Kebakaran hutan melanda kawasan Desa Salati dan Desa Nggele, Kecamatan Taliabu Barat Laut, Kabupaten Pulau Taliabu, Maluku Utara. Kobaran api bahkan merambat hingga ke sejumlah kebun cengkeh milik warga dan menghanguskan tanaman yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

Informasi yang dihimpun Kadera.id, Rabu, 7 Oktober 2026, kebakaran mulai terjadi pada Senin malam, 5 Oktober 2026. Api dengan cepat menjalar ke area perkebunan warga di tengah kondisi musim kemarau yang membuat kawasan tersebut kering dan rentan terbakar.

Warga setempat menyebut kebakaran kali ini cukup parah. Kobaran api diperkirakan mengancam ratusan hektare lahan perkebunan masyarakat. Kondisi medan yang terjal dan sulit dijangkau juga membuat upaya pemadaman menghadapi kendala.

Warga bersama pihak terkait telah berupaya memadamkan api. Namun, akses menuju lokasi kebakaran yang sulit membuat proses pemadaman tidak berjalan mudah. Hingga Rabu, api dilaporkan masih menyala di sejumlah titik.

Kebun cengkeh yang terdampak merupakan salah satu sumber ekonomi utama masyarakat di kawasan tersebut. Kebakaran itu pun dikhawatirkan menimbulkan kerugian bagi warga, terutama jika api terus meluas dan menghanguskan lebih banyak tanaman produktif.

Penyebab pasti kebakaran hingga kini belum diketahui. Namun, warga menduga kondisi cuaca yang sangat kering selama musim kemarau menjadi salah satu faktor yang mempercepat meluasnya api.

Yosar Kardiat, Sekretaris Daerah Kabupaten Pulau Taliabu, mengatakan pemerintah daerah terus melakukan penanganan terhadap perkembangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah tersebut.

“Pemda serius menangani perkembangan karhutla di Taliabu. BPBD bersama Perangkat Daerah, pemerintah kecamatan/desa dan TNI/Polri terus melakukan koordinasi serta upaya pemadaman dan pencegahan meluasnya api,” ujar Yosar saat dihubungi Kadera.id.

Terkait status tanggap darurat bencana karhutla, Yosar mengatakan pemerintah daerah masih menunggu hasil kaji cepat yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Hal itu menjadi dasar bagi Pemda untuk menentukan langkah selanjutnya.

Sebelumnya, informasi yang diperoleh awak media menyebut kebakaran hutan dan lahan telah terjadi di tiga kecamatan, yakni Kecamatan Taliabu Barat Laut, Lede, dan Taliabu Utara.

“Untuk status tanggap darurat, Pemda menunggu dan menjadikan hasil kaji cepat BPBD sebagai dasar keputusan. Jika indikator kedaruratan terpenuhi, tentu akan segera ditindaklanjuti sesuai ketentuan. Prioritas kami keselamatan masyarakat dan pengendalian karhutla,” tandasnya.

Selain melakukan penanganan terhadap titik kebakaran, Pemerintah Kabupaten Pulau Taliabu juga menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat terdampak. Bantuan tersebut berupa bahan pangan serta perlengkapan medis, seperti masker dan salep mata.

Bantuan disalurkan ke sejumlah titik posko darurat dan dapur umum. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pasokan untuk kebutuhan dapur umum di lokasi yang terdampak karhutla.