Dinas Kesehatan Kota Ternate mencatat sebanyak 47 kasus baru HIV/AIDS selama periode Januari hingga Juni 2026. Dari jumlah tersebut, hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan, baik heteroseksual maupun homoseksual, menjadi dominasi penyebab penyakit itu.
Fathiyah Suma, Kepala Dinas Kesehatan Kota Ternate, mengatakan jumlah kasus baru HIV/AIDS di Ternate menunjukkan tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
“Angka tersebut mengalami penurunan. Pada tahun 2024 tercatat 202 kasus baru, sedangkan pada tahun 2025 sebanyak 171 kasus baru HIV/AIDS,” ujar Fathiyah, Rabu, 17 Juni 2026.
Menurutnya, berbagai upaya pencegahan dan pengendalian HIV/AIDS terus dilakukan oleh Dinas Kesehatan bersama sejumlah mitra, di antaranya Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Kota Ternate, Yayasan Batamang Plus, Yayasan Pelangi Maluku, PKBI Sulawesi Utara, serta PMI Kota Ternate.
Salah satu langkah yang rutin dilakukan adalah Mobile Voluntary Counseling and Testing (Mobile VCT) atau layanan konseling dan tes HIV bergerak untuk menjangkau kelompok-kelompok berisiko di masyarakat.
Selain itu, Dinkes juga melakukan pendampingan dan penjangkauan terhadap Orang dengan HIV (ODHIV) yang putus pengobatan atau Loss to Follow Up (LTFU), memberikan sosialisasi dan edukasi di sekolah maupun lingkungan masyarakat, serta melakukan pemeriksaan viral load bagi ODHIV.
Fathiyah menjelaskan, pencegahan HIV/AIDS dapat dilakukan dengan menghindari berbagai faktor risiko penularan. Masyarakat diimbau untuk tidak melakukan hubungan seksual berisiko dengan berganti-ganti pasangan, tidak menggunakan jarum suntik secara bergantian, baik pada pengguna narkotika maupun penggunaan alat yang tidak steril.
Selain itu, ia mengingatkan pentingnya memastikan setiap transfusi darah telah melalui proses skrining sesuai standar kesehatan. Penularan HIV dari ibu ke bayi juga dapat terjadi selama masa kehamilan, persalinan, maupun menyusui apabila tidak disertai pengobatan dan pendampingan yang memadai.
“Dengan deteksi dini, pengobatan yang teratur, serta dukungan dari keluarga dan masyarakat, HIV dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup ODHIV tetap baik dan penularan baru dapat dicegah,” katanya.
Fathiyah juga mengimbau masyarakat untuk tidak memberikan stigma maupun diskriminasi terhadap ODHIV. Menurutnya, dukungan sosial sangat penting dalam membantu penderita menjalani pengobatan dan mempertahankan kualitas hidup yang baik.
Ia juga mengajak masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup sehat, menghindari perilaku berisiko, serta melakukan tes HIV sejak dini, terutama bagi kelompok yang memiliki faktor risiko penularan.
“Jangan memberikan stigma dan diskriminasi kepada ODHIV. Dukungan dari lingkungan sekitar sangat dibutuhkan agar mereka dapat menjalani pengobatan dengan baik dan tetap produktif,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan
Anda harus masuk untuk berkomentar.