MEI dimulai dengan pertanyaan. Kita menambahi album ingatan Mei, yang dulunya menghimpun ingatan tentang buruh, pendidikan, sejarah, perbukuan, dan lain-lain. Mei perlahan sesak ingatan, yang kita boleh memilah agar tidak lelah dalam pemaknaan.
Yang bertanya adalah penguasa.
Jutaan orang mungkin tidak menduga pertanyaan itu disampaikan. Pertanyaan yang meminta jawaban bersifat pilihan: ya atau tidak. Detik-detik yang menegangkan dalam memastikan kebenaran politik. Di keramaian, pertanyaan itu memang mendapatkan jawaban.
Hari yang mengejutkan. Jawaban yang sebenarnya tidak dikehendaki. Peristiwa itu telanjur menjadi berita yang mendapatkan tanggapan-tanggapan mengandung malu, cibiran, kecewa, dan bingung. Mei dimulai dengan jawaban yang menguak keraguan atas kebijakan akbar oleh penguasa. Jawaban berupa satu kata menandai perdebatan makin membara. Jawaban itu “tidak”. Jawaban diberikan dalam urusan yang terduga sangat merepotkan Indonesia selama lima tahun. Indonesia yang bertema makan.
Kita yang mengaku sudah sangat letih memilih tidak ingin terjebak dalam kerumitan yang tercipta gara-gara makan. Apakah keharusan untuk setuju atau menolak? Kita diperbolehkan menjadi pengamat atau penonton yang patah hati? Yang teringat adalah pertanyaan dan jawaban, yang menjadikan Mei menjadi bulan mendebarkan dalam misi kekuasaan Prabowo Subianto.
Lantas, kita masih menyimak beragam pertanyaan dan seruan yang disampaikan Prabowo Subianto dalam pidato-pidato selama Mei. Ia menantikan jawaban-jawaban yang “membahagiakan” dan “memenangkan”.
Pertanyaan dalam kekuasaan membuat kita mudah marah dan menangis. Kita ganti saja masalah pertanyaan dalam urusan yang lain. Konon, keinginan MPR mencerdaskan Indonesia melalui loma cerdas cermat bermasalah dalam pemahaman atas pertanyaan dan jawaban. Gegeran tercipta lagi untuk menentukan jawaban yang diberikan itu salah atau benar. Juri mengatakan salah tapi jutaan orang menyatakan benar setelah menonton rekaman lomba.
Kita menyadari lomba itu isinya pertanyaan dan jawaban. Maka, kemenangan ditentukan jawaban-jawaban. Yang menjawab benar tapi disalahkan akhirnya kalah. Kita bertambah lelah memikirkan Indonesia dipicu pertanyaan dan jawaban.
Apakah kita memilih menyerah bila pertanyaan dan jawaban melulu berkaitan kekuasaan?
Kita mendingan masuk dalam sastra saja, tidak wajib sastra berbahasa Indonesia. Yang kita baca adalah sastra dari Amerika Latin, yang sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Buku kecil itu berjudul Kitab Pertanyaan (2016), yang berisi puisi-puisi gubahan Pablo Neruda. Sepuluh tahun yang lalu, buku itu terbit. Kini, kita membacanya kembali agar mengerti atau linglung memikirkan pertanyaan.
Yang kita baca adalah puisi. Namun, puisi-puisi yang ditulis Pablo Neruda wujudnya kalimat pertanyaan. Artinya, pembaca diminta menjadi pembuat jawaban. Yang menjawab tidak usah khawatir bila salah. Jawaban-jawaban tidak mendapatkan nilai, tidak ada kemenangan hanya untuk membaca puisi.
Kita memilih acak pertanyaan-pertanyaan yang dibuat Pablo Neruda saat berusia tua. Apakah yang tua memang keranjingan bertanya? Kita mengetahui tokoh-tokoh yang sudah tua di Indonesia suka mengajukan pertanyaan tapi bukan dalam bentuk puisi. Mereka sangat berbeda dengan Pablo Neruda yang mampu membuat pertanyaan-pertanyaan bermutu, yang tidak dipaksa sesuai dengan masalah sintaksis, politik, atau impian.
