Warga Desa Tolofuo, Kecamatan Loloda Selatan, Kabupaten Halmahera Barat, Maluku Utara, masih kesulitan memperoleh air bersih selama menjalani Ramadan 1447 Hijriah atau 2026 Masehi. Kondisi ini terjadi sejak banjir dan tanah longsor melanda desa tersebut pada 7 Januari 2026.

Sebelum bencana, desa itu memiliki empat bak penampungan air, terdiri dari dua bak besar berukuran sekitar 3×3 meter dan dua bak kecil. Namun, fasilitas tersebut kini tidak lagi berfungsi setelah rusak akibat banjir.

Farmin Abubakar, warga Desa Tolofuo, mengatakan pasokan listrik di desa mereka sudah kembali normal selama Ramadan. Namun, persoalan air bersih hingga kini belum mendapatkan penanganan jangka panjang dari pemerintah daerah.

“Saat ini hanya ada satu sumber air darurat menggunakan sumur bor. Warga harus antre untuk mengambil air,” kata Farmin kepada Kadera melalui pesan singkat pada Jumat, 6 Maret 2026.

Menurut dia, kondisi itu membuat warga kesulitan memenuhi kebutuhan air sehari-hari. Untuk mendapatkan air, warga harus mengambilnya menggunakan jeriken berkapasitas 25 liter, lalu membawanya ke rumah masing-masing.

“Saat ini torang ambil air pakai gelong 25 liter, baru dibawa ke rumah,” ujarnya.

Farmin menjelaskan, Pemerintah Provinsi Maluku Utara sebelumnya sempat memberikan bantuan berupa tiga hidran tangki atau reservoir berkapasitas 1.100 liter, generator set, serta air galon. Namun hingga kini belum ada tindak lanjut untuk memperbaiki bak penampungan utama yang rusak akibat banjir.

“Sampai sekarang pemerintah provinsi melalui PUPR atau balai belum menindaklanjuti pembuatan bak yang menjadi induk sumber air masyarakat,” kata dia.

Kepala Desa Tolofuo, Masbuk Djumadi, membenarkan bahwa persoalan air bersih masih menjadi kendala bagi warga pascabencana.

“Listrik sudah pulih, tapi air bersih masih ada kendala,” kata Masbuk.

Warga berharap Pemerintah Kabupaten Halmahera Barat dan Pemerintah Provinsi Maluku Utara segera memperbaiki bak penampungan air yang rusak agar pasokan air bersih kembali normal dan masyarakat tidak lagi kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari.