Kepala Dinas Pendidikan Kota Ternate, Ridwan Ali, mengungkapkan Kecamatan Ternate Selatan didominasi anak tidak sekolah (ATS) dibandingkan dengan kecamatan lainnya di Kota Ternate pada 2026.

Menurutnya, hal itu disebabkan kepadatan penduduk dan keragaman latar belakang masyarakat. Selain itu, kondisi ekonomi maupun lingkungan keluarga cukup berdampak pada masalah tersebut. Sejumlah anak, kata dia, bahkan memilih tidak melanjutkan pendidikan karena dipaksa untuk bekerja mencari uang sendiri demi kebutuhan sehari-hari.

“Setelah kecamatan Ternate Selatan, disusul Ternate Utara, Ternate Tengah, Ternate Barat, Kecamatan Moti. ATS paling rendah berada di Kecamatan Batang Dua. Dan ekonomi keluarga jadi alasan utama,” katanya, Kamis, 10 September 2026.

Ridwan bilang, pihaknya belum memastikan jumlah ATS karena sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik) kerap mengalami perubahan sehingga banyak data belum valid yang kontras dengan fakta di lapangan. Misalnya, perubahan siswa telah pindah sekolah, usia yang sudah melebihi batas, hingga telah mengikuti ujian paket.

“Data itu belum diupdate dari pihak sekolah maupun Dapodik,” ucapnya.

Ia sebut pihaknya terus berupaya mendorong Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) agar dapat mengenyam pendidikan yang layak di sekolah reguler yang inklusif. Ini dilakukan untuk memastikan pemerataan layanan pendidikan terhadap generasi di Kota Ternate.

Selian itu, pihaknya terus mengedukasi masyarakat secara berkala melalui Posyandu dan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) yang melibatkan orang tua siswa. Sekaligus, berkoordinasi dengan instansi terkait baik di kota maupun tingkat pemerintah provinsi.

“Ini untuk menumbuhkan semangat orang tua agar tetap menyekolahkan anak-anak mereka. Dengan begitu menekan angka ATS di Kota Ternate, khususnya di jenjang SMA,” ujarnya.