Yang ditulis Pablo Neruda: Benarkah singlet adalah/ persiapan untuk memberontak?// Mengapa musim semi tawarkan/ lagi baju kehijauannya?// Mengapa ladang pertanian tertawa/ kepada tangisan pucat langit?// Bagaimana sebuah sepeda rongsok/ menaklukkan kebebasannya. Yang tampak, Kitab Pertanyaan tidak mengadakan kolom jawaban.
Namun, para pembaca yang memegang pensil atau bolpoin boleh asal-asalan menjawab di samping atau bawah puisi. Yakinlah bahwa pertanyaan itu mustahil disampaikan penguasa dalam acara yang dihadiri ribuan orang. Pertanyaan itu bakal bikin pusing para peserta lomba cerdas cermat tingkat nasional atau internasional.
Orang yang rajin membaca puisi tidak bakal kaget bila bertemu pertanyaan. Yang ditulis Pablo Neruda itu keterlaluan: ratusan pertanyaan. Kita bandingkan dengan satu pertanyaan yang terdapat dalam puisi gubahan Joko Pinurbo berjudul “Cita-Cita”. Kita hanya menemukan satu pertanyaan tapi menghasilkan larik-larik yang menggemaskan. Jadi, pertanyaan itu seolah mendapat jawaban yang panjang.
Kita tidak tersiksa seperti saat berhadapan dengan puisi-puisi Pablo Neruda. Yang ditulis Joko Pinurbo sederhana. Artinya, kita gampang bila mau menjawabnya. Yang dicantumkan dalam puisi: Setelah punya rumah, apa cita-citamu?/ Kecil saja: ingin sampai rumah/ saat senja supaya saya dan senja sempat/ minum teh bersama di depan jendela.// Ah, cita-cita. Makin hari kesibukan/ makin bertumpuk, uang makin banyak/ maunya, jalanan macet, akhirnya/ pulang terlambat. Seperti turis lokal saja,/ singgah menginap di rumah sendiri/ buat sekedar melepas penat. Pertanyaan dan jawaban dalam puisi itu getir. Kita mengetahuinya terjadi di Indonesia.
Kita yang menemukan pertanyaan dalam puisi-puisi menemukan penasaran yang tidak sepenuhnya berhasil dimengerti. Pertanyaan dalam puisi itu “kenikmatan” sekaligus tantangan dalam perayaan imajinasi, yang tidak dituntut harus benar sesuai fakta. Kita menikmati pertanyaan-pertanyaan yang menjadikan puisi seolah mengajak pembacanya bercakap.
Kesan dan pengalaman yang sangat berbeda bila kita mendaftar ratusan pertanyaan dalam kekuasaan. Jawaban-jawaban yang diberikan bisa palsu. Jawaban yang sopan kadang malah tertutup kebenarannya. Jawaban yang lugas dapat memicu hukuman dan kecaman.
Mei mau berlalu. Kita menantikan Juni. Apakah mengabaikan pertanyaan-pertanyaan selama Mei membuat kita terhindar dari kutukan pertanyaan yang bakal berdatangan selama Juni? Di Indonesia, pertanyaan yang disampaikan penguasa atau para pejabat biasanya sederhana dalam struktur bahasa. Yang paling menyulitkan adalah jawaban, yang selalu berdampak dalam kepentingan politik dan hasrat keuntungan secara bisnis.
Kita yang menyimak pertanyaan dan jawaban sering geleng-geleng kepala. Kemauan masuk dalam puisi agar menemukan pertanyaan-pertanyaan unik tidak menjamin kita waras. Rampung membaca puisi, kita sudah disergap lagi pertanyaan-pertanyaan mengandung kemustahilan tapi tetap meminta jawaban.
*) Kabut merupakan nama pena dari seorang pengarsip, esais dan kritikus sastra Indonesia.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.