PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mengklaim bakal memastikan keselamatan masyarakat, pekerja, dan perlindungan lingkungan dalam penanganan kebakaran tumpukan ribuan ban bekas di area pengelolaan limbah perusahaan.

Lukman Hakim, Manager External Relations, PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP) mengatakan, pihaknya telah melakukan investigasi awal atas kebakaran ribuan ban bekas. Selain itu, polisi juga sedang melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif kejadian, sekaligus menelusuri keterlibatan pihak eksternal dalam peristiwa tersebut.

“PT IWIP memahami kekhawatiran masyarakat sekitar terkait asap yang ditimbulkan dari kejadian ini. Untuk itu, perusahaan terus berupaya pengendalian kebakaran, pemantauan kondisi di sekitar lokasi. Termasuk berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait guna meminimalkan dampak terhadap masyarakat dan lingkungan,” katanya, Senin, 31 Agustus 2026.

Ia menjelaskan, peristiwa tersebut terjadi pada Senin, 21 Agustus 2026, sekitar 2.00 WIT. Dalam penanganan, kata dia, perusahaan nikel ini telah mengerahkan tim tanggap darurat sebanyak 40 personel dan 7 unit kendaraan pemadam.

“Selain pemadaman, alat berat juga telah diperbantukan untuk mengisolasi dan memisahkan material yang belum terbakar untuk mengurangi dampak kebakaran. Tidak terdapat korban jiwa dalam kejadian tersebut,” ungkapnya.

Meski begitu, dalam keterangannya, Lukman tak menyinggung terkait manajemen pengelolaan dan pengawasan limbah ban bekas sehingga bisa terjadi kebakaran.

Oktaviana K. Takuling, warga Lelilef Sawai mengatakan, kebakaran limbah ban di kawasan PT IWIP diduga kelalaian perusahaan karena peristiwanya bukan di luar. Karena itu, kebakaran yang menyebarkan asap tebal hitam dan meresahkan warga tidak terlepas dari tanggung jawab perusahaan.

Menurutnya, kebakaran limbah ban bekas akan semakin memperburuk kualitas udara. Karena, sebelum peristiwa tersebut pun tingkat polusi udara sudah cukup tinggi.

“Bagaimana lagi deng kebakaran model tadi pagi sampe tadi siang. Bahkan dari segi kesehatan dampaknya sangat buruk untuk pernapasan. Saya kira itu kalau tidak ditangani secara baik maka ini bisa jadi terulang bahkan akan lebih parah,” tandasnya.

Oktaviana menyangsikan pernyataan perusahaan yang akan memprioritaskan keselamatan warga, pekerja, dan perlindungan lingkungan. Karena, lanjutnya, perusahan tersebut telah gagal sejak awal dalam pengendalian debu di kawasan tersebut.

“Saya pikir omong kosong kalau bicara memprioritaskan keselamatan masyarakat. Pengendalian debu saja IWIP gagal, pekerja sudah cukup banyak mengalami dampaknya. Untuk perlindungan lingkungan, nyatanya, selain dari udara yang tercemar, laut dan hutan juga dirusak. Deforestasi besar-besaran kan sampai hari ini,” tandasnya.