Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Kelas I Sultan Babullah Ternate memprediksi musim di wilayah Maluku Utara akan terjadi secara bertahap setelah kemarau panjang.
Lima wilayah, seperti Halmahera Barat, Halmahera Utara, Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Kota Ternate, dan Kota Tidore Kepulauan, akan mengalami hujan lebih awal pada akhir Oktober 2026.
Meski pada 1 Juli 2026, sebagian kecil wilayah Halmahera Tengah terjadi hujan. Namun, hanya berlangsung singkat karena menuju puncak musim kemarau pada Agustus sampai November.
Desindra Deddy Kurniawan, Kepala BMKG Kelas I Sultan Babullah Ternate mengatakan, musim hujan akan dimulai lebih dulu di lima wilayah tersebut.
“Pada akhir November 2026, akan terjadi hujan di Pulau Morotai, lalu sebagian kecil wilayah Halmahera Barat dan Halmahera Utara,” katanya dalam konferensi pers melalui Zoom, pada Selasa, 6 Oktober 2026.
Sementara itu, pada akhir Desember 2026, hujan akan kembali turun di sebagian wilayah Tidore Kepulauan, Halmahera Tengah, Pulau Mangoli, dan Halmahera Selatan.
“Pada bulan tersebut, hujan akan turun terkahir di Pulau Bacan, Pulau Obi, Kepulauan Sula, dan Pulau Taliabu,” ujarnya.
Ia mengungkapkan, musim hujan periode 2026 sampai 2027 mulai terjadi pada Januari sampai Agustus 2027. Namun, puncaknya akan terjadi di bulan Mei dan Juni karena secara siklus akan menambah intensitas curah hujan.
“Presentase hujan pada Januari hanya 6 persen, pada Mei 40 persen, lalu 27 persen pada Juni. Sementara pada Juli 2027 sebanyak 20 persen dan Agustus, 7 persen,” ungkapnya.
Menurutnya, kemarau tahun ini lebih panjang karena El Nino akan berlangsung hingga awal tahun 2027. Pertumbuhan awan pun sangat minim. Dampaknya akan mengakibatkan sejumlah kebakaran seperti yang telah terjadi di Kelurahan Sulamadaha, Kota Ternate, beberapa waktu lalu.
“Ini sudah pernah terjadi tahun 2015, termasuk pada 1998 kita merasakan. Kekeringan yang ektrem. El Nino di September ini sangat kuat dan tidak ada hujan di Maluku Utara,” katanya.
Menurutnya, di Maluku Utara sebagian besar mengalami kekeringan ektrem. Misalnya, di Pulau Hiri, sudah 108 tidak ada hujan, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Ia bilang, meskipun sejumlah wilayah di Maluku Utara telah dilakukan modifikasi cuaca sepanjang 5 sampai 12 September 2026, tapi hujan turun tidak merata. Tingkat keberhasilannya kurang dan pertumbuhan awan sangat kecil, termasuk intervensi OMC masih sulit.
Di tengah situasi tersebut, justru terjadi angin kencang dan memicu penyebaran api. Dan, asapnya menggangu aktivitas masyarakat.
“Jangan membuang puntung rokok dan membakar sampah sembarang. Kita khawatirkan api merembet ke pemukiman karena bisa mengancam keselamatan. Apalagi di Maluku Utara sering muncul titik api cukup tinggi di atas 80 persen,” katanya.
Samsuddin Abdul Kadir, Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Utara mengatakan, kemarau panjang menimbulkan berbagai problem seperti krisis air, terjadi kebakaran.
Tapi kini, kata dia, akan menuju perubahan cuaca dari kemarau panjang ke musim hujan. Menurutnya, kondisi ini berpotensi memicu bencana lainnya seperti banjir dan longsor. Karena itu, langkah mitigasi dan antisipasi harus segera dilakukan.
“Kita juga menyediakan sesuatu dengan baik, agar ketika terjadi hujan tidak terjadi apa yang kita tidak inginkan. Kita tetap waspada, sambil lakukan persiapan,” ucapnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.