materi terkait endemisitas fauna Ternate, ancaman kepunahan, dan rantai makanan ekosistem serta peran generasi muda.

Selain itu, pun diberi materi soal etika dan teknik fotografi Kehati menggunakan gawai. Tak hanya teori, para siswa ini juga langsung praktik di lapangan dan memotret sejumlah satwa di kawasan Pulo Tareba. Pun, memastikan pemahaman siswa melalui lembar pre-test ke posttest.

Nurdin Dengo, guru SMP Negeri 13 Ternate mengatakan, keterlibatan para siswa dalam upaya pelestarian Kehati sangat penting di tengah maraknya perburuan satwa endemik kus-kus matabiru (Phalanger matabiru).

Menurutnya, mayoritas siswa yang ikut pelatihan ini berdomisili di Takome. Karena itu, didikan dan edukasi ke siswa sangat penting agar biasa menjaga, melindungi, merawat, dan mendokumentasikan edemisitas fauna.

“Pelestarian lingkungan hidup dan keanekaragaman hayati di Pulau Tareba, perlu harus ditingkatkan dengan melibatkan para siswa agar mereka mengetahui pentingnya edemisitas fauna,” katanya kepada reporter Kadera.id, saat diwawancarai di Pulo Tareba, Kamis, 30 Juli 2026.

Ia berharap, kegiatan pelestarian lingkungan dan keanekaragaman terus dilakukan agar tetap terjaga dan bisa diwariskan dari generasi ke generasi.

Apriyanto Latukau, penanggungjawab kegiatan mengatakan, aktivitas belajar para siswa tentang konservasi kawasan Wallacea ini mesti didukung dengan indentifikasi, agar siswa mengenal langsung, memahami secara teori maupun praktik melalui fotografi.

“Fotografi bukan hanya koleksi foto, tapi juga bagian cara supaya siswa memahami biodiversitas di Pulo Tareba,” katanya.

Meski begitu, keterampilan fotografi disesuaikan dengan kemampuan para siswa. Kelak mereka bisa meningkatkan kualitas foto untuk dokumentasi maupun ekspos agar Kehati di Pulo Tareba bisa dikenal luas.

Dewi Ayu Anindita, Ketua Halmahera Wildlife PhotographY mengatakan, pendidikan lingkungan sejak dini sangat diperlukan untuk dalam pelestarian jangka panjang.

Ia bilang, melalui pendekatan edukasi berbasis tapak, pelatihan dasar konservasi dengan menggunakan media visual fotografi, siswa dan guru dapat menumbuhkan rasa kepemilikan dan melahirkan agen perubahan muda di Kelurahan Takome. Selain itu, fotografi juga jadi media kampanye visual.

“Ini juga sebagai upaya mendorong peran aktif guru untuk mengintegrasikan materi Kehati ke dalam muatan lokal atau kegiatan ekstrakurikuler,” katanya

Ia berharap, kegiatan tersebut dapat melahirkan generasi muda yang cerdas secara akademis, sekaligus punya empati tinggi dalam pelestarian satwa dan ekosistem lokal dari berbagai ancaman kerusakan lingkungan.