Seorang bidan, Memi Gailea, mengambil tindakan cepat membantu proses persalinan seorang penumpang yang terpaksa melahirkan di atas KM Al-Sudais 21 dalam perjalanan rujukan dari Sanana menuju Ternate, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Muslia Leko, penumpang yang sedang dalam kondisi membutuhkan pertolongan medis, harus menjalani proses persalinan di tengah pelayaran. Kondisi kapal yang terus bergerak dan diterpa gelombang, ditambah tidak tersedianya ruang maupun fasilitas persalinan layaknya di rumah sakit, membuat proses kelahiran berlangsung dalam situasi penuh keterbatasan.

Iwan Salihi, suami Muslia, mengatakan Memi dengan sigap mendampingi istrinya dan mengambil tindakan untuk membantu proses persalinan hingga bayi laki-laki tersebut berhasil lahir dengan selamat.

“Di tengah kondisi yang tidak memungkinkan untuk mendapatkan pertolongan medis di daratan, Memi Gailea mengambil tindakan cepat dan membantu proses persalinan hingga bayi berhasil lahir dengan selamat,” kata Iwan, Ahad, 9 Agustus 2026.

Iwan mengapresiasi tindakan Memi yang tetap memberikan pertolongan dalam kondisi darurat. Menurutnya, kehadiran seorang bidan di tengah perjalanan laut menjadi sangat berarti ketika istrinya membutuhkan pertolongan segera.

“Memi tidak hanya membantu proses kelahiran, tetapi sekaligus memberikan rasa aman kepada istri saya di tengah situasi yang penuh kecemasan,” ujarnya.

Iwan mengatakan momen tersebut menjadi pengalaman yang tidak akan dilupakan keluarganya. Selain perjuangan Muslia dan Memi dalam proses persalinan, perhatian juga diberikan oleh nakhoda KM Al-Sudais 21.

Proses persalinan berlangsung dramatis di tengah perjalanan laut hingga akhirnya bayi laki-laki itu lahir dengan selamat.

Sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk mengabadikan momen tersebut, nakhoda kapal kemudian memberikan nama Muhammad Al Sudais Putra kepada bayi tersebut.

“Sebagai bentuk penghormatan sekaligus untuk mengabadikan momen istimewa, nakhoda memberikan nama Muhammad Al Sudais Putra kepada bayi,” kata Iwan.

Nama tersebut kini menjadi kenangan tersendiri bagi keluarga Muslia sekaligus menjadi bagian dari cerita perjalanan KM Al-Sudais 21—tentang sebuah kelahiran yang berlangsung jauh dari ruang bersalin, di tengah luasnya laut dan keterbatasan fasilitas medis.