Faisal (29), petani Gurabunga, berdiri menggenggam gagang gembor, sesekali merunduk menyiram satu per satu bibit cabai lokal di kebunnya, yang berada di lereng kampung tersebut.

Untuk menyiram tanaman, ia menampung air yang alirkan dari Embung Konservasi Gurabunga, yang berada tepat di bawah lereng itu.

Embung itu bisa menampung 30 ribu meter kubik air. Tingginya sekitar 10 meter, dan hanya beberapa meter dari Ake Goa—satu-satunya sumber mata air warga setempat, tapi tak bisa memenuhi kebutuhan pengairan pertanian.

Faisal menjelaskan, air embung kerap meluap saat musim hujan. Namun, kini debitnya perlahan menyusut satu sampai dua meter sejak kemarau pada Juni 2026.

Dia bersama petani lainnya menjulurkan selang pipa ke dalam embung, guna menyedot air memakai pompa mesin. Mereka lalu menampung air di dalam drum bekas, untuk menyiram tanaman.
Selama beberapa bulan terakhir, katanya, air embung ini membantu menstabilkan produksi tanaman cabai. Bahkan, sekali panen bisa meraup pendapatan hingga puluhan juta.

Salah satu embung di Gurabunga yang dimanfaatkan para petani setempat saat kemarau. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Di Gurabunga, beberapa kali dapat bantuan suplai air ke rumah warga maupun lahan pertanian. Para petani holtikultura di Gurabunga mendapatkan subsidi pemerintah seharga Rp100 ribu per mobil truk tangki.

“Kalau air dekat sini, bisa batanam to. Kalau kebun jauh kayak di dara itu, tara bisa tanam. Akses air bantuan untuk pertanian kan susah masuk,” katanya, saat ditemui di kebunya di Kelurahan Gurabunga, Kecamatan Tidore, Kota Tidore Kepulauan, Kamis, 13 Agustus 2026.

Meski Faisal tampak optimis, ia tetap khawatir jika kemarau akan berlangsung hingga beberapa bulan ke depan. Apalagi, pertanian membutuhkan banyak air yang bisa mencapai 3-4 ribu liter per hari.

“Tong punya harapan, Gubernur Sherly Tjoanda sebagai dan stakeholder terkait, turun lihat tong punya kendala di lapangan,” ucapnya. Hal ini karena Pemkot Tidore sangat jarang menjangkau Gurabunga.

Sementara Ade (35), petani Gurabunga, justru menunda penanaman selama hampir tiga bulan. Padahal, sebelum kemarau ia sanggup memanen sampai 100 kilogram tomat. Kemudian, menjualnya dengan harga Rp5 ribu hingga Rp20 ribu per kilogram, tergantung harga pasar.

Penundaan tersebut berimbas bagi menurunnya pendapatan keluarga Ade. Meski tak pernah ia rincikan, Ade merasa pengeluarannya semakin bertambah setiap hari. “So tara batanam. Ya kerja harian petik pala saja,” ujarnya.

Farida (43) dan suaminya, Ahmad (45), di Lingkungan Dola, Kelurahan Kalaodi, pun bernasib serupa. Farida bilang, di kelurahan tersebut banyak mata air seperti Ake Ngaru, Ake Lola, Loku Cleng, Ake Dutu, Ake Sagu, Ake Nuja, Air Popomdoe, dan sejumlah mata air lainnya, namun tak bisa menjangkau lokasi kebun mereka.

Sebelumnya, air untuk menyiram tanaman hanya mengandalkan hujan. Namun saat kemarau, aktivitas pertanian ditunda karena jarak kebun dan sumber mata air cukup jauh. Sementara jaringan PDAM Ake Mayora pun tak menjangkau kelurahan tersebut, namun jika memesan air ke seharga Rp300-400 ribu per truk tangki berkapasitas 3 ribu liter.

“Biasanya, kalau musim hujan tampung air pakai terpal untuk tanaman pertanian,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya, Jumat, 14 Agustus 2026. “Tapi so tra bisa tanam. Sumber air ada, tapi jauh. Air mandi saja tong susah angka.”

Air dalam bak penampungan di samping rumahnya tersisa setinggi satu meter lebih. Itu pun sudah mengirit selama kemarau berlangsung. Setiap sore, mereka harus berjalan kaki sejauh setengah kilometer ke Ake Dutu, salah satu mata air di Lingkungan Dola, Kelurahan Kalodi. Di sana, sejumlah warga akan mencuci pakaian sekaligus mandi. Sebagai ibu rumah tangga, Farida sangat merasakan dampak dari kemarau panjang.

“Tong ibu-ibu rumah tangga ini paling perhitungan sudah,” ucapnya.

Demi memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, pasangan suami istri ini memungut biji buah pala yang jatuh dari pohonnya untuk dijual. Mereka terpaksa mengirit dengan mengurangi porsi makanan dan meminta tanaman sayur di kerabat dekat untuk dimasak. “Yang penting bisa isi puru,” katanya.

Ali Hasan, petani Topo saat menunjukan bibit bawang merah yang ditunda tanam dan disimpan di belakang rumahnya. Foto: La Ode Zulmin/Kadera.id

Ali Hasan (60), petani Topo, Kecamatan Tidore, kesulitan menanam saat musim kemarau karena tak ada sumber air yang bisa diandalkan—hujan tak kunjung turun dan air PDAM Ake Mayora pun tak sampai ke rumahnya. Sudah hampir 3 bulan bibit bawang merah masih disimpan di belakang rumahnya. Sebagian bibit telah ia jual dengan harga Rp100 ribu per kg.

Lokasi kebun di belakang Gurabati yang jauh dari sumber air menjadi alasan ia dan istrinya, Khadijah Hamisi (50), belum menanam bawang ubi, bawang, jagung, kacang dan cabai. Kondisi ini membuat Ali terpaksa beralih menjadi pekerja bangunan.

“Terpaksa kerja bangunan, naik pala, untuk sampingan di musim kemarau. Anak (cucu) sekolah ini, cuman kamari bapifikir ambil doi,” ungkapnya.

Sementara, Fauzi Robo, Kepala Dinas Pertanian Kota Tidore Kepulauan, menyebutkan per 15 Agustus 2026, sekitar 115 petani terdampak kemarau panjang. Ia merinci, di Kecamatan Tidore dan Tidore Selatan masing-masing 25 petani, 17 di Tidore Utara, 5 di Tidore Timur, dan 43 di Oba Utara.

“Untuk produksi komoditi hortikultura sebagian harganya masih stabil. Namun, komoditi seperti tomat mengalami penurunan harga,” ujarnya.

Ia bilang, pihaknya telah berkoordinasi BPBD Kota Tidore Kepulaun untuk penanganan darurat, seperti penyaluran air. Mereka memprioritaskan tanaman dalam masa pertumbuhan dan akses jalan yang terjangkau oleh mobil PDAM maupun BPBD.

Para petani di pegunungan Pulau Tidore, menjalani hari-hari tanpa kepastian. Namun, harapan tetap tumbuh di antara bibit-bibit tanaman menunda ditanam, lahan-lahan gersang yang menunggu segera turun hujan.