Museum Alferd Russel Wallace di Benteng Oranje, Kota Ternate, Maluku Utara, menerima sebuah lukisan dari Marc Gerritsen, Dubes Belanda.

Lukisan tersebut dibuat di Benteng Oranje oleh Paul Hendro, seniman atau pelukis profesional asal Yogyakarta, yang kerap melukis tokoh ilmuan, sejarawan hingga pahlawan.

Pada Mei 2026, Paul merai rekor MURI saat memamerkan 80 lukisan potret tokoh ilmuan inspiratif dan intelektual bertopik Science and Art 8.0 dengan tema, “Mengenang Ilmuwan, Pahlawan di Ruang Sepi”, di Museum Kebangkitan Nasional. Paul datang ke Ternate dalam rangka pameran lukisan di kegiatan Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) pada 26-30 Agustus 2026 lalu.

Rinto Thaib, Kepala Museum Alferd Russel Wallace di Ternate mengatakan, kedatangan Marc Gerritsen dalam rangka kegiatan Dutch Trading Post Heritage Network atau Jaringan Warisan Pos Perdagangan Belanda. Kegiatan ini kebetulan bertepatan dengan acara JKPI, sehingga sekaligus dilakukan menyerahkan lukisan untuk koleksi.

Ia bilang, Dutch Trading Post Heritage Network adalah jaringan yang berkaitan dengan museum internasional. Dalam agenda itu, mereka membahas peluang dan tantangan pengelolaan warisan budaya, bahkan sampai pada keputusan penentuan sebuah pertemuan dalam agenda besar.

“Tujuan penyerahan ini sebagai koleksi museum Alferd Russel Wallacea. Diharapkan berdampak pada masyarakat sebagai sumber informasi dan edukasi. Terutama berkaitan dengan keanekaragaman hayati dan budaya dalam konsep merga diversity sains modern,” katanya saat diwawancarai di ruang kerjanya, Kamis, 3 Agustus 2026.

Marc Gerritsen, Dubes Belanda saat menyerahkan lukisan ke Kepala Museum Alfred Russel Wallace, Rinto Thaib, di Ternate. Foto: Pengelola Museum Alfred Russel Wallace Ternate.

Rinto menjelaskan, keberadaan Museum Alfred Russel Wallace di Ternate selama ini untuk memperkuat edukasi dan informasi ke masyarakat. Karena itu, penyerahan lukisan tersebut menambah koleksi yang sudah ada seperti buku, prasasti makam, sampel struktur bangunan, lukisan, keramik, foto, dan barang arkeologi, sebagai media edukasi.

“Kalau dihitung, koleksi sudah tiga ratus lebih,” ucapnya.

Ia mengaku koleksi museum saat ini sudah representatif. Tetapi keterbatasan ruangan membuat penataan koleksi masih dalam bentuk campuran, belum secara tematik.

“Pembenahan akan dilakukan setelah museum direvitalisasi pada beberapa bulan mendatang,” pungkasnya.