Halmahera Wildlife Photography (HWP) akan menggelar program Kemitraan Wallacea bertajuk “Konservasi Endemik Berbasis Tapak: Aksi Komunitas di Takome, Kota Ternate.”

Program yang berlangsung selama beberapa bulan ke depan ini bertujuan memperkuat upaya pelestarian keanekaragaman hayati di kawasan Takome yang kini menghadapi ancaman serius, terutama akibat perburuan satwa endemik.

Dewi Ayu Anindita, Ketua Halmahera Wildlife Photography (HWP), mengatakan program tersebut mengusung pendekatan community-based conservation yang dipadukan dengan pendekatan sosial-ekonomi dan transdisipliner. Melalui konsep ini, HWP akan memperkuat peran masyarakat lokal sekaligus melibatkan pelajar sebagai agen perubahan dalam menjaga kelestarian lingkungan.

“Kelurahan Takome, Kecamatan Ternate Barat, dipilih sebagai lokasi program karena merupakan representasi utama keunikan Kota Ternate,” kata Dewi kepada Kadera.id, Selasa, 23 Juni 2026.

Menurutnya, secara biogeografis Takome merupakan bagian dari kawasan Wallacea yang memiliki keanekaragaman hayati tinggi, tetapi kini menghadapi berbagai ancaman. Mulai dari maraknya perburuan satwa liar, alih fungsi lahan menjadi permukiman, pembangunan yang tidak ramah lingkungan, hingga pengelolaan sampah yang belum optimal.

“Berbagai ancaman itu membahayakan keberlangsungan keanekaragaman hayati di kawasan tersebut,” ujarnya.

Melalui program ini, HWP akan membentuk komunitas konservasi lintas desa yang aktif dan memiliki legalitas, mengintegrasikan pendidikan lingkungan, serta mendorong kampanye publik dan advokasi kebijakan untuk mendukung perlindungan kawasan Wallacea.

Dewi berharap program tersebut mampu menghasilkan modul pendidikan lingkungan yang komprehensif, memperkuat kolaborasi multipihak, serta menciptakan model konservasi berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

Selain itu, HWP menargetkan penurunan angka perburuan satwa liar, khususnya kuskus mata biru (Phalanger matabiru), hingga 50 persen pada tahun pertama pelaksanaan program.

Target itu berangkat dari masih tingginya kasus perburuan satwa endemik. Pada 29 Desember 2025, misalnya, sebanyak 18 ekor kuskus mata biru dan satu ekor soa-soa layar berhasil diselamatkan setelah disita oleh warga bersama Komunitas Pulo Tereba dari tangan empat terduga pemburu di kawasan Tolire Besar, Kelurahan Takome, Kecamatan Pulau Ternate.

“Dengan melibatkan masyarakat dan generasi muda di tingkat tapak, program ini diharapkan dapat berkontribusi menciptakan model konservasi yang berkelanjutan,” tutupnya.