Fenomena El Nino yang melanda dalam beberapa bulan terakhir membuat petani tanaman jangka pendek di Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara, kesulitan mendapatkan air. Kondisi ini dirasakan kelompok tani di Dusun 4 Kelapa Satu, Desa Kramat, Kecamatan Taliabu Barat.
Para petani kesulitan memperoleh air untuk menyiram tanaman seperti rica, tomat, sayuran, dan berbagai tanaman hortikultura berumur pendek lainnya. Cuaca panas yang berlangsung hampir lima bulan membuat tanaman membutuhkan perawatan lebih intensif agar tidak mati.
Abdul Rahman (46), salah satu anggota kelompok tani, mengatakan kondisi tersebut berdampak langsung terhadap aktivitas pertanian mereka. Tanaman yang semestinya dapat dipanen dalam waktu relatif singkat kini pertumbuhannya terganggu akibat kekurangan air.
“Tanaman yang hanya membutuhkan waktu tidak terlalu lama untuk tumbuh dan panen, namun karena terlalu panas sulit,” kata Rahman saat ditemui Kadera.id di kebunnya, Jumat, 21 Agustus 2026.
Untuk menyelamatkan tanaman, Rahman bersama anggota kelompok lainnya harus mengangkut air menggunakan jeriken dari sumber air yang berjarak ratusan meter dari lokasi kebun. Air tersebut kemudian digunakan untuk menyiram tanaman setiap pagi dan sore.
“Dulu itu tanam lalu taruh pupuk begitu saja. Siram juga tidak terlalu menguras tenaga karena kadang hujan. Waktu panen pun bisa dipastikan. Tapi sekarang kita harus banting tulang. Harus ambil air yang jaraknya lumayan jauh menggunakan jeriken untuk menyiram tiap pagi dan sore,” ujarnya.
Ia khawatir musim panas yang berkepanjangan akan semakin memengaruhi hasil pertanian mereka. Selain berpotensi membuat tanaman mati, kondisi tersebut juga membuat waktu panen sulit dipastikan.
“Khawatir sekali jika panas ini tidak selesai. Akan berdampak besar bagi kami petani jangka pendek. Waktu panen tidak bisa dipastikan karena terlalu panas,” katanya.
Rahman bilang, sebelum musim panas berlangsung, kebutuhan air untuk kebun relatif mudah dipenuhi. Mereka biasanya mengandalkan air dari jaringan pipa maupun sumber air dari pegunungan.
Namun, kondisi kini berubah. Sumber air dari pegunungan mulai berkurang, bahkan mengering pada waktu tertentu akibat cuaca panas.

Keluhan serupa disampaikan Nasrudin (47), anggota kelompok tani lainnya. Ia mengatakan tanaman kini harus disiram secara rutin dua kali sehari karena kondisi tanah yang cepat kering.
“Kalau tidak musim panas, tanaman yang kita tanam siramnya juga tidak seberapa karena tanahnya lembap. Tapi sekarang harus rutin siram pagi dan sore. Siramnya juga harus bagus supaya tanah betul-betul basah. Kalau tidak, tanaman bisa mati,” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan air, Nasrudin dan anggota kelompok lainnya bahkan berupaya menggali sumur di sekitar kebun yang memiliki luas sekitar 75 meter x 100 meter.
“Kami terpaksa berupaya menggali sumur untuk mencari air. Karena air yang bersumber dari mata air yang biasa kami ambil kalau sudah siang tidak lancar, sementara ada beberapa kelompok yang bergantung pada air itu. Air di gunung juga kadang kering karena terlalu panas,” ujarnya.
Di tengah kondisi tersebut, para petani berharap pemerintah maupun pihak terkait memberikan bantuan sarana pengairan. Salah satunya berupa pipa untuk menyalurkan air dari sumber di pegunungan ke lokasi kebun.
Mereka juga berharap mendapat bantuan pompa air atau sanyo apabila sumur yang sedang digali dapat menghasilkan air yang cukup.
“Kami sangat membutuhkan pipa air untuk mengambil air yang bersumber dari gunung. Karena kebun ini ada tiga kelompok, sementara pipa yang digunakan untuk kebutuhan menyiram hanya satu. Sumur itu juga rencananya mau dicor dan digunakan sanyo untuk menarik air,” katanya.
Kondisi kekurangan air tersebut membuat para petani harus mengeluarkan tenaga dan waktu lebih banyak untuk mempertahankan tanaman mereka. Jika musim panas terus berlangsung, mereka khawatir produktivitas tanaman jangka pendek di wilayah tersebut ikut menurun.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